Penggunaan tenaga surya untuk menghemat biaya dan tenaga cadangan listrik.

Trubus — Sebanyak 50 kolam itu berderet-deret di lahan 1.000 m². Ukuran kolam beragam, ada yang 1,5 m x 3 m, ada pula yang 3 m x 10 m. Pemilik kolam, Sugeng Widiarso, memanfaatkannya untuk budidaya beragam ikan hias seperti arwana, silver dolar, dan aligator. Peternak ikan hias di Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, itu memanfaatkan 3 pompa masing-masing berdaya 500 watt untuk mengatur sirkulasi air 50 kolam.
Selain itu ia juga menggunakan aerator di kolam untuk menjaga ketersediaan kadar oksigen terlarut. Pantas jika biaya listrik membengkak, hingga Rp4 juta sebulan. Namun, sejak Januari 2017 biaya listrik untuk pengairan kolam turun hingga 10%. Pria 47 tahun itu menuturkan, biaya listrik kini menjadi Rp3.600.000 per bulan. Penurunan biaya listrik itu setelah Sugeng menggunakan perangkat tenaga surya untuk menambah daya di kolamnya.
Tenaga matahari
Sistem tenaga surya di kolam Sugeng terbagi menjadi dua. Pertama, sistem listrik asal tenaga surya terhubung langsung dengan sistem listrik asal perusahaan listrik negara (PLN) yang dikenal dengan on grid system. Koneksi itu mengurangi konsumsi listrik. Sistem kedua menyimpan daya ke baterai atau aki untuk dipergunakan atau off grid system. “Jika penyinaran matahari penuh, perangkat tenaga surya bisa mengeluarkan daya hingga 500 watt,” katanya.
Kolam Sugeng menggunakan listrik berdaya 3.000 watt. Artinya potensi penghematan sebenarnya 1/6 atau sekitar 16,7%. Sarjana Ekonomi alumnus Universitas Pamulang itu menggunakan 4 panel surya berkapasitas 100 watt per panel dan 4 panel surya berkapasitas 50 watt per panel. Total daya dari perangkat panel surya 600 watt. Ia menggunakan empat panel surya kapasitas 50 watt untuk on grid system. Sisanya dipakai untuk off grid system.

Daya asal off grid system disimpan pada 4 buah aki kapasitas 65 ampere hour (AH). “Sambil mengisi daya, bisa juga dipergunakan berbarengan dengan penggunaan listrik,” kata pemilik Vizan Farm itu. Menurut pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat, pada 1969 itu pada siang hari sinar matahari “mengisi” daya. Pada malam hari, Sugeng memanfaatkan listrik yang tersimpan pada aki atau baterai untuk keperluan kolam.
Menurut Sugeng listrik surya itu sejatinya memadai untuk mengoperasikan aerator seluruh kolam. “Kendala yang dihadapi adalah ketika penyinaran matahari tidak sempurna, daya yang didapat pun tidak optimal,” kata peternak ikan hias sejak 2005 itu. Meskipun kaya faedah, investasi awal menggunakan tenaga surya relatif mahal. Untuk 8 panel tenaga surya, 4 aki, seperangkat alat salur listrik, dan upah pekerja membutuhkan investasi Rp20 juta.
Sugeng mengatakan, masa pakai peranti itu hingga 20 tahun. Jika penghematan biaya listrik Rp400.000—Rp500.000 per bulan, maka investasi itu balik modal pada 40—50 bulan. Meski dapat menurunkan biaya listrik, tarif listrik tenaga surya lebih mahal. “Rata-rata menggunakan listrik dari PLN Rp1.500 per killowatt-hour (kWh) sedangkan menggunakan tenaga matahari tidak bisa kurang dari Rp2.000 per kWh,” kata Sugeng. Oleh karena itu, biaya akan lebih mahal jika mengganti total listrik dari PLN dengan listrik asal tenaga surya.
Efisien

Di daerah yang belum terjamah listrik, penggunaan listrik tenaga surya menjadi alternatif sumberdaya terbarukan. Selain perangkat tenaga matahari, Sugeng juga mencoba perangkat tenaga angin pada awal 2017. “Sayang, potensi angin di Pondokpetir, Depok, Jawa Barat, kurang sehingga alat yang sudah dibeli tidak termanfaatkan,” kata peternak yang memasarkan beragam ikan hias ke Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi itu.
Menurut Sugeng teknologi tenaga angin hasilnya akan optimal jika dikombinasikan dengan tenaga surya. “Untuk daerah pantai pasti bagus, siang hari mengisi daya dengan terik matahari dan malam hari mengisi daya dengan tenaga angin,” papar peternak minimal 7 jenis ikan hias itu. Menurut Riksa Prayogi Widyaprawira, penggunaan perangkat tenaga surya sebagai tenaga tambahan perlu memperhatikan potensi energi matahari di suatu daerah. Potensi energi matahari dilihat dari lama waktu penyinaran dan gelombang sinar matahari. Untuk mengukur gelombang sinar matahari dapat menggunakan lux meter.

Riksa Prayogi, dosen di Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Teknologi Sumbawa (UTS), itu menuturkan, “Efisiensi perangkat tenaga surya diukur berdasarkan energi yang masuk ke penyimpanan baik baterai atau aki, dibagi potensi energi matahari.” Menurut Riksa Prayogi rata-rata efisiensi penggunaan perangkat tenaga surya paling tinggi 15%. Adapun jika cuaca kurang mendukung turun menjadi 3—5%.
“Pada dasarnya, energi dari perangkat tenaga matahari bersumber dari gelombang sinar matahari, bukan dari suhu,” kata Riksa. Menurut pehobi koi di Jakarta, Glenardo Yopie, penggunaan tenaga matahari untuk sumber daya kolam masih belum lazim. Glen mengatakan, untuk kolam ukuran 4 m x 2 m x 1,8 m yang menampung rata-rata 16 koi ukuran 40-60 cm tidak membutuhkan energi listrik yang terlalu tinggi.
Ketika listrik padam hingga 3—4 jam pun kondisi ikan masih baik. Meskipun menggunakan pompa dan aerator setiap hari, biaya listrik untuk satu kolam masih terjangkau. Namun, kehadiran listrik tenaga surya menjadi pilihan baru bagi peternak. (Muhamad Fajar Ramadhan)
