Horti Asia Agro Tour 2013 Kemajuan Hortikultura Thailand

Rekomendasi

Di Thailand, pekebun memangkas batang utama pohon durian supaya tetap pendek.

Batang utama durian dipertahankan pendekPemandangan tak biasa terhampar di kebun percobaan Chanthaburi Horticultural Research Center (CHRC) di Chanthaburi, Thailand. Deretan pohon durian berumur puluhan tahun hanya setinggi 5—7 m. Di tanahair, pohon durian berumur puluhan tahun biasanya mencapai tinggi hingga 20 m.

Harap mafhum, pekerja di CHRC memang memangkas batang utama Durio zibethinus pada ketinggian tertentu. Biasanya pemangkasan dilakukan saat tanaman berumur 10 tahun. Pekerja lalu mempertahankan cabang di bawah hasil pemangkasan itu. Di cabang itulah tempat menggantungnya buah-buah durian.

Menurut Uthai Uraket, salah seorang peneliti, teknik pangkas batang utama itu dilakukan untuk mempertahankan tinggi tanaman tetap pendek. Tujuannya mempermudah perawatan dan panen. Pertumbuhan tanaman diarahkan ke samping. Menurut Prof Dr Ir Roedhy

Poerwanto MSc, pakar tanaman buah,   durian memiliki dominasi apikal—pertumbuhan tunas ke atas—kuat. Sekali dipotong, tunas akan tumbuh kembali ke atas. Perlu beberapa kali pemotongan hingga pertumbuhan beralih ke samping—lateral.

Pertumbuhan ke samping menguntungkan karena aliran nutrisi mengarah ke batang-batang yang menjadi tempat menggantungnya buah. Kualitas buah pun bagus karena pasokan nutrisi baik. Selain itu panen lebih mudah karena cabang dekat dengan permukaan tanah. Pekerja juga melakukan pemangkasan ujung setiap cabang supaya tajuk tanaman tidak saling bersinggungan.

Kradum

Kebun percobaan berlokasi 269 km dari Bangkok, Thailand, itu menjadi tujuan pertama rombongan Horti Asia Agro Tour 2013 pada awal Mei 2013. Perjalanan selanjutnya mengunjungi kebun buah milik Sawsudji di Muang, Chanthaburi. Salah satu komoditas andalan kebun yang dibuka untuk umum sejak

5 tahun lalu yakni durian kradum. Durian yang namanya berarti kancing baju itu berdaging berwarna putih kekuningan, cukup tebal, dan biji besar. Rasanya manis tanpa rasa pahit. Tekstur daging buahnya pun lembut. Pantas kradum menjadi rebutan para peserta tur.

Di kebun itu juga ada durian kan yao. Ukurannya lebih kecil dari bola sepak, tetapi rasanya legit dan manis. Daging buah yang berwarna kuning itu pun sangat tebal. Walau bijinya besar, bagian buah yang dapat dimakan relatif banyak. Apalagi satu pongge hanya dihuni 1-2 biji. Durian monthong tidak luput dari sasaran. Beberapa peserta bahkan menyempatkan diri mengambil gambar buah berukuran jumbo dengan bobot 7—10 kg itu.

Masih di kebun Sawsudji, Nadya Ayu, salah satu peserta tur menjawab tantangan pemilik kebun dengan memanjat sebuah pohon duku untuk memanen beberapa dompol yang ranum. “Jadi ingat dulu waktu kecil suka manjat pohon,“ ujar Dita—panggilan akrab Nadya yang kini berusia

13 tahun. Tingkahnya memancing gelak tawa lantaran Dita sempat kewalahan ketika ingin turun. Dari kebun perempuan berusia 53 tahun itu, peserta beranjak menuju kebun durian milik Busaba Tanyarak.

Di kebun seluas 12,8 ha itu tumbuh 1.000 pohon durian monthong dan chanee. Kebanyakan berumur sekitar 25—27 tahun. Dari kebun warisan orangtua itu Busaba memperoleh 10-juta Baht per tahun atau setara Rp3,28-miliar dari 200 ton durian. “Wah, ngga main-main ini usahanya,” komentar Jeffri Ardianto Suminto, pengusaha mesin pendingin asal Jakarta.

Pameran Horti Asia

Perjalanan selanjutnya menuju pameran Horti Asia 2013 yang berlokasi di Bangkok International Trade & Exhibition Centre (BITEC), Bangkok. Chinakit Viphavakit, manajer proyek Horti Asia 2013, menuturkan perhelatan yang berlangsung pada 9—11 Mei 2013 itu berhasil menghadirkan lebih dari 140 peserta dari 20 negara seperti Perancis, Taiwan, Belanda, India, dan Jerman. Setiap negara menyuguhkan teknologi dan produk hortikultura termasuk peralatan pertanian terbaru. “Horti ASIA 2013 berkomitmen untuk memperkuat Thailand dan potensi kompetitif petani ASEAN di pasar global,” ujar Chinakit.

Pameran yang dibuka Menteri Pertanian dan Koperasi Thailand, Thammarat Wanglee, itu antara lain menghadirkan teknologi penyortir buah dan sayuran memakai sinar inframerah pendek alias near infrared. Teknologi yang diboyong Taste Tech asal Selandia Baru itu menawarkan kemampuan untuk menyortir berdasarkan tingkat kemanisan, cacat internal, dan warna internal.

Hebatnya, sortir dilakukan tanpa menimbulkan kerusakan. Proses berjalan ketika buah melewati alat pendeteksi berbentuk seperti tabung berwarna biru. Di bawah tabung itu alat menyinari buah dengan lampu kemudian mendeteksi dan menganalisis kualitas buah. Sistem mesin yang terintegrasi dengan perangkat lunak memungkinkan buah disortasi sesuai kelompok yang diinginkan. Misalnya, berdasarkan tingkat kemanisan tertentu.

Teknologi di bidang pertanian berkembang cukup pesat seiring peningkatan permintaan produk hortikultura di berbagai belahan dunia. “Tur ini sangat berguna untuk para pelaku bisnis hortikultura. Seperti kita lihat di pameran (Horti Asia), kita seharusnya bisa mencontoh teknologi yang bisa diterapkan dalam industri hortikultura di tanahair,” tutur Jeffri. (Kiki Rizkika)

 

FOTO:

 

  1. Batang utama durian dipertahankan pendek
  2. Keceriaan peserta saat panen buah duku di kebun buah milik Sawsudji
  3. Para peserta Horti Asia Agro Tour 2013 berfoto bersama Chinakit Viphavakit (tengah, berdasi), manajer proyek Horti Asia 2013
  4. Kan yao, durian unggulan Thailand
  5. Alat sortasi beragam buah dan sayuran asal Selandia Baru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Beras Pratanak Dikembangkan untuk Tingkatkan Nilai Tambah Petani

Trubus.id — Beras pratanak dengan indeks glikemik rendah dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah hasil panen sekaligus mendorong kesejahteraan petani....

More Articles Like This