
Suppasiri Chaovanic mengoleksi beragam tanaman unik dan langka. Ia menanamnya di halaman rumah hingga mirip hutan yang tertata apik.
Berada di halaman rumah Suppasiri Chaovanish seolah di pinggir hutan lebat. Halaman rumah seluas 1.500 m2 itu penuh dengan ratusan jenis tanaman. Belasan Alcantarea imperialis variegate, menyambut kehadiran pengunjung. Kerabat bromelia paling besar itu tumbuh di sisi kanan halaman. Alcantarea variegata itu memiliki beragam corak variegata. Ada yang strip putihnya dominan, dan ada yang corak hijau dominan.
Sebagai pemanis, Suppasiri menghadirkan batu karang besar. Di sisi tengah, alcantarea berpadu dengan bromelia warna merah. Ada pula sikas setinggi di 3 m dan biola cantik Ficus lyrata sebagai latar. Pengunjung juga menyaksikan koleksi eksklusif yang lebih beragam, seperti helikonia, anthurium, palem, plumeria, araceae, palem-paleman, dan cycads. Tanaman rambat seperti lada, hoya, dan philodendron yang menutupi permukaan dinding.
Bahkan anggrek macan Grammatophyllum speciosum juga hadir di kebun raya mungil itu.Hutan mungil itu berisi koleksi eksklusif yang langka. Hom—nama panggilan Chaovanish—mengumpulkannya sejak usia 15 tahun. Warga Pathumthani, Thailand, itu mengikuti hobi orang tuanya mengumpulkan tanaman hias langka. Untuk mendapatkannya, ia membeli dengan uang hasil tabungan. Hingga kini, koleksinya terus bertambah hingga memenuhi halaman rumah.

Tanaman lokal dan gurun
Suppasiri Chaovanish sohor sebagai kolektor tanaman hias eksklusif di Thailand. Namanya pun dikenal oleh pemain tanaman hias di berbagai negara di Asia Tenggara hingga Amerika Serikat. Untuk mendapatkan tanaman koleksi, hampir setiap bulan Hom terbang ke berbagai negara seperti Panama, Kolombia, dan negara-negara di Amerika Selatan. Di sana ia mencari tanaman langka atau eksklusif tropical cycads, sukulen, dan tanaman mutasi.

Ia mencari sosok mutasi daun variegata dan kelainan bentuk. Contohnya, golden cycad dari Tiongkok yang warna daunnya kuning keemasan. Ada pula talas jumbo dari Papua dan palem Licuala cordata dari Sarawak, stangeria dari Afrika, Zamia misophylla dari Panama, serta aneka anthurium dari Ekuador. Hom merupakan salah satu kolektor palem dan bromelia terlengkap di Thailand.

Meski demikian Hom tetap mengutamakan tanaman di negerinya. Ia misalnya mendapat tifa variegata, Barringtonia macrocarpa, hingga thai banana alias banana budha pray. Hom membudidayakan sebagian tanaman itu langsung di tanah dan sebagian di pot. Palem-paleman kebanyakan ditanam langsung di tanah. Agar hutan itu tetap cantik, Hom menghadirkan episcia untuk menutup permukaan tanah.

Tanaman berdaun cantik itu tumbuh cepat dan menutupi sebagian permukaan tanah di bawah pohon sehingga rumput liar sulit tumbuh. Selain berdaun cantik, episcia pun rajin berbunga meski ternaungi. “Saya menanamnya karena episcia berbunga, saya suka bunganya. Selain itu, ia mudah tumbuh,” ungkap pemuda 34 tahun itu. Salah satu koleksi berbunga kesukaannya ialah Welwitschia mirabilis.

Tinggi tanaman mencapai 2 meter. Di habitatnya, tanaman itu langka. “Agar tidak dicuri orang, pemerintah memasang ranjau di sekiatrnya agar orang takut mendekat,” kata Hom. Sebagian besar koleksi merupakan tanaman tropis. Namun, Hom juga mengumpulkan tanaman kaktus dan sukulen yang sedang naik daun di Thailand dan negara-negara lain di Asia Tenggara. Hom menempatkan koleksinya di teras depan dan samping rumah.
Di dalam greenhouse itu dapat dijumpai aneka kerabat agave, adansonia, gymnocalycium, aloe, dan sensevieria. Tanaman-tanaman itu sedikit memerlukan air, maka atap dan dinding teras tertutup kaca sehingga sinar matahari leluasa masuk. Adapun kelembapan udara relatif stabil. Dari ruang itu, Hom dan keluarga leluasa menyaksikan ikan arwana merah dan silver asal Kalimantan, Indonesia. Ikan dewa itu kini beranak- pinak di kolam, meski tidak dirawat intensif.
Jaring peneduh

Untuk menjaga penampilan tanaman agar daun-daun yang berwarna putih tidak terbakar, Hom memasang jaring peneduh di atas tanaman atau setinggi 10 m dari permukaan tanah. Warna daun variegata memang mudah terbakar bila terpapar sinar matahari terik. Tinggi tanaman mulai dari 10 cm hingga 7m yang tumbuh dengan bebas seperti di hutan tropis. Meski demikian, penataan tanaman tetap apik seperti sebuah taman.
Ia menghadirkan jalan-jalan setapak di antara lebatnya penanaman. Dengan demikian Hom leluasa melihat dan memeriksa koleksi tanamannya. Untuk menambah keindahan tamannya, Suppasiri Chaovanish menghadirkan air terjun buatan setinggi 3 meter. Airnya mengalir ke sebuah sungai kecil selebar 100 cm menuju kolam di balik rumah tinggal. Ada pula kursi-kursi dan meja batu untuk sekadar menghabiskan waktu senggang.
Bagi Hom dan keluarga taman di sekitar air terjun merupakan zona favorit untuk bersenda-gurau. Untuk menambah alami taman tropis itu, Suppasiri Chaovanic meletakkan seperangkat meja dan bangku dari fosil kayu berwarna hitam putih. Di sanalah Hom menikmati keteduhan hutan tropis mini. (Syah Angkasa)

