Monday, August 8, 2022

Hasilkan Kapsul Temumangga Kualitas Top

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Rimpang temumangga siap tanam. Penanaman terbaik di awal musim hujan.
Rimpang temumangga siap tanam. Penanaman terbaik di awal musim hujan.

Budidaya intensif salah satu kunci hasilkan olahan kapsul temumangga terbaik.

Kesibukan Prof Dr Dwiyati Pujimulyani MS semakin bertambah sejak 6 tahun belakangan. Wanita berkacamata itu meracik kapsul temumangga di sela-sela rutinitasnya sebagai guru besar Fakultas Agroindustri, Universitas Mercu Buana, Yogyakarta. Dwiyati memproduksi kapsul tanaman keluarga Zingiberaceae itu untuk membantu mengobati beragam penyakit seperti kolesterol tinggi, asam urat, dan diabetes mellitus. “Temumangga mengandung antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh seperti senyawa fenol berupa flavon, kurkumin, dan asam galat,” ujar doktor alumnus Universitas Gadjah Mada itu.

Seluruh tahap produksi mulai dari penentuan kualitas rimpang, pengeringan, penggilingan, hingga pengapsulan berada di bawah komando Dwiyati. “Saya harus mengawasi setiap proses produksi untuk menghasilkan produk herbal bermutu,” ujarnya. Demi memperoleh bahan baku terbaik, ia mengebunkan sendiri rimpang kerabat jahe itu. Total 1,5 hektare lahan untuk mengebunkan temumangga. Kebun itu tersebar di sejumlah lokasi seperti Wonosari, Sedayu, Bantul, dan Gayam—semua di Provinsi Yogyakarta.

 Prof Dr Dwiyati Pujimulyani MS mengebunkan temumangga sejak 2010.
Prof Dr Dwiyati Pujimulyani MS mengebunkan temumangga sejak 2010.

Kebun sendiri
Dwiyati menuturkan tanaman membutuhkan air yang banyak di awal masa pertumbuhan. Itu sebabnya budidaya temumangga dimulai pada awal musim hujan sehingga kebutuhan air tercukupi dan tidak perlu repot menyiram. Sebelum tanam, Dwiyati membalik tanah supaya gembur lalu membuat lubang tanam dengan jarak 50 cm x 50 cm. Kedalaman lubang cukup dangkal, hanya 5—10 cm. Setiap lubang berisi 1 rimpang berdiameter 4—5 cm dan sudah bertunas.

Dwiyati meletakkan rimpang itu di setiap lubang tanam lalu menutupnya dengan tanah. Ia menuturkan bibit yang digunakan harus sehat dan tidak rusak agar hasil panen optimal. Oleh karena itu ia menyisihkan sebagian rimpang hasil panen sebelumnya sebagai sumber bibit. Ia membutuhkan bibit 50 kg untuk lahan 500 m2. Artinya untuk 1,5 hektar lahan, ia memerlukan 1,5 ton rimpang Curcuma mangga.

Menurut Dwiyati budidaya temumangga tergolong mudah sebab tanpa perlakuan istimewa. Perawatan tanaman hanya berupa penyiangan gulma setiap bulan secara manual. Tingkat serangan hama dan penyakit pun rendah. Hama yang ditemukan di kebun hanya ulat yang memakan helaian daun muda dan tua. Kehadirannya membuat daun berlubang. “Daun yang terserang ulat cukup dipetik lalu dibuang,” ujar Dwiyati.

Adapun penyakit yang dijumpai di pertanaman yaitu layu bakteri akibat serangan Pseudomonas solanacearum. Tanaman yang terserang layu bakteri cukup dicabut dan dibakar agar tidak menular ke tanaman lain. Sementara untuk mencukupi kebutuhan nutrisi tanaman, Dwiyati hanya melakukan pemupukan sekali selama masa budidaya yakni tiga bulan pascatanam. Ia menaburkan pupuk kandang ayam. Kebutuhannya 6 ton untuk seluruh pertanaman. Ia tak memberikan pupuk kimia.

Kapsul temumangga racikan Prof Dr Dwiyati Pujimulyani MS.
Kapsul temumangga racikan Prof Dr Dwiyati Pujimulyani MS.

Panen
Dwiyati memanen rimpang temumangga 9 bulan pascatanam. Ia menuai hingga 30 ton rimpang setiap musim taman. Tanda tanaman siap panen daun menguning. Ia membongkar tanah lalu mengambil hati-hati seluruh rimpang. “Panen mudah dilakukan lantaran lubang tanam dangkal,” ujarnya. Selanjutnya, ia membersihkan setiap rimpang dari tanah yang menempel sebelum dikupas.

Dwiyati dibantu oleh sejumlah pekerja untuk mengupas, mencuci, dan mengiris temumangga. Para pekerja lantas menjemur irisan temumangga di bawah sinar matahari selama 2 hari. Selanjutnya, mereka menggiling rimpang tanaman yang banyak ditemukan di India itu hingga halus. Temumangga yang sudah berbentuk serbuk itu lantas disaring dan dikapsulkan. Setiap kapsul mengandung 100 mg temumangga. Dwiyati menggunakan cangkang kapsul terstandarisasi dari bahan baku utama rumput laut.

Hamparan tanaman temumangga berumur 2 bulan. Umbi temumangga siap panen pada umur 9 bulan pascatanam.
Hamparan tanaman temumangga berumur 2 bulan. Umbi temumangga siap panen pada umur 9 bulan pascatanam.

Menurut Dwiyati mengonsumsi kapsul temumangga sangat menguntungkan bagi kesehatan. Kadar polifenol temumangga lebih tinggi dibanding kunyit. “Polifenol berperan menyembuhkan radang,” ujar Dwiyati. Ia menuturkan kandungan kurkumim dalam rimpang temumangga juga andal memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak. Adapula kuersetin yang ampuh meningkatkan daya tahan tubuh. Rimpang temumangga dapat pula dikonsumsi orang sehat. Dosisnya cukup 2 kapsul sehari.

Khasiat temumangga sebagai rimpang penghalau beragam penyakit juga diakui oleh Valentina Indrajati dan Ujang Edi, keduanya di Bogor, Jawa Barat. Mereka sepakat antioksidan dalam temumangga dapat menurunkan kadar kolesterol dan asam lemak jenuh pemicu tekanan darah tinggi. “Temumangga juga mampu mengontrol gula darah dan membersihkan darah,” ujar Ujang Edi. (Andari Titisari)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img