Trubus.id— Aplikasi sistem tanam berbasis internet of things (IoT) pada kebun melon memudahkan pekebun. Arip Nurahman misalnya menerapkan sistem tanam berbasis internet of things (IoT) dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat.
Pekebun melon di Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat itu menggunakan alat canggih besutan PT Inovasi Telematika Nusantara. Penerapan teknologi itu memungkinkan penyiraman dilakukan cukup lewat gawai sehingga lebih mudah.
Arip hanya memencet tombol siram maka dalam waktu 4 menit penyiraman otomatis berjalan. Arip bahkan bisa menyiram tanaman tanpa perlu mengunjungi kebun.
Teknologi smart farming yang terpasang dalam rumah tanam itu juga mampu mendeteksi pH tanah, kelembapan udara, suhu udara, dan intensitas cahaya.
Ia bersama tim meramu pupuk sendiri untuk memasok kebutuhan nutrisi tanaman. Ia melarutkan 1,2 kg pupuk yang mengandung unsur makro (N, P, K, Ca, Mg, S) dan unsur mikro (Cu, Mn, Zn, Fe) dalam 1.000 liter air.
Pada umur 1—20 hari setelah tanam (hst) dosis pupuk yang diberikan sebanyak 1.000 ppm setara 200 ml per kantong tanam. Sementara pada umur 21—45 hst dosis meningkat menjadi 1.500 ppm.
“Pada umur 21—45 hst terjadi pembentukan buah sehingga dosis pupuk ditingkatkan,” kata Arip.
Saat tanaman berumur 46 hst dosis pupuk dikurangi menjadi 1.000 ppm hingga waktu panen. Berkat penerapan sistem tanam IoT, Arip mampu mengontrol kebutuhan air dan nutrisi tanaman dengan efektif dan efisien.
Bagi pekebun melon ketepatan nutrisi menjadi faktor penting untuk mendapatkan buah bermutu. Bahkan kelebihan nutrisi pada tanaman belum tentu menghasilkan buah yang baik.
