“Menurut saya, durian bawor di sini memang juara. Saya belum pernah makan durian seenak ini,” ujar Mulyadi saat mengunjungi kebun durian H. Lis pada awal Februari 2025. Saat itu kebetulan kebun durian di Desa Bagoang, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, masih berbuah.
Kunjungan itu mengobati rasa penasaran Mulyadi tentang keberadaan kebun yang menghasilkan durian bermutu bagus di kampung halamannya. Maklum, Mulyadi kini lebih sering beraktivitas di Kota Depok, Provinsi Jawa Barat.
H. Listiyono berhasil mendapatkan keuntungan besar dari kebun durian yang ia kelola. Menurutnya, ada konsumen yang mengatakan durian bawor di kebunnya mirip durian musangking yang terkenal enaknya.
Durian bawor milik H. Lis memang jempolan dengan daging buah tebal dan beberapa bijinya kempis. Teksturnya creamy dan manis, sehingga banyak disukai.
Tidak heran harga durian berbobot sekitar tiga kilogram itu mencapai Rp150.000 per kg. Meski berharga tinggi, banyak pembeli yang berdatangan langsung ke kebun.
Konsumen berasal dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Kualitas bawor di kebun H. Lis tidak lepas dari perawatan rutin yang telaten.
Untuk perawatan kebun, H. Lis mengandalkan budi daya organik tanpa menggunakan pestisida atau pupuk kimia. Ia membuat pupuk sendiri dari bahan dasar seperti kotoran ayam, kambing, dan bahan organik lain yang difermentasi.
Ia menggunakan bakteri aktivator yang diberi nutrisi dari air tebu, air kelapa, atau molase. “Setelah jadi nanti dicampur lagi. Kalau satu galon 15 liter, saya campur lagi dengan 3.000 liter air,” kata pria berumur 62 tahun itu.
Lama fermentasi minimal sepekan dan semakin lama makin baik. Pupuk yang terfermentasi itu untuk menyuburkan tanah dan memberi nutrisi pohon durian.
H. Lis memupuk pohon dengan kotoran hewan sebanyak tiga kali setahun. Takaran pupuk sekitar empat ember per pohon.
Penyiraman hanya dilakukan saat musim panas. Saat musim hujan, penyiraman tidak dilakukan karena kelebihan air dapat merusak akar pohon durian.
Ia juga menjaga keseimbangan nutrisi di kebun dengan menghindari penggunaan perangsang buah. Tujuannya agar pohon durian dapat beristirahat setelah berbuah sehingga tetap sehat dan berproduksi secara berkelanjutan.
Selain pemupukan dan penyiraman, ia juga memeriksa batang pohon durian secara berkala. Ia memberi kapur setiap lima bulan sekali untuk mencegah lumut dan menjaga kondisi batang tetap baik.
Meskipun durian yang jatuh dari pohon kadang pecah, H. Lis tidak terlalu khawatir. Ia mulai menyiapkan jaring untuk mencegah kerusakan buah.
“Rencananya pasang jaring untuk tahun depan (2026),” kata pria kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah, itu. Musim panen di kebunnya berlangsung pada Januari—Februari.
Setiap tahun, H. Lis bisa memanen sekitar 30 ton durian. Bahkan pada 2023 saat musim panas, ia menjual hingga 32 ton.
Hasil panen durian langsung habis terjual di kebun tanpa perlu dijual ke luar. Banyak tengkulak datang, tetapi H. Lis masih kekurangan pasokan.
“Durian-durian ini sebagian besar dijual dalam kondisi jatuhan. Harganya pun mengalami peningkatan dari tahun ke tahun,” ujar H. Lis.
Semula, ia menjual durian bawor seharga Rp60.000 per kg. Kini, harganya mencapai Rp150.000 per kg.
Dengan kualitas yang terjaga, durian itu laku keras, terutama di Jabodetabek. Ia tidak terlalu bergantung pada tengkulak dan lebih suka menjaga kebunnya tetap alami dan organik.
Menurutnya, durian organik yang dihasilkan dari perawatan yang baik memiliki rasa luar biasa. Ia sangat bersyukur dengan hasil panennya selama ini.
Kini, H. Lis tidak hanya sukses dalam bertani durian. Ia juga menjual bibit dan membuka peluang bagi petani lain yang ingin berbisnis durian.
H. Lis mulai mengelola kebun durian sejak akhir 2015. Awalnya, ia hanya menanam sekitar satu hektare dengan 130 batang durian bawor.
Bibit bawor berasal dari Banjarnegara dan panen perdana terjadi pada 2017. Meskipun sekitar 30 pohon mati saat itu, H. Lis tidak patah arang.
Pada panen pertama, ia memperoleh sekitar 70 buah per pohon. Kini, kebun durian H. Lis telah berkembang pesat dengan total luas sekitar 20 hektare.
Populasi pohon produktif di kebunnya sekitar 1.000 pohon. “Sebanyak 90% terdiri dari durian bawor,” ujar mantan pebisnis mebel dan palet kayu itu.
Beberapa tahun terakhir, ia juga menambah jenis lain seperti duri hitam yang baru ditanam dan belum berbuah. Pemilihan bawor karena durian itu terkenal saat itu dan berasal dari kampung halaman H. Lis.
Ternyata bawor cocok dikembangkan di Jasinga. Keberhasilan panen perdana mendorong H. Lis untuk terus memperluas kebunnya hingga sekarang.
Foto: Dok. Trubus
