Thursday, August 18, 2022

HARI BUAH

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Eka Budianta*

Hari Buah Sedunia atau International Fruit Day dirayakan setiap 1 Juli. Namun, Rabu adalah hari buah di keluarga kami. Setiap Rabu saya mendapat PR (pekerjaan rumah) untuk menyediakan dan menjelaskan dunia perbuahan bagi keluarga kami. Sebetulnya, idenya sama seperti setiap Jumat dianggap sebagai hari batik bagi keluarga besar bangsa Indonesia. Mengapa Rabu? Karena, ibu melahirkan saya di bawah pohon sawo pada hari Rabu. Itu kenyataannya.

Mitosnya, didongengkan oleh baby-sitter kami, bahwa saya adalah bayi yang ditemukan menangis pada Rabu pagi. Jadi, pantaslah Rabu kami rayakan dengan sawo atau buah-buahan yang lain. Untuk anak cucu diusahakan punya buah atau pohon masing-masing. Dan setiap Rabu, saya diwajibkan menjemput mereka dari sekolah, langsung ke tukang buah. Ada yang suka nangka, ada yang fanatik alpukat. Ada yang menghindari durian, ada yang punya hubungan rahasia dengan buah naga dan duku.

Cinta gudeg

Khusus kali ini, Anda akan melihat peran pohon kedondong dalam keluarga. Bukan saja karena kedondong dibuat manisan, jus, dan dimakan segar, tetapi juga diperlakukan sebagai teman dan anggota keluarga.Tugas saya sesungguhnya gampang-gampang sulit, yaitu membuat masing-masing mengenal buah favoritnya. Cara paling sederhana, kalau ada yang sedang hamil, kita sediakan macam-macam buah, supaya bayi dalam kandungan, mengenal bermacam rasa.

Setelah lahir, insya Allah si bocah menjadi penyuka buah-buahan. Maka, jangan sampai di rumah tidak tersedia pepaya, pisang, jambu, kedondong, delima, dan seterusnya. Tidak usah takut, harga buah impor maupun lokal selalu terjangkau oleh kantong Indonesia. Pada awal 2012, misalnya, kedondong karimun cukup dengan Rp 15.000 sekilo, belimbing dewi Rp10.000 dapat tiga, nanas madu berkisar Rp 3.000-Rp 5.000. Begitulah yang dapat saya laporkan dari acara Reboan.

Kecintaan pada buah bisa konsisten, bisa juga berganti-ganti. Yang paling konsisten, kita lihat pada masyarakat Yogyakarta. Pagi, siang, sore maupun malam nangka adalah pujaan mereka. Sebagai penghormatan, kita menyebut Yogyakarta kota gudeg.  Semoga kota ini dapat mengawali hari cinta buah nasional, sebagai mana Berlin mencanangkan hari buah internasional, pada 2007. Di Yogyakarta, diskusi tentang nangka pun mulai berkembang.

Bagaimana mungkin orang satu kota suka makan gudeg, kalau tidak melestarikan dan membudidayakan nangka.  Kelompok pelestari dan konservasi budaya maupun lingkungan, mulai mengadakan diskusi perihal nangka secara periodik. Jangan lupa, nangka adalah buah yang terlukis di candi Borobudur maupun Prambanan. Nangka juga termasuk di antara 18 buah yang disajikan untuk Hanoman sebelum ia berangkat menjadi duta ke Alengka, dengan tugas istimewa: membawa pulang Dewi Sinta.

Sepantasnya kalau kita dukung kegiatan pencinta nangka yang lahir di Yogyakarta. Mereka mulai menginventaris berbagai jenis buah nangka. Ada nangka genjah, nangka bubur, dan cempedak. Fungsi batang pohon nangka yang terkenal karena berat dan keras berwarna emas itu pun mulai dicermati.

Nyanyian bunga

Pernah dengar: batang nangka sudah sampai di kepala?Ungkapan itu muncul karena kayu nangka paling bagus untuk pengganti batu nisan. Sama bagusnya dengan kalau diukir untuk pintu di rumah tradisional Madura. Mengapa?Karena kuat dan tahan lama. Tugas para pencinta nangka paling sedikit ada tiga. Pertama, mengembangkan ilmu pengetahuan tentang nangka Artocarpus heterophyllus alias jackfruit itu.

Anak-anak, adik-adik, dan semua keponakan kita harus tahu bahwa nangka adalah buah terbesar di dunia. Sebuah nangka utuh bisa mencapai 20 kg. Sebatang pohon nangka bisa menanggung beban antara 600 kg hingga satu ton buah dalam setahun. Tak heran kalau kayunya kuat sekali, karena terbiasa mengangkat buah yang berat. Namun, bukan itu saja keistimewaannya. Bunga nangka suka menciap-ciap pada malam hari.  Jadi, kalau ada bunga yang bernyanyi, itu pasti bunga nangka. Ramai sekali.

Para pencinta nangka perlu menulis skripsi, tesis, dan desertasi untuk mengungkap rahasia, sejarah, dan perilaku manusia terkait dengan nangka. Kedua, tugas budidaya. Para pencinta nangka dipanggil untuk menangkarkan, merawat, dan mengolah berbagai produk nangka. Bagaimana sistem penanaman dan perawatan yang menghasilkan nangka terbaik?Pemupukan, pemanenan, penyimpanan, dan pengemasan buah nangka yang tepat perlu dimasyarakatkan.

