Saturday, January 24, 2026

Empat Serangkai Tumpas Tumor Payudara

Rekomendasi
- Advertisement -

Berkat mengkonsumsi kapsul sambiloto, temu putih, umbi dewa, dan teh cangkang mahkota dewa tonjolan itu hilang.

Mandi pagi di penghujung O k t o b e r 2 0 0 2 i t u membuahkan kegundahan buat Lely Hoslinda. Saat membasuh tubuh, tanpa sengaja teraba kehadiran benjolan di payudara sebelah kiri. Berbagai pikiran buruk langsung melintas di benaknya. Orang bilang kalau ada benjolan di payudara, mungkin itu kanker, batinnya.

Namun, ibu 5 anak itu tetap berusaha tenang. Sebelumnya ia tidak pernah merasakan keluhan apa pun. “Kadangkadang memang terasa nyut-nyut dan panas setelah makan pedas, tapi saya tidak curiga kalau itu gejala kanker,” kata Lely. Maklum tidak ada sejarah kanker di keluarga besarnya. Selama ini ia juga menjaga hidup sehat.

Benjolan 3,5 cm

Untuk menuntaskan rasa penasaran, ia lantas menyambangi dokter umum di klinik perusahaan tempat sang suami dulu bekerja. Dari sana istri Suprijanto itu lantas dirujuk untuk berobat pada dokter bedah. Hasil pemeriksaan di RS Husada, Jakarta Barat, ada benjolan berdiameter 3,5 cm bersemayam di payudara kiri. Menurut dokter tonjolan itu tumor.

Meski sudah menduga sebelumnya, ia tetap kaget dan tidak percaya. Lely pun tergugu menangis di depan dokter. “Saya takut karena menurut cerita orangorang benjolan itu bisa jadi kanker yang mematikan,” ujarnya. Suasana hati kian kalut lantaran paramedis itu langsung menyarankan untuk mengambil tindakan operasi segera. Tujuannya agar benjolan tak telanjur membesar dan menyebar sehingga tindakan operasi kian sulit. Padahal buat Lely, kata operasi jadi momok tersendiri. Seorang kenalan suami menderita kanker getah bening. Setelah dilakukan tindakan pengangkatan, 4 bulan kemudian ternyata kanker muncul lagi.

Setiba di rumah, hasil pemeriksaan dokter langsung dikabarkan pada sang suami . Suprijanto mendukung tindakan Lely untuk tidak terburu-buru memutuskan operasi. Alasannya serupa, operasi belum tentu menuntaskan permasalahan, lagipula biaya yang dibutuhkan banyak.

Bedol bendungan

Kebetulan pria pensiunan Pertamina itu gemar membaca. Ia ingat pernah melihat artikel tentang pengobatan kanker dengan obat tradisional di sebuah majalah. Dimulailah perburuan media cetak yang memuat informasi itu.

Dari sebuah buku Suprijanto mengenal Klinik Mahkota Dewa milik Ning Harmanto. Di buku itu beberapa kasus kanker sembuh dengan ramuan tradisional. “Kalau orang lain bisa sembuh, mudahmudahan saya juga,” ujar Lely. Berbekal informasi itu pasangan suami istri yang menikah pada 1984 itu menyambangi salah satu cabang Klinik Mahkota Dewa.

Lely dibekali sejumlah obat untuk dihabiskan selama 10 hari. Paket pengobatan kanker payudara itu terdiri dari kapsul sambiloto, umbi dewa, dan temu putih, serta rajangan cangkang mahkota dewa dan instan temu putih. Seluruh kapsul diminum bersamaan 3 kali sehari. Instan temu putih diseduh dengan air hangat menjadi minuman harian. Pun irisan cangkang mahkota dewa yang direbus dengan 3 gelas air hingga menyisakan 1,5 gelas.

Keempat herbal itu memang lazim dipakai dalam pengobatan kanker. Sambiloto berfungsi meningkatkan kekebalan tubuh dan menghambat perkembangan sel kanker. Umbi dewa memperlancar peredaran darah. Dalam pengobatan tradisional, tumor atau kanker terjadi karena ada penyumbatan darah. Karena darah terbendung muncullah pembengkakan. Makanya dibutuhkan obat pelancar peredaran darah.

