Thursday, August 18, 2022

Hans Tertawan Serama

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Sebagian koleksi serama milik Handry ChuhairyBlack Star koleksi Handry, rebut kampiun pada kontes perdanaItu ucapan masyhur pemimpin Romawi, Julius Caesar, ketika ia menaklukkan musuh di Afrika Utara dan Spanyol. Ia mengirimkan pesan ke Roma: veni, vidi, vici, saya datang, saya lihat, dan saya menang. Namun, bagi Handry Chuhairy, ungkapan itu bermakna saya datang, kontes, dan menang. Pada kontes pembuka 2011 di Manggadua, Jakarta Utara, serama milik Handry bernama Black Star, memang meraih kemenangan bergengsi. Serama berumur 9 bulan itu menggondol gelar best of the best (baca: Black Star Raih Takhta Tertinggi halaman 20).

Bagi Handry, itulah kontes perdana yang ia ikuti. Pada 19 Desember 2010, sebetulnya ia berhasrat menurunkan Black Star di kontes serama di Pondokgede, Kotamadya Bekasi, Jawa Barat. Namun, kondisi kesehatan bintang hitam anjlok akibat menderita flu. Handry pun urung menerjunkannya di kontes. Baru pada kontes Trubus Cup Serama di Manggadua, ia mengikutkan Black Star.

Gelap = hitam

Keruan saja Handry senang bukan kepalang karena baru pertama mengikutkan serama kontes dan mampu merebut mahkota jawara. Padahal, semula ia tak berharap muluk-muluk, apalagi mimpi merebut kampiun. Pengusaha pasar swalayan itu membeli Black Star pada pengujung Desember 2010 melalui importir di Jakarta Barat. Ketika itu importir mengirimkan foto 3 serama melalui telepon seluler kepada Handry. Saat melihat foto itu, Handry sama sekali tak tertarik Black Star. Penampilannya kalah gagah ketimbang serama yang lain.

‘Lihat ini, tak begitu menarik, kan?’ kata mantan atlet renang nasional itu sembari menyorongkan telepon kepada wartawan Trubus. Dalam foto itu, Black Star tampak hitam. Sang importir akhirnya menyarankan agar Handry datang untuk melihat langsung serama itu. Begitu melihat penampilan serama itu, barulah Handry jatuh hati karena penampilannya atraktif. Ia memutuskan membeli ayam berukuran sejengkal. Namun, ia enggan berterus terang soal harga yang mencapai 6 digit.

Untuk sementara ia menitipkan serama pada importir. Harap mafhum, ayam itu memang baru tiba dari Malaysia sehingga memerlukan pemulihan beberapa hari. Namun, karena cuaca ekstrem – perubahan hujan dan panas – begitu cepat, maka pemulihan kesehatan serama lebih lama, hingga 15 Januari 2011. Sebelum tanggal itu, importir kembali menghubungi Handry untuk menanyakan soal nama ayam. Serama yang mengikuti kontes memang wajib menyandang nama.

Handry yang sesekali yoga itu teringat dominasi hitam pada serama sehingga ia memberi nama Black Star. Nama memang membawa harapan, setidaknya bagi yang memberikannya. Nama black jelas mengacu pada bulu yang dominan hitam; star, semoga saja serama itu menjadi bintang. Itu terbukti di kontes perdana. Kemenangan Black Star membuat peraih medali perak Sea Games dari kolam renang itu makin gandrung serama yang ia anggap sebagai perpaduan: setengah burung dan setengah ayam.

Di Serpong, Kotamadya Tangerang Selatan, Provinsi Banten, ia memelihara 14 serama. Selain itu, ia masih menitipkan 11 serama lain pada importir. Total jenderal, saat ini ia memiliki 25 serama. Sebelum berangkat atau usai pulang kerja, ia senantiasa menyempatkan diri mengunjungi koleksinya. Lokasi kandang berjarak 2 – 3 km dari hunian Handry. Di sana ia mengontrol pemberian pakan, kebersihan kandang, atau sekadar membelai ayam terkecil di dunia itu.

Tertipu

Dalam menekuni hobi, Handry selalu serius. Sebelum kepincut serama, ia lebih dulu menggemari beragam tanaman hias seperti adenium, pachypodium, dan sansevieria. Ia mempelajari karakter tanaman, cara merawat, bahkan menyilangkan. ‘Saya tak setengah-setengah,’ kata sarjana Ekonomi alumnus Universitas Tarumanagara itu. Ketika kini menggeluti serama, ia juga melakukan hal serupa. ‘Serama bagus, tetapi jika perawatannya tak bagus, maka menjadi serama jelek,’ kata pengusaha yang 1,5 tahun terakhir berhenti merokok.

Oleh karena itu ia rutin memberikan satu butir vitamin per ekor setiap 2 hari sekali. Selain itu Handry juga memberikan seperempat tablet kalk per ekor. Pakan untuk serama-serama itu adalah campuran jagung menir (butiran jagung berukiran kecil), milet, dan voor. Ia memberikan pakan 2 kali sehari pada pukul 08.00 dan 16.00. Suplemen yang ia berikan berupa 4 jangkrik per serama setiap pekan.

Itulah ilmu yang ia peroleh dari importir dan hobiis serama serta hasil berselancar di dunia maya. Ia memang rajin bertandang ke hobiis-hobiis serama, terutama pada 3 bulan silam. Kini ia menerapkan pengetahuan itu untuk serama koleksinya. Handry merawat serama-serama itu dengan sepenuh hati antara lain karena sulit memperolehnya.

Pada awal menggeluti serama, Oktober 2010, hampir setiap pekan ia mengunjungi pasar burung Pramuka di Jakarta Timur. Di sana ia membeli 2 serama berumur 2 bulan dengan harga total Rp800.000. Dengan sukacita ia merawat ayam berdada membusung itu. Hasilnya? Semakin dewasa, tampaklah bahwa mereka bukan serama, tetapi ayam katai. Kaki memanjang, begitu juga dengan taji sehingga ukuran tubuh tak proporsional. Ia beralih membeli 3 serama ke penangkar di Tangerang. Ternyata setelah dewasa, ayam itu bukan serama, tetapi katai. ‘Saya kejeblos lagi,’ kata Handry. Serama jelas berbeda dengan katai. Kecewa? ‘Tidak, belajar kan perlu biaya,’ kata Handry yang oleh rekan-rekannya disapa Hans.

Itulah sebabnya meski tertipu pada mulanya, Hans justru kian semangat menggeluti serama. Ia berencana menangkarkan ayam yang tingginya sejengkal itu. Kandang penangkaran tengah ia bangun. Induk-induk serama berkualitas juga telah ia miliki untuk merakit klangenan bermutu. Bagi Handry sulitnya mencari serama justru menimbulkan peluang bisnis penangkaran yang akan ia geluti. Apakah hoki Hans di sektor penangkaran juga seperti ungkapan veni, vidi, vici: saya datang, saya menangkarkan, dan saya merebut pasar? (Sardi Duryatmo)

 

  1. Handry Chuhairy penghobi serama di Serpong, Tangerang Selatan
  2. Sebagian koleksi serama milik Handry Chuhairy
  3. Black Star koleksi Handry, rebut kampiun pada kontes perdana

Foto-foto: Sardi Duryatmo

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img