Thursday, August 18, 2022

Gurihnya Dendeng Tiram

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Berkali-kali pengunjung di stan itu mengira produk olahan jamur yang mulai diperkenalkan pada 2009 itu dendeng daging sapi. Harap mafhum penampilannya bak pinang dibelah dua. Tipis dan berserat, dengan warna merah agak gelap ciri dendeng daging.

Herlina juga memamerkan keripik tiram, martabak tiram, botok tiram, lumpia tiram, hingga kue kering tiram.  Namun, dari semua olahan itu dendeng tiram paling menyedot perhatian pengunjung. “Saya belum pernah mencoba, tetapi  olahan baru itu cukup potensial untuk dikembangkan,” ujar Dr Iwan Saskiawan, peneliti tiram dari Pusat Penelitian Biologi LIPI di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Dendeng jamur

Dendeng tiram karya Herlina dibuat dengan cara mencuci bersih dan merebus tiram selama 15 menit. Setelah teksturnya lunak lantas ditiriskan hingga kering dan digiling lembut memakai penggiling daging. Campurkan bumbu berupa campuran bawang merah, bawang putih, ketumbar, dan gula merah.

Supaya bentuknya mirip dendeng daging, adonan itu dicetak manual. Caranya dengan menekan adonan hingga menjadi lembaran berdiameter sekitar 15 cm. Selanjutnya dendeng dikeringkan dengan cara dijemur selama 4—7 hari tergantung cuaca. “Saya pernah mengeringkan pakai oven, tetapi hasilnya kurang bagus karena bagian tepi dendeng kering, tetapi tengahnya basah,” ujar Herlina yang mengolah dendeng dengan dua rasa: manis dan pedas itu.

Tak sulit bagi Herlina memasarkan produknya itu. Sejak dipromosikan pertama kali pada 2009 di pameran di Surabaya,  Jawa Timur, konsumen mulai berdatangan. “Mayoritas penggemarnya kaum vegetarian di berbagai kota di  Jawa Timur, terutama Surabaya,” kata Herlina yang tengah mencoba kreasi baru: sosis jamur tiram.

Telo ungu

Pada PPK Sampoerna Expo 2011 juga ada Irfan Widiyanto dari Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu (SPAT), Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, yang mengolah beragam penganan berbahan ubi. Ia memakai ubi jalar berdaging ungu dan kuning yang dipanen pada umur 4 bulan. Menurut Irfan dengan kandungan gizi lengkap, ubi sebagai alternatif makanan pokok dan sumber karbohidrat.

Irfan mengubah telo itu menjadi roti burger, hot dog, french fries, pizza, onde-onde, nugget, brownies, es krim, hingga keripik. Total jenderal ada 43 varian penganan berbahan ubi itu. Bakpao ubi salah satu olahan yang pertama dibuat sejak 2000. Kini pilihan rasanya beraneka: cokelat, keju, kacang tanah, daging ayam, kornet, stroberi, nanas, dan kacang hijau. “Setiap hari terjual 5.000 bakpao dan 30—40 potong untuk setiap produk lain,” kata Irfan yang membuka kafe di lingkungan SPAT. Sementara olahan kering seperti mi, tepung, dan keripik terjual hingga Denpasar, Aceh, bahkan kota-kota di Papua.

Sebagai bahan dasar berbagai olahan itu, Irfan mengolah umbi menjadi pasta atau tepung. Menurut Suyanti Satuhu BSc di BB Pascapanen, Cimanggu, Bogor, mengolah terlebih dahulu menjadi tepung membutuhkan jumlah ubi yang lebih banyak tetapi pemanfaatan ubi dapat lebih bervariasi. Lagi pula tepung tahan simpan.

Untuk mengelola usaha itu sejak 3 tahun lalu Irfan yang dibantu 300 pekerja  bekerja sama dengan PPK Sampoerna terutama dalam pemasaran, penelitian, dan pengembangan produk.  “Pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan menciptakan dan mengembangkan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) menjadi kegiatan yang  dapat memacu pertumbuhan ekonomi lokal maupun nasional,” ungkap Yos A. Ginting, Direktur PT HM Sampoerna dalam acara pembukaan PPK Sampoerna Expo 2011. Itu antara lain yang dibuktikan oleh Herlina dan Irfan lewat olahan jamur dan telo.  (Susirani Kusumaputri)

Previous articlePanen Matahari
Next articleMerang Berkelas di Atas Aren
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img