
Perangkai bunga Indonesia menghadirkan tema hutan kota dan meraih jawara di ajang internasional.

Ruang terbuka hijau di perkotaan kian menyempit. Padahal, masyarakat membutuhkan ruang terbuka hijau minal 30% dari total luas kota. Lomba merangkai bunga amatir di pagelaran 11th International FDSS Cup, Floral Designing Competition, Singapore Garden Festival 2018 mengangkat tema ruang terbuka hijau seperti hutan kota. Perangkai asal Bandung, Jawa Barat, Muhammad Iqbal Aditya Nuryasin, menorehkan prestasi membanggakan lantaran berhasil sebagai juara pertama.
Iqbal, sapaannya, memvisualisasikan urban jungle alias hutan kota dalam rangkaian bunga yang sangat menarik. Rangkaian berkonsep keseimbangan itu unik lantaran berpenampilan menyerupai pendulum. Alih-alih menggunakan vas sebagai wadah flora, Iqbal justru memakai bola sepak mini. Ia membalut bola dengan mos lalu menghiasnya dengan aneka anggrek seperti vanda, phalaenopsis, cymbidium, dan oncidium ‘golden shower’.
Karya kejutan
Rangkaian makin nyentrik dengan tambahan aksesori berupa wayang sebagai identitas budaya bangsa Indonesia. Iqbal mengaitkan rantai untuk mengikatkan bola sepak itu di tiang besi. Jadilah pendulum. Rangkaian karya Iqbal itu sukses menyabet juara pertama usai menyisihkan 20 peserta dari negeri jiran seperti Malaysia, Makau, Singapura, dan Hongkong.
Iqbal gembira rangkaian bunga bikinannya mendapat penghargaan tertinggi dari para juri. Apalagi ini kali pertama ia mengikuti lomba merangkai bunga internasional. “Semula saya sempat ragu saat melihat peserta lain yang menampilkan rangkaian bunga tak kalah atraktif,” katanya. Pria berumur 21 tahun itu amat bangga atas prestasinya. Iqbal juga membuat rangkaian kejutan.

Disebut kejutan karena panitia merahasiakan materi flora dan tema lomba sehingga peserta lomba tidak mengetahui. Peserta baru mengetahui tema rangkaian dan flora yang digunakan pada hari berlangsungnya lomba. “Tema kejutan yang diberikan panitia adalah rangkaian meja koktail,” kata Iqbal. Adapun flora yang digunakan antara lain aster, gerbera, anyelir, janur, dan dracaena.
Selain Iqbal, Varick Simenon turut berlomba. Perangkai asal Surabaya, Jawa Timur, itu menampilkan rangkaian berkonsep ‘Beacon of Hope’ yang artinya setitik harapan. Ia memanfaatkan bahan-bahan daur ulang untuk membuat rangkaian. Struktur utama rangkaian mirip menara tersusun dari sumpit bekas. Sementara replika gedung berwarna perak terbuat dari kotak susu.

Varick lantas menghias konstruksi itu dengan aneka anggrek seperti dendrobium, phalaenopsis, mokara, dan cymbidium. Juga tillandsia, asparagus fern, dan daun green bell. Ia juga melengkapi karyanya dengan efek air terjun dan suara burung. Dengan begitu pengunjung seolah berada di alam bebas. Varick menuturkan, pemanfaatan bahan-bahan daur ulang merupakan upaya untuk menanggulangi masalah limbah.
Sayangnya, rangkaian bikinan Varick belum mampu mencuri perhatian juri. Namun, pria berusia 26 tahun itu tak berkecil hati. “Saya sudah sangat gembira bisa menyampaikan pesan pada pengunjung bahwa dunia akan seindah rangkaian buatan saya jika masalah limbah bisa teratasi,” katanya. Dengan begitu bencana alam seperti banjir dan tanah longsor bisa dicegah.
Prestasi
Perangkai asal Jakarta Barat, Grace Yanuar, bersama dengan tim Eka Karya Graha Flora, juga unjuk kebolehan di kelas perangkai bunga profesional. Grace beradu kreativitas dengan perangkai bunga dari Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Tiongkok, Vietnam, Taiwan, dan Jepang. Pemilik toko bunga Floral Design Studio itu mengambil tema rangkaian ‘Celebrating The Cycle of Live’.
Tema itu tercermin dari kehadiran bunga krisan yang melambangkan keabadian, kesetiaan, dan optimisme. Grace memilih warna merah jambu dan putih sebagai simbol cinta tanpa syarat dan penuh pengertian. Ia juga menggambarkan secara apik setiap fase kehidupan dengan menggunakan kayu yang disusun berlapis. Perangkai bunga di Jakarta Selatan, Andy Djati Utomo S.Sn, AIFD CFD, mengapresiasi para perangkai bunga di ajang internasional.
“Apalagi Indonesia sudah 6 kali ikut serta di kelas perangkai bunga amatir pada acara Singapore Garden Festival, tetapi baru kali ini tampil sebagai juara,” katanya. Oleh karena itu, Andy mendorong perangkai lainnya agar jangan takut mencoba. Para perangkai muda harus selalu mengasah kemampuan merangkai bunga mulai dari teknik-teknik dasar agar rangkaian bunga sempurna.
Andy menuturkan lomba merangkai bunga ajang untuk menantang kemampuan perangkai untuk menghasilkan rangkaian yang menarik dalam waktu singkat. “Menghadirkan rangkaian bunga yang sempurna dalam sebuah lomba bukan perkara mudah,” kata Andy. Banyak faktor mempengaruhi kinerja perangkai antara lain keindahan desain, keserasian materi dengan tema, waktu, lawan tanding, serta kekuatan fisik dan mental perangkai. (Andari Titisari)
