Friday, December 9, 2022

Jali Enak di Telinga, Lezat di Lidah

Rekomendasi

Ini dia si jali-jali. Lagunya enak lagunya enak merdu sekali … Bukan hanya lagunya yang enak, bubur jali juga lezat.

 

Tanaman perdu bernama jali dahulu memang banyak tumbuh di pekarangan masyarakat Betawi. Anak-anak memanfaatkan buah jali berukuran kecil seperti biji kecipir, licin, dan berwarna cokelat kehitaman sebagai pelor. Senapannya terbuat dari bilah bambu dan karet gelang. Ketika ujung senapan ditekan, pelor biji jali-jali pun meluncur. Gadis remaja meronce biji Coix lacryma- jobi menjadi tirai pintu kamar.

Di tangan ibu-ibu Betawi, jali  menjadi bubur yang sohor sebagai bubur jali. Alim ulama memanfaatkannya sebagai biji tasbih. Lantaran sangat dekat dengan masyarakat Betawi, nama jali kemudian diabadikan ke dalam perbendaharaan bahasa Betawi yang berarti bersih dan rapi. Di Jakarta sekarang, anak-anak hanya mendengar namanya tanpa pernah melihat sosok tanaman anggota famili Poaceae itu. Kerabat jagung itu memang langka.

Panen berulang

Di ibukota boleh saja jali tinggal cerita. Namun, di Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, jali terus tumbuh hingga kini. Masyarakat setempat memang membudidayakan tanaman berbatang dengan tinggi mencapai 174-185 cm. Dalam satu tanaman biasanya terdapat 2-3 anakan. Budidaya jali relatif mudah meski di lahan kurang subur dan tahan kering.

Adi Lasiran, misalnya, menanam jali di pematang sawah sejak 2008. Ia tergerak menanam jali karena dapat diolah menjadi beras yang harganya cukup tinggi.  Selain Lasiran, pekebun lain yang menanam jali adalah Karjono di lahan 25 m2 dan Sigit Wahyudi di lahan 200 m2. Karjono menanam jali di tegalan sebagai tanaman sampingan,  tanaman utamanya jagung dan ubi kayu. Sigit membenamkan 40 kg pupuk organik sebelum penanaman. Pemupukan berikutnya ketika tanaman berumur 3 pekan dan 40 hari dengan NPK dan Urea dosis 1 kg pada umur 40 hari.

Pada umur 95-116 hari, ia memanen biji-biji jali. Saat panen, Lasiran dan Sigit tinggal memangkas dan menyisakan batang 15 cm di atas permukaan tanah. Dari luasan itu Sigit memperoleh 4 kg biji pada panen perdana. Dari batang bekas potongan itu akan muncul tunas baru  sepekan pascapangkas. Selang 40 hari, Sigit memanen jali untuk kedua kalinya. Setelah menerapkan teknik panen itu, Sigit dapat 3 kali panen berinterval 40 hari. Setelah itu ia membongkar tanaman dan mