Pandemi membawa berkah bagi herbal Indonesia. Masa depan produk herbal sangat cerah.
Herbal menjadi jawaban untuk mengatasi pandemi virus korona atau Covid-19. Konsumsi rutin gingerol, kurkumin, xantorizol, bahkan vitamin C efektif membentengi seseorang dari paparan virus. Tentu semua orang tetap harus memedulikan protokol kesehatan karena kondisi tubuh manusia tidak senantiasa 100%. Kelelahan, kurang istirahat, stres, terlambat makan, atau berbagai gangguan lain menurunkan produksi hormon endorfin. Tanpa menjaga jarak atau mengenakan masker, kita terus menerus terpapar virus. Begitu daya tahan turun, virus menyerang.

Kebiasaan mengonsumsi herbal bermanfaat setelah virus menyerang. Zat aktif herbal dalam tubuh menghambat perbanyakan virus sehingga tingkat keterjangkitan penyakit rendah. Pascaserangan virus, pemulihan orang yang terbiasa mengonsumsi herbal pun lebih cepat. Istilahnya sakitnya ringan dan sembuhnya cepat.
Peningkatan fantastis
Kewaspadaan dan kepatuhan protokol merupakan bagian dari ikhtiar. Keyakinan kita pun mestinya bukan disandarkan kepada herbal, melainkan kepada Tuhan. Keyakinan itu memberikan sugesti dan energi positif luar biasa yang menghambat penyebaran penyakit dalam tubuh sekaligus mempersingkat masa pemulihan. Pelaku industri herbal pun semestinya memiliki keyakinan seperti itu. Produk mereka bukan semata-mata untuk mencari uang, tapi untuk menyebarkan manfaat. Dengan keyakinan itu, niscaya skala usaha meningkat.
Terjadinya pandemi meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk herbal asli Indonesia. Apalagi secara historis masyarakat kita mempunyai tradisi mengonsumsi herbal sebagai solusi murah dan efektif mencegah sekaligus menyembuhkan penyakit. Sebelum pandemi, volume perniagaan herbal tahunan di Indonesia sekitar Rp20 triliun. Setiap tahun angkanya meningkat sekitar Rp1 triliun. Pandemi memperbesar peningkatannya minimal dua kali lipat. Hal serupa pun terjadi di mancanegara.
Kita tahu betapa gencarnya negara-negara Mediterania memperkenalkan herbal asli mereka seperti oregano, mint, basil, atau rosmari. Kawasan Timur Tengah pun bangga dengan produk habatus sauda mereka. Korea yang ukurannya sekecil itu saja membawa ginseng mereka mendunia. Sekarang tengok pekarangan kita sendiri. Temulawak, kunyit, lengkuas, jahe, serai, cengkih, kayu manis, dan sangat banyak yang lain.
Kelebihan lain herbal Nusantara adalah semuanya halal. Jangan salah, industri herbal mancanegara mengenal beberapa komoditas yang tidak halal sama sekali. Sebut saja tangkur buaya, buah zakar harimau, atau empedu beruang. Sebaliknya herbal asli Indonesia halal dengan efek sama hebatnya.

Wajar saja kalau pemerintah Indonesia mendorong Badan nUsaha Milik Negara (BUMN) untuk mengembangkan herbal. Pasarnya di Indonesia saja, dengan 260 juta penduduk, luar biasa. Pandemi menjadikan omzet salah satu industri herbal kelas UMKM di Jawa Tengah meningkat 100 kali lipat. Dengan kata lain terjadi peningkatan 10.000%. Hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya.
Konsumen cerdas
Peningkatan itu terjadi di mana-mana. Buka aplikasi lokapasar (marketplace) di ponsel pintar lalu ketik kata kunci komoditas herbal tertentu. Muncul puluhan bahkan ratusan penjual atau produsen yang menawarkan berbagai produk berbasis komoditas itu. Salah satu pemicunya adalah harga yang sangat terjangkau. Sayang, banyak orang kurang paham cara aman konsumsi herbal. Dalam jangka panjang, ketidak tahuan itu berisiko kerusakan organ.

Nenek moyang kita membedakan herbal untuk obat dan herbal untuk pangan. Daun kelor, katuk, atau bayam merupakan makanan yang lazim kita konsumsi. Maka kalau bahan-bahan itu dibuat simplisia lalu dikemas dalam kapsul, konsumsi kapsulnya aman. Hal sama juga berlaku untuk herbal pangan lain. Kapsul seledri atau brokoli aman untuk dikonsumsi seumur hidup, karena setiap hari kita konsumsi bahan-bahan itu pun aman. Khusus untuk herbal obat, perlakuannya lain. Leluhur kita tidak mengajarkan memakan temulawak, daun salam, atau serai.
Mereka selalu mengambil sarinya, baik itu dengan cara memarut, melumat, atau merebus lalu mengonsumsi airnya. Kita pun tidak pernah memakan kayumanis atau kulit manggis. Itu sebabnya jangan konsumsi kapsul berisi biomas atau simplisia herbal-herbal itu. Memang dalam jangka pendek khasiatnya terasa sangat bermanfaat. Tapi 5—20 tahun mendatang, orang yang rutin mengonsumsinya berisiko tinggi menderita kerusakan bahkan kegagalan organ, terutama ginjal, usus, atau liver.
Bagi produsen, kapsulasi bahan-bahan herbal itu sangat menguntungkan. Sekilogram temulawak kering bisa menjadi puluhan kapsul, apalagi kalau produsen menambahkan bahan lain seperti tapioka atau terigu. Cara yang benar dan aman adalah membuat ekstrak, baik ekstrak air maupun pelarut lain, menepungkan ekstrak itu, lalu mengapsulkannya. Tentu saja harganya menjadi lebih mahal karena hasilnya jauh lebih sedikit. Metode lain, membuat herbal dalam bentuk minuman siap konsumsi.
Harga minuman herbal siap konsumsi pun tidak mungkin semurah kapsul biomas, apalagi ada komponen biaya lain seperti botol. Jika memilih kapsul biomassa herbal karena pertimbangan harga, masyarakat bisa bersikap cerdas. Buka kapsulnya, larutkan dalam air lalu didihkan atau masukkan langsung dalam air panas. Minum setelah dingin atau hangat suam kuku, tinggalkan ampas yang mengendap di dasar gelas. Dengan demikian manfaat herbal bisa diperoleh tanpa bayangan risiko kerusakan organ. (Ahmad Budiharjo, direktur PT Synthesa Herba, produsen herbal di Kota Salatiga, Jawa Tengah)
