Wednesday, August 10, 2022

Garansi Organik yang Murah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Diskusi penetapan harga jual antara petani dan konsumen organik.

Tak selamanya petani organik harus memperoleh sertifikat organik. Jika pasar yang dituju domestik, ada cara lain yang murah dan mudah.

“Kok rasanya seperti ada rasa besinya,” kata Bibong Widyarti Djaprie menirukan perkataan anaknya yang tengah mengonsumsi wortel. Sejak itu perempuan yang berdomisili di Kota Depok, Jawa Barat, itu pun mencari pangan hasil budidaya organik karena tidak ingin anaknya terkontaminasi pestisida. Kebetulan Bibong dan suami membudidayakan ikan mas di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada 1997.

Penjaminan Pamor produk kopi organik D’Pinagar Sidikalang

Alumnus Akuakultur Institut Pertanian Bogor (IPB) itu pun rutin mengontrol ke sana setiap pekan. Sepulang dari Cianjur ia mampir ke kebun organik Bina Sarana Bhakti di Cisarua, Kabupaten Bogor, untuk membeli sayuran. Sejak saat itu ia dan keluarga rutin mengonsumsi produk organik hingga kini. Menurut Bibong di pasaran produk organik masih terbatas.

Namun, itu bukan hambatan bagi Bibong untuk konsisten mengonsumsi pangan organik. Sebaliknya ia menilai, cita rasa dan kesegaran produk organik lebih tinggi dibandingkan dengan produk konvensional. “Sayuran organik pun lebih sehat karena bebas pestisida sintetik,” kata Founder Rumah Organik itu. Jadi, meski harga sayuran organik lebih tinggi dibandingkan dengan produk konvensional, Bibong pun tidak keberatan.

Metode penjaminan

Sejatinya konsumen seperti Bibong merupakan unsur penting dalam keberlanjutan petani organik. Konsumen rela membayar dengan harga tinggi jika kualitas dan produk yang dihasilkan terjamin organik. Sementara petani berhak mendapatkan harga yang layak dengan syarat jujur dengan produk yang dihasilkannya. Dengan begitu akan ada perdagangan yang adil karena adanya keterbukaan.

Dalam proses penjaminan produk organik ada tiga metode yang berkembang saat ini, yaitu deklarasi diri, sistem penjaminan partisipatif atau Participatory Guarantee System (PGS), dan penjaminan oleh pihak ketiga. “Self declare (deklarasi diri, red) adalah klaim organik yang dikeluarkan oleh satu orang petani,” kata Presiden International Faderation of Organic Agriculture Movements (IFOAM) Asia Zhou Zejiang.

Kopi, salah satu komoditas yang dibudidayakan secara organik.

Sistem penjaminan partisipatif adalah metode penjaminan alternatif (partisipatif) yang dikembangkan untuk petani skala kecil dan pasar lokal. Sementara penjaminan dari pihak ketiga biasanya dilakukan secara profesional oleh lembaga sertifikasi organik (LSO). Menurut Zhou Zejiang jaminan atau sertifikasi itu adalah untuk pasar atau konsumen. Namun, dalam prosesnya, sertifikasi dari pihak ketiga itu memiliki banyak tantangan.

Penjaminan Pamor produk beras organik.

“Biaya yang tinggi, berkas yang banyak, fokusnya pada perdagangan bukan pada petani, dan setiap negara memiliki standar sendiri,” ujarnya. Zhou Zejiang juga menambahkan kalau sertifikasi organik diperlukan untuk pasar ekspor. “Tentu untuk pasar lokal juga diperlukan sistem garansi untuk produk organik. PGS merupakan sistem garansi yang tepat untuk pasar lokal,” kata duta Asian Local Government for Organic Agriculture (ALGOA) itu.

Sistem penjaminan partisipatif memberikan jaminan organik yang kredibel kepada konsumen yang mencari produk organik, biayanya pun yang masuk akal bagi petani. Manajer unit Penjaminan Mutu Organik Indonesia (Pamor) Pacet, Maya Stolastika, mengatakan biaya pengurusan sertifikasi oleh pihak ketiga bisa mencapai Rp10 juta per tahun, sedangkan sertifikasi PGS hanya Rp500.000-Rp1 juta per tahun. Saat ini PGS berkembang di lebih dari 70 negara di 5 benua.

Contohnya PGS Teikei di Jepang dan Hansalim di Korea Selatan. Di Indonesia, Aliansi Organis Indonesia (AOI) sebagai jaringan petani organik pun menginisiasi PGS bernama Pamor Indonesia (Penjaminan Mutu Organik Indonesia) dan terdaftar serta masuk dalam payung IFOAM.

Partisipatif

Maya menuturkan, “Pamor merupakan penjaminan berbasis komunitas dengan standar organik yang disarikan dan mengacu pada Standard Nasional Indonesia (SNI) tentang Sistem Pertanian Organik.” Selain itu Pamor juga memperhatikan standar organik AOI.

Bibong Widyarti rutin konsumsi pangan organik sejak 1997.

PGS memiliki beberapa pemangku kepentingan, yaitu sekelompok petani, konsumen, dan pendamping. “Pendamping bisa dari kalangan LSM, konsultan, penyuluh pertanian, dan pedagang,” kata Maya. Secara rutin perwakilan setiap kelompok anggota PGS ini mengadakan pertemuan untuk mendiskusikan tentang penetapan harga, teknik budidaya, dan standar penilaian. Dengan begitu keputusan adalah keputusan bersama.

Tim penilai yang terdiri atas pendamping, konsumen, dan petani menilai lahan dan cara budidaya para petani. Jadi, petani menilai petani lainnya yang berlokasi berdekatan berdasarkan wawasan standar yang mereka ketahui. Contoh, petani anggota Pamor Pacet akan menilai budidaya yang dilakukan petani anggota Pamor Mojokerto. Begitu juga sebaliknya sehingga ada saling kontrol.

Zhou Zejiang menuturkan bahwa elemen dasar PGS adalah adanya visi bersama, partisipasi, transparan, proses belajar, kesamaan derajat, dan yang paling penting adalah kepercayaan. Dengan adanya kepercayaan, konsumen pun tidak akan ragu membeli produk organik meski harganya lebih mahal seperti yang Bibong lakukan. (Rosy Nur Apriyanti)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img