Sunday, May 10, 2026

Jagung Melimpah dari Ladang Intensif

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id – Budidaya jagung secara intensif menjadi solusi strategis untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Konsep ini mengedepankan pendekatan menyeluruh, mulai dari pengolahan tanah, pemilihan benih unggul, hingga teknik pemupukan dan pola tanam yang presisi.

Menurut Prof. Dr. Ir. Mohammad Cholil Mahfud, M.S., peneliti dari Jawa Timur, budidaya jagung modern dimulai dari pengolahan tanah dengan traktor hingga kedalaman 20 sentimeter. Tahap awal ini penting untuk menggemburkan tanah dan memperkuat perakaran tanaman jagung.

Benih jagung yang digunakan sebaiknya jenis hibrida yang adaptif terhadap kondisi lingkungan setempat. Petani juga disarankan menambahkan pupuk organik atau kotoran hewan sebagai pupuk dasar. “Akar tumbuh sempurna dan tanaman berkembang optimal bila tanah gembur,” ujar Cholil.

Salah satu inovasi penting adalah penggunaan sistem tanam jajar legowo. Jarak tanam ideal yaitu 120 cm x 60 cm x 12,5 cm dengan satu benih per lubang, atau alternatif lain 90 cm x 40 cm x 40 cm dengan dua benih per lubang. Metode ini memungkinkan populasi tanaman lebih padat.

Bandingkan dengan pola konvensional yang digunakan petani Lamongan: 75 cm x 75 cm x 20 cm dengan satu benih per lubang. “Populasi hanya sekitar 64.000 tanaman per hektare. Dengan jajar legowo bisa mencapai 82.000 tanaman,” ungkap Cholil.

Pemupukan intensif pun menjadi kunci keberhasilan budidaya jagung modern. Total kebutuhan pupuk mencapai 300–500 kilogram Urea ditambah 200–400 kilogram phonska (15 : 15 : 15) per hektare. Pemupukan dilakukan dalam tiga tahap dan dengan teknik ditugal.

Pada umur 7–10 hari setelah tanam (HST), petani memberikan 400 kg phonska dan 100 kg Urea atau 20% dari total kebutuhan. Pemupukan kedua saat tanaman berumur 25–30 HST dengan tambahan 200 kg Urea, lalu dilanjutkan 200 kg Urea lagi pada usia 40–45 HST.

Sayangnya, banyak petani masih memupuk dengan cara disebar di permukaan tanah. “Cara ini membuat 40% pupuk menguap,” ujar Cholil. Menugal, atau membuat lubang kecil untuk pupuk, mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas hingga 29%.

Meski biaya produksi meningkat akibat penerapan teknologi ini, hasilnya pun sepadan. “Keuntungan petani justru meningkat berlipat-lipat,” kata Ir. Aris Setiadi, M.M., praktisi pertanian itu.


Artikel Terbaru

Hantavirus dan Ancaman Zoonosis Global, Ini Penjelasan Epidemiolog UNAIR

Trubus.id— Kasus gangguan pernapasan berat yang dialami sejumlah penumpang kapal pesiar MV Hondius memunculkan dugaan infeksi hantavirus dan menjadi...

More Articles Like This