Cara cepat mengganti avokad varietas jelek dengan top working.

Ratusan pohon avokad yang tumbuh di kebun miliz Roni Krismawan di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, itu berbuah kecil. Sudah begitu buah berkulit kurang menarik, dan rasanya kurang lezat. Padahal, ia ingin sekali mencecap buah avokad varietas unggul yang berbuah besar, rajin berbuah, dan rasanya enak. Namun, perlu waktu lama jika ia menanam lagi dari bibit.
Roni lalu menebang satu per satu pohon avokad yang berkualitas jelek itu. Total 200 pohon avokad koleksinya yang ia tebang. Namun, Roni tidak menebang batang pohon Persea americana itu sampai habis. Ia menyisakan batang pohon 50—100 cm dari permukaan tanah. Roni memotong batang sangat hati-hati agar pohon tidak stres. Ayah dua anak itu menebang pohon menjelang musim hujan agar tunas lebih mudah tumbuh.
Top working
Beberapa pekan kemudian sejumlah tunas muda pun muncul pada bekas tebangan. Roni lalu menyeleksi tunas yang pertumbuhannya paling baik. Dari hasil seleksi itu ia hanya menyisakan 4 tunas. Roni menunggu hingga daun-daun tunas tumbuh dewasa. Cirinya daun-daun yang tumbuh dari tunas baru itu berwarna hijau tua. Ia lantas menyayat miring setiap tunas, lalu menempelkan batang atas atau entres avokad varietas lain yang juga disayat miring.
Roni memilih avokad varietas unggul sebagai batang atas, seperti hawaii, miki, hass, dan shepard. Pasar menyukai buah keempat jenis avokad itu. Selain itu avokad-avokad itu juga berbuah cepat, bercita rasa enak, dan berpenampilan menarik. Agar proses sambungan berhasil, ia memilih entres sehat dan segar. Panjang entres sekitar 10—15 cm atau memiliki 3—5 mata tunas.
Setelah menyambung entres, ia mengikat sekeliling sambungan menggunakan tali plastik. Selanjutnya Roni menutup sambungan dengan plastik agar terhindar dari hujan dan sinar matahari yang terik. Menurut Roni sambungan berhasil bila tumbuh tunas baru pada entres. Tingkat keberhasilan sambungan sekitar 75—80%. “Keberhasilan sambungan bisa dilihat 2—3 pekan setelah sambung,” katanya.

Jika gagal, batang atas biasanya berwarna cokelat dan kering. Teknik penggantian varietas seperti dilakukan Roni kerap disebut top working.
Untuk perawatan, Roni rajin memangkas ranting dan daun saat musim hujan. Ia membuang ranting dan daun yang kurang terkena sinar matahari. “Ranting yang kurang sinar matahari hanya menjadi beban bagi tanaman,” katanya. Pohon avokad hasil top working pada 2015 itu mulai berbuah pada umur 2—3 tahun. “Saat ini sudah ada 15 pohon yang berbuah, yaitu wina, hawai, miki, dan jenis lokal genjah,” tutur Roni. Dari keempat varietas itu wina yang paling lebat. Ia memanen avokad wina dari pohon hasil top working hingga 50 kg.
Lebih unggul
Roni melakukan top working pada avokad karena terinspirasi kesuksesan pekebun durian di Malaysia dan Thailand. Mereka mampu membuahkan durian dalam waktu singkat. Roni melihat kebun durian di negeri jiran itu berpostur pendek, rimbun, tapi berbuah lebat. Kondisi pohon seperti masih langka ditemukan di tanahair. Roni pun menelusuri rahasia budidaya yang diterapkan pekebun di sana.
“Rupanya pekebun durian itu menggunakan teknik top working,” tuturnya. Pekebun mengganti pohon durian yang malas berbuah dengan varietas unggul yang produktif dan bercita rasa jempolan. Roni juga menempuh teknik top working untuk menguji daya adaptasi dan produktivitas avokad jenis baru yang sedang naik daun di kalangan pehobi buah seperti avokad tanpa biji.
Menurut Dr Ir Mohamad Reza Tirtawinata, pakar buah di Bogor, Jawa Barat, teknik top working memiliki berbagai keunggulan, yaitu batang sudah kokoh sehingga pertumbuhan tanaman lebih baik dan produksi buah tetap tinggi. Perakaran pun mapan. Begitupula daya tahan terhadap lingkungan sudah teruji. Pekebun juga bisa menggabungkan beberapa varietas dalam satu pohon. (Andari Titisari/Peliput: Marietta Ramadhani)
