Saturday, January 17, 2026

Hidroponik Tenaga Surya

Rekomendasi
- Advertisement -

Masyarakat di daerah tanpa listrik tetap dapat membudidayakan sayuran berteknologi hidroponik.

Hidroponik membantu bercocok tanam di area tanpa listrik atau salinitas tanah yang tinggi. (Dok. Wita Friyanti Harianja)

Trubus — Selada keriting itu tumbuh subur di rak hidroponik. Daun hijau segar. Di pipa sepanjang 120 meter tumbuh selada tanaman anggota famili Brassicaceae itu. Wita Friyanti Harianja membudidayakan selada dengan teknologi hidroponik. Ia memanen selada pada umur 45 hari dengan bobot rata-rata 120 gram per tanaman. Durasi dan bobot tanaman itu sama dengan sistem hidroponik pada umumnya.

Namun, perangkat hidroponik rancangan Wita dan kawan-kawan tak tersambung ke soket listrik. Padahal, pada sistem hidroponik listrik berperan mendistribusikan nutrisi ke akar tanaman. Wita Friyanti Harianja dari Universitas Diponegoro beserta 4 rekannya merancang teknologi hidroponik untuk area tanpa listrik. Masyarakat di wilayah tanpa listrik, di tepian pantai sekalipun, tetap dapat membudidayakan beragam komoditas berteknologi hidroponik.

Panel surya

Para periset menyebut sistem hidroponik itu Hybrid Hydroponic Energy Sources Using Solar Wind Water Pump (Hypo-app). Mereka memanfaatkan angin dan sinar matahari sebagai energi penggerak untuk mengalirkan nutrisi tanaman. Oleh karena itu, Wita melengkapi unit hidroponik itu dengan panel surya dan kincir angin. Panel surya berukuran 1.085 mm x 675 mm terpasang di kerangka hidroponik.

Kerangka Hypo-app. Pemanfaatan sumberdaya alam terbarukan untuk hidroponik. (Dok. Wita Friyanti Harianja)

Peran panel surya untuk mengubah energi sinar matahari menjadi energi listrik yang dialirkan menuju solar charge controller. Energi listrik “tersimpan” di konverter. Karena tegangan yang masuk masih bersifat satu arah (DC) harus diubah dahulu menjadi AC pada inverter. Arus listrik yang telah diubah kemudian akan menggerakkan pompa air yang akan mendistribusikan air menuju sistem hidroponik.

Jika hari panas terik sebuah panel surya menghasilkan listrik arus searah (DC) yang tersimpan di baterai. Adapun kincir angin vertikal, dengan baling-baling sepanjang 30 cm terpasang di sisi kiri kerangka hidroponik. Kincir angin menjadikan energi mekanik dari angin untuk menggerakkan piston. Naik turunnya piston menggerakkan katup pompa.

Gerakan itu lalu menjadi dorongan sehingga air atau nutrisi dapat mengalir ke sistem hidroponik. Kedua peranti itu komplementer atau saling melengkapi untuk menghasilkan listrik. Periset di Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro itu memperkirakan jika di tepi pantai kedua peranti itu mampu menghasilkan listrik hingga 79,67 Watt per hari. Daya listrik sebesar itu sangat memadai untuk mendistribusikan nutrisi bagi pertumbuhan tanaman. Artinya masyarakat di tepi pantai tetap berpeluang membudidayakan sayuran atau buah semusim.

Biaya terjangkau

Tanah salin mengandung garam yang mudah larut dalam jumlah yang cukup besar. Kondisi itu menjadi hambatan besar untuk bertani di pesisir pantai. Salinitas yang tinggi hingga 3—4 dS/m mengakibatkan tanaman stres. Dampaknya pertumbuhan tanaman pun tidak optimal sehingga budidaya tidak ekonomis.

Berdasarkan penelitian F. Kusmiyati, E.D Purbajanti dan B.A. Kristanto dari Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro bertanam kacang-kacangan di tanah bersalinitas mengakibatkan penurunan kadar klorofil, laju fotosintesis, luas daun, dan jumlah daun tanaman. Untuk membudidayakan beragam komoditas sayuran dan buah semusim, masyarakat dapat menerapkan sistem hidroponik.

Para persiet dari Universitas Diponegoro, dari arah kiri: Mario Andi Lauwrintus, Astrie Dian Jayantie, Devi Bintani Afifah, Wita Friyanti Harianja, dan Troy Josua Mularaja. (Dok. Wita Friyanti Harianja)

“Penggunaan hypo-app yang terdiri dari rangkaian pipa-pipa polivinil klorida (PVC), kincir angin, dan panel surya, akan menggantikan peran listrik dalam mendistribusikan nutrisi. Sehingga lebih hemat dan lebih ramah lingkungan,” kata Wita Friyanti.

Pada mulanya biaya terkesan besar. “Namun, untuk perhitungan jangka panjang akan lebih hemat,” kata anggota kelompok, Astrie Dian Jayanti.Menurut Astrie biaya untuk menghasilkan 1 unit hidroponikhypo-app terdiri atas 66 lubang tanam mencapai Rp10.750.000. Peranti itu mampu bertahan 10 tahun atau 110 kali budidaya. Artinya dalam sekali budidaya, petani hanya menyusutkan biaya Rp97.700.

Biaya unit hidroponik konvensional—jumlah lubang tanam sama—Rp4.375.000. Biaya itu belum termasuk biaya listrik.Dengan adanya hypo-app, bercocok tanam di pantai sebuah keniscayaan. Tiga hambatan, yakni tiadanya listrik, tanah pasir, dan kadar silinitas yang tinggi—teratasi oleh sistem hidroponik itu. Masyarakat pesisir dapat mengonsumsi sayuran segar hasil budidaya sendiri. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img