Saturday, May 18, 2024

Gayam : Sumber Pangan Multikhasiat yang Terancam Punah

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Daerah Istimewa Yogyakarta menobatkan gayam sebagai tanaman kebanggaan. Sayang, kini gayam Inocarpus fagifer sin. I. edulis salah satu tanaman terancam punah.

Padahal gayam yang diucapkan gayem atau singkatan gawe ayem, artinya membikin tenteram, itu memiliki ragam manfaat dari sumber pangan hingga tanaman hias.

Tanaman anggota famili Fabaceae itu asli Asia Tenggara. Tumbuh baik di pulau-pulau Pasifik. Dalam bahasa Inggris disebut polynesian chestnut atau kenari polinesia. Ada pula yang menyebut tahitian chesnut.

Kini pohon gayam banyak dijadikan tanaman hias untuk penginapan dan hotel berkelas. Buahnya kalau sudah tua jatuh sendiri. Batang pohonnya berbanir-banir, tampak klasik dan keren. Banir adalah lipatan akar berbentuk garis-garis seperti papan, yang menonjol dari batang.

Daunnya hijau berkilap, bertajuk lebar, cenderung sangat lebat. Lebat dan rimbun adalah ciri khas pohon gayam, selain batangnya yang tampak tua dan angker. Jangan heran kalau banyak tahyul seputar pohon gayam. 

Maklum, pohon gayam sering dihuni serangga, reptil, bahkan musang dan harimau kecil pada malam hari. Jangan heran kalau mendengar kisah mengumpulkan buah gayam yang hanyut di musim hujan.

Lereng Gunung Merapi dari dahulu ditanami gayam. Kalau buahnya lebat, tentu akan terbawa sampai ke kota. Di pusat kota Yogyakarta, deretan pohon gayam juga ditanam di jalan-jalan utama.

Dulu ada tangkai keris gayaman – berukir buah gayam dan terbuat dari kayu gayam. Pohon gayam bisa tumbuh tinggi dan besar, sampai 20 meter dan birdiameter 70 cm.

Warnanya jernih, teksturnya bagus. Cocok untuk perabot rumah tangga, termasuk centong nasi. Daunnya juga berkhasiat untuk melancarkan pencernaan.

Buah gayam yang mengandung saponin, berfungsi membersihkan usus besar. Pohon gayam memang termasuk spesies yang sudah terancam. Namun, buahnya termasuk dalam daftar Komunitas Slow Food – program dunia yang menjunjung sumber pangan tradisional.

Dalam keterbatasan dan menghadapi kepunahan, ternyata gayam tetap menjadi inspirasi untuk memperbaiki masa depan. Gayam masuk dalam catalog Ark of Taste yang tersebar di 160 negara anggota Komunitas Slow Food.

Komunitas Slow Food di sekitar Candi Borobudur, bersemboyan gegayuh ayem – Gayem. Promosinya cukup getol, dimulai dari Omah Garengpoeng Homestay. Para tamu yang datang disuguhi jus gayam dan camilan gayam. Tentu dengan makan siang krawu gayam yang gurih, menyehatkan dan membanggakan. ***

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tiga Pilihan Mengolah Biji Ketumbar Praktis  

Trubus.id–Ketumbar berpotensi sebagai penurun gula darah. Hal itu sesuai peneliti di Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img