Sunday, November 27, 2022

Hujan Tetap Kering

Rekomendasi

Gabah kering dalam 1,5 jam meski musim hujan. Menggunakan bantuan lensa cembung untuk mengumpulkan panas.

T Bukannya gembira, Anda Sukanda malah berdukacita menyambut musim panen padi pada Februari 2010. Ketika itu seluruh petani di desanya serentak memanen padi. Harga gabah kering panen (GKP) pun anjlok hingga Rp2.200 per kg. Pada musim panen Juni 2009, harga GKP mencapai Rp2.600 per kg.

Petani di Desa Pasirangin, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, itu mestinya bisa memperoleh harga Rp3.000—Rp3.200 per kg bila menjual gabah kering dengan kadar air maksimal 14%. Kondisi itu didapat dengan menjemur gabah di bawah sinar matahari. Pada musim kemarau cukup selama 1—2 hari. Pada Februari yang musim hujan butuh waktu hingga 5—7 hari. Itulah sebabnya Anda lebih memilih menjual gabah kering panen meski harga anjlok.

Lensa
Menurut kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Jawa Barat, Dr Ir Nandang Sunandar MP, musim panen bertepatan dengan musim hujan bagai buah simalakama bagi petani padi. Tanpa pengeringan, harga jual gabah anjlok. Dengan mengeringkan petani harus mengeluarkan biaya dan tenaga ekstra karena masa pengeringan lebih lama. Sebab petani masih mengandalkan pengeringan dengan sinar matahari.
Andai petani menggunakan alat pengering padi hasil rancangan Yolla Miranda, panen di musim hujan bukan lagi kendala. Cara kerja pengering kreasi peraih Karya Inovasi Terfavorit runner up Lomba Karya Cipta Inovasi Teknologi Pertanian yang diselenggarakan Kementerian Pertanian itu sederhana.
Pengeringan terbuat dari kotak kaca berukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm. Dinding kotak menggunakan kaca agar gabah yang disimpan dalam kotak tetap optimal memperoleh sinar matahari. Pengering dilengkapi 1 lampu pijar dengan arus listrik searah bertegangan 12 volt sebagai sumber energi panas.
Untuk mengoptimalkan panas dalam ruang, siswi SMU Negeri 2 Kuningan, Jawa Barat, meletakkan 4 lensa cembung ganda yang dipasang di empat titik di setiap dinding dan 3 lensa di atap ruang pengering. Lensa menempel ke permukaan dinding kaca bagian dalam.  Lensa itu berperan mengumpulkan cahaya lampu dan memantulkannya ke satu titik di bagian tengah lantai berwarna hitam.
Di titik itulah cahaya berkumpul dan akhirnya menimbulkan panas, persis seperti efek suryakanta. Rambatan panas mengeringkan gabah yang ditumpuk di permukaan lantai. Lantai dicat hitam supaya mampu menyerap panas. Berkat teknologi sederhana itu, suhu dalam ruang mencapai 40oC pada saat mendung dan hujan. Padi kering dalam waktu 1,5 jam.

Cadangan listrik
Untuk menyalakan lampu Yolla menggunakan energi listrik dari sel surya sederhana terbuat dari dua lempengan tembaga berukuran 15 cm x 30 cm. Mula-mula Yolla membakar salah satu lempeng tembaga hingga muncul jelaga hitam yang merupakan oksida tembaga. Menurut dosen di Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Universitas Indonesia, Dr Djoko Triyono, oksida tembaga berefek fotoelektrik. Maksudnya mampu menghasilkan elektron bila terpapar cahaya dengan frekuensi dan energi tertentu.
Diamkan lempeng tembaga hingga dingin dan oksida hitam mengelupas. Lalu usap permukaan lempeng tembaga dengan lembut di bawah air mengalir hingga oksida hitam benar-benar hilang dan terlihat oksida tembaga berwarna merah. Setelah itu barulah Yolla mencelupkan kedua lempeng tembaga ke dalam tabung berisi larutan garam dapur secara terpisah dan tidak bersentuhan. Tinggi air garam sekitar 5 cm di bawah tinggi lempeng. Djoko menuturkan air garam merupakan elektrolit penghantar listrik yang baik.
Jepit kedua ujung lempeng yang tidak terendam dengan capit buaya yang terhubung dengan ke baterai aki. Lempeng tembaga yang dibakar menghasilkan ion negatif, dihubungkan ke kutub negatif baterai. Sementara lempeng yang tak dibakar menghasilkan ion positif, dihubungkan ke kutub positif baterai. Jadilah sel surya sederhana. Pada kemarau saat matahari bersinar penuh, Yolla mengoperasikan sel surya sehingga menghasilkan arus litrik. Energi itu disimpan dalam baterai aki untuk cadangan listrik saat mendung dan hujan.

Kelompok
Pengering gabah karya Yolla memang masih berupa prototipe. “Prototipe itu dapat dikembangkan dalam ukuran lebih besar. Pengering seluas 4 m x 4 m x 4 m misalnya mampu menampung 2—3 ton gabah,” tutur Nandang. Dinding ruang pengering dapat diganti dengan plastik ultraviolet (UV) 80% sehingga ongkos pembuatan lebih hemat.
Nandang memperkirakan biaya pembuatan ruang pengering ukuran 4 m x 4 m x 4 m berdinding plastik UV mencapai Rp4-juta—Rp5-juta. Supaya kian ringan, “Sebaiknya alat pengering itu dibuat oleh kelompok tani sehingga dapat digunakan secara bersama-sama,” ujar Nandang. (Imam Wiguna)

Previous articleTernak Merpati
Next articleKalung Bunga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img