Monday, November 28, 2022

Fantastis, Produksi Keriting Naik 250%

Rekomendasi

 

Agus Yana pantas senang bukan kepalang. Ketika para pekebun lain gagal panen – produksi hanya 20% dari normal – ia justru memperoleh hasil berlipat-lipat. ‘Semula saya hanya menargetkan 0,5 kg per tanaman. Tapi saya naikkan target menjadi 2 – 3 kg per tanaman hingga panen ke-30,’ kata pekebun di Tapalkuda, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat.

Target itu berdasar kondisi tanaman yang terus memunculkan bunga dan pentil. Hingga panen ke-12 sudah dipetik 300 – 340 buah per tanaman. Masing-masing berbobot 5 g/buah atau sekilo isi 200 buah. Dengan jumlah buah hijau setara jumlah yang sudah dipanen, ia masih akan mendulang 1 – 1,5 kg lagi hingga panen ke-30. Padahal, itu kali pertama Agus Yana menanam cabai. Ia menanam masing-masing 18.000 tanaman, 20.000 tanaman, dan 22.000 tanaman per ha di luas total 4 ha. Jebolan Teknik Fisika, Institut Teknologi Bandung itu memanfaatkan lahan di antara tanaman jambu biji merah yang ditanam dengan jarak 4 m x 4 m.

Pupuk berkatalis

Bekal Agus Yana mengebunkan cabai keriting hanya berupa pengalaman menanam cabai rawit 2 tahun silam. Ketika itu tanaman cabai rawit seluas 2 hektar rusak diserang patek alias antraknosa. Penyemprotan dengan berbagai fungisida tidak membuahkan hasil. Beruntung, di tengah kegalauan ia bertemu dengan Koes Hendarto, dosen dari Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Bandarlampung.

Koes menyarankan untuk memberikan pupuk mengandung katalis. Pupuk itu selain mengandung unsur makro dan mikro, juga dilengkapi unsur katalisator. Prof Iswandi Anas Chaniago, guru besar Bioteknologi Tanah, Institut Pertanian Bogor, menduga katalis yang dimaksud adalah bio stimulan yang bisa merangsang pertumbuhan akar, bulu-bulu akar, mempercepat proses fisiologi tanaman, dan mendukung perkembangbiakan mikroba. ‘Katalis dalam arti sebenarnya adalah suatu senyawa yang mempercepat reaksi kimia, sementara senyawa itu sendiri tidak ikut bereaksi,’ kata Iswandi.

Yang jelas menurut Koes pupuk berkatalis itu bersifat basa, sehingga ketika diaplikasikan dapat meningkatkan pH tanah di sekitar perakaran. Apa pun ‘isinya’ pupuk itu dalam hitungan minggu pascaaplikasi dapat memperbaiki kondisi tanaman cabai rawit yang rusak. Tunas bermunculan dan buah pentil sehat.

Atas pengalaman itulah Agus Yana mengaplikasikan pupuk itu pada cabai keriting. Pupuk katalis diberikan seminggu sekali sejak tanaman di persemaian hingga bibit siap tanam pada umur 20 hari. Dengan dosis 1 g/liter air, pupuk disemprotkan ke seluruh bagian tanaman. Lalu 2 hari sebelum bibit ditanam, pupuk katalis juga dikocorkan pada setiap lubang tanam sebanyak 250 cc supaya meresap ke dalam tanah. Dosisnya 2,5 g pupuk dilarutkan dalam seliter air.

Pemberian pupuk berkatalis berikutnya setiap 2 minggu setelah tanaman berumur 45 hari dengan dosis 3 g/liter air. Selain dikocorkan ke lubang di antara tanaman, setiap minggu pupuk katalis dengan dosis 1 g per liter air disemprotkan ke tanaman.

Hama minggat

Pupuk katalis hanya sebagai pelengkap. Oleh karena itu Agus Yana tetap memberikan pupuk kandang dan NPK. Ketika pengolahan lahan ia menaburkan 60 ton/ha pupuk kandang berupa kotoran ayam. Memasuki umur remaja, 45 hari, hingga tanaman berproduksi, bersama dengan pupuk katalis dikocorkan NPK 16:16:16 yang sudah dilarutkan. Jatah NPK setiap tanaman 5 g. Itu saja belum cukup, Agus menambahkan pupuk KNO3 sebanyak 2 g per tanaman setelah panen pertama. Tujuannya agar buah tidak rontok dan bernas.

Meski ada tambahan pupuk katalis, biaya produksi yang dikeluarkan Agus Yana lebih murah. Penyedia bibit nilam itu hanya menghabiskan Rp2.500 – Rp3.000 per tanaman alias Rp55-juta/hektar dengan populasi 22.000. Oleh karena itu ia tidak muluk-muluk, ‘Dengan harga jual cabai Rp6.000 per kg saja, saya dapat untung,’ kata Agus Yana. Pekebun lain di Cipanas rata-rata menghabiskan Rp50-juta – Rp60-juta/ha untuk populasi 16.000 batang atau Rp3.125 – Rp3.725 per tanaman.

Agus Yana bisa berhemat lantaran dari sejak tanam hingga panen tidak pernah menyemprotkan insektisida. Kondisi tanah yang basa menyebabkan lingkungan mikro di sekitar tanaman berubah basa karena uap dari hasil evaporasi. Akibatnya, hama seperti trips, musuh utama petani cabai, tidak betah tinggal di situ. ‘Trips dan kebanyakan hama cabai menghendaki lingkungan asam,’ kata Koes.

Begitu juga penyakit yang disebabkan bakteri dan virus, tidak mampu menembus jaringan tanaman yang kondisinya sehat. Karena itu pula setiap hari dari 4 hektar lahan yang dipanen secara bergiliran Agus Yana bisa menjual 500-600 kg cabai keriting dengan harga Rp32.000 – Rp38.000 per kg. (Karjono)

 

 

 

Koes Hendarto, tidak ada serangan ulat dan hama lain karena lingkungan basa

Agus Yana berjaya di saat pekebun cabai lain gagal panen

Sudah panen 12 kali, tanaman masih disarati buah

Foto-foto: Karjono

Previous articlePanen dari Pekarangan
Next articleNyi Pohaci 100 Tahun
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img