Temu putih bersifat memperkuat kerja obat-obatan lain dalam mematikan sel kanker. Ia mampu memblokir, menonaktifkan, dan meluruhkan sel kanker tanpa merusak jaringan lain. Sementara mahkota dewa dianggap sebagai obat banyak penyakit. Pada kasus kanker ia menghambat pertumbuhan sel tak terkendali itu.

10 hari

Meski pahit dan jumlahnya banyak toh semua obat ditelan. “Namanya juga ingin sembuh, semua dimakan saja,” ujar perempuan kelahiran Jakarta 45 tahun silam itu. Ia juga diminta berpantang makanan pedas, sawi putih, kecambah, kangkung, nangka, nanas, minuman beralkohol dan dingin, serta makanan berbahan pengawet. Upaya penyembuhan itu tentu saja dibarengi dengan sikap tawakal. Berharap kemurahan Allah SWT agar semua yang semula baik, kembali baik.

Sepuluh hari berselang, banyak perubahan yang dirasakan. Rasa panas dan nyut-nyutan berangsur hilang. Mestinya Lely berobat balik ke klinik tapi itu tidak dilakukan. Suprijanto kebetulan gemar bercocok tanam. Bahan baku paket pengobatan kanker itu ternyata semua ada di kebunnya. Daripada mengeluarkan biaya untuk berobat ke klinik, ia memutuskan meracik sendiri obat untuk sang istri.

Hari-hari berikutnya, Lely terus mengkonsumsi obat-obatan itu. Selain obat oral, perempuan yang pernah bekerja di perusahaan kontruksi itu mengompres benjolan. Daun dewa dan mahkota dewa ditumbuk halus. Kemudian diberi jeruk nipis. Ramuan itu untuk meredakan rasa panas di payudara dan mempercepat pengecilan tonjolan.

Bebas tumor

Ternyata benar, benjolan kian mengecil hingga akhirnya tak teraba lagi. Semula itu diduga sekadar sugesti. Untuk meyakinkan Lely memeriksakan diri ke beberapa dokter. Semuanya menyatakan sudah tak ada lagi benjolan di payudara. Itu diperkuat dengan hasil mammografi pada September 2003 di RS Siloam Geneagles. Tumor dinyatakan hilang. Itu jelas merupakan berita menggembirakan buat seluruh keluarga.

Meski sudah dinyatakan bebas tumor, perempuan berperawakan mungil itutetap melanjutkan konsumsi obat-obatan. Dosisnya memang dikurangi, paling banyak 2 kali sehari. Pantangan pun sedapat mungkin dipatuhi. Itu sekadar untuk berjaga-jaga. Maklum banyak terjadi kasus pasien “sembuh”, tapi di kemudian hari tumor muncul lagi. (Evy Syariefa)

Mati Beku

Benjolan tak lazim di tubuh memang sepatutnya diwaspadai. Menurut Dr Willie Japaries, MARS, segala jenis benjolan bisa dikatakan tumor. Tumor biasanya menetap di satu lokasi, kalaupun menyebar prosesnya perlahan. “Tapi ada tumor yang jinak dan ganas. Kalau sudah ganas, itu berpotensi menjadi kanker,” tutur alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.

Pada kasus benjolan di payudara, bila sudah menyebar ke ketiak perlu dicurigai ganas. Apalagi bila keluar darah dari puting. Deteksi awal oleh dokter bisa dengan rabaan dan USG. Namun, pemeriksaan paling sahih dengan mengambil jaringan alias pasien dibiopsi.

Bila tumor atau kanker sudah terdeteksi sejak awal, dokter biasanya langsung menyarankan operasi. “Kalau stadium sudah lanjut, pembedahan malah tidak dianjurkan karena kanker sudah menyebar sehingga risiko semakin besar,” kata Willie. Namun, tak dipungkiri banyak pasien telanjur fobia dengan tindakan medis itu.

Padahal pasien bisa meminta tindakan krio ablasi. Itu merupakan bedah tanpa pisau. Pada bagian yang sakit ditusukkan semacam selang. Lalu ke dalamnya dialirkan gas argon bersuhu –100oC. Jaringan tumor dibuat mati dengan pembekuan. Wilayah pengobatan “bedah” itu bisa lebih luas. Hanya saja biaya relatif tinggi. (Evy Syariefa)

 

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img