Tentu, resep membuat gudeg, keripik nangka, jus nangka, nangka dalam kaleng juga perlu diajarkan. Terakhir, yang paling penting: bagaimana membuat orang lain juga suka dan ikut melindungi serta mengembangkan jackfruit berikut semua produk olahannya. Untuk itu perlu dibuatkan film, lagu, lukisan, buku, dan bermacam poster, brosur, leaflet yang bagus tentang nangka.

Pohon adopsi

Dengan konsumsi buah di bawah 40 kg per kapita per tahun, bangsa Indonesia tergolong kurang menyukai buah. Kalau mau dianggap penyuka buah, paling sedikit harus 73 kg per kapita per tahun. Itulah target yang sejak 2010 sudah dicanangkan pemerintah. Urusan menikmati buah bukan monopoli pemerintah, tapi kepentingan semua bangsa. Ketika hari buah dicanangkan 5 tahun lalu, terpilih stroberi sebagai buah internasional.

Pada tahun-tahun berikutnya, kita mendengar apel dan nanas berhasil mendapat perhatian universal. Untuk 2012, ada lima buah yang diunggulkan: buah naga, jeruk, pepaya, pir, dan mentimun. Mungkin tidak perlu dipilih satu saja seperti tahun-tahun sebelumnya, tapi kelimanya perlu diandalkan. Kepentingan utama sekarang adalah bagaimana meningkatkan konsumsi buah sebagai cara untuk menghadapi perubahan iklim. Semua buah dewasa ini sedang menghadapi dampak pemanasan global dan cuaca ekstrem.

Perhatian yang lebih baik, akan membantu mereka menemukan cara-cara yang tepat untuk melakukan adaptasi maupun mitigasi akibat perubahan iklim itu. Langkah pertamanya jelas, meningkatkan konsumsi. Cara termudah meningkatkan konsumsi tentu membuka gerai buah sebanyak-banyaknya di setiap sudut kota. Akibatnya tentu membanjirnya buah impor, yang mungkin juga bakal dibendung oleh buah lokal. Kita tidak tahu akan berhasil atau gagal.Yang penting adalah bagaimana langkah kita, sebagai pribadi dan keluarga.

Di keluarga kami, Rabu adalah hari buah. Pemenuhan buah melalui pekarangan sendiri juga diupayakan. Kita punya banyak kiat untuk mengembangkan tabulampot- tanaman buah dalam pot. Kalau tidak sempat menanam sendiri, mungkin bisa mengadopsi pohon-pohon buah yang sudah langka. Sebuah bank terkemuka pernah mengadopsi sebatang pohon leci tua yang tumbuh di Bogor, Jawa Barat.

Pohon itu perlu dibersihkan secara rutin, karena banyak burung bangau tidur bermalam di atasnya. Perawatan minimal perlu biaya Rp 6-juta dalam setahun. Bandingkan dengan program adopsi pohon penghijauan yang hanya Rp108.000 per tahun di Gunung Halimun, yang dikelola oleh Green Radio di Jakarta. Mengapa seratus delapan ribu?Itulah jumlah denyut jantung kita dalam 24 jam.

Doktor kedondong

Ketika putri sulung kami masuk Fakultas Kedokteran pada 1995, kami menanam sebatang pohon kedondong di depan jendela kamarnya. Sebenarnya pohon peringatan kelahirannya adalah kepel Stelecocharpus burahol. Jadi kedondong adalah pohon buahnya yang kedua. Pada saat lulus menjadi dokter, pohon itu berbuah besar-besar. Kedondong bukanlah buah favorit bagi banyak orang. Bahkan ada nasihat, “Jangan seperti buah kedondong.” Halus di luar, kasar di dalam, begitu maksudnya.

Namun, keluarga kami mencintai semua buah. Bahkan, kedondong pun punya sejarah dan manfaat yang luar-biasa. Masyarakat internasional menyebutnya ambarella, bahasa Latinnya: Spondias dulcis. Pohon asli kepulauan Melanesia itu mulai dikembangkan di Hindia Barat pada akhir abad ke-18, tahun 1782. Amerika Serkat mulai mengembangkannya di Florida sejak 1909. Selanjutnya, kita melihat buah kedondong-meskipun tidak sepopuler mangga, mulai diproduksi di Queensland, Australia, Filipina dan tentu jadi komoditas Thailand, dengan kedondong bangkoknya.

Pada Februari 2012, kedondong di depan jendela putri sulung kami patut mendapat bintang. Buahnya banyak meski kecil-kecil. Maklum benalunya banyak, karena burung di dahan dan rantingnya tak pernah sepi. Kalau Anda bisa mendengar sedikit saja, sebetulnya pohon itulah yang banyak berdoa, sampai putri kami meraih gelar PhD.

Daunnya yang selalu segar dan bisa dimakan begitu saja, telah menyediakan oksigen yang cukup dan membuatnya pintar. Setelah menjadi doktor, dia mengerahkan anak-anaknya menjadi pembela buah-buahan. Itulah sejarah bagaimana Hari Buah dihormati dalam keluarga kami. Semoga juga dirayakan di seluruh keluarga besar Anda sekalian.***

 

 

 

Buah kedondong diperlakukan sebagai anggota keluarga

Eka Budianta, budayawan, pengelola Jababeka Botanic Gardens, dewan pakar Badan Pelestarian Pusaka Indonesia, kolumnis Trubus.

 

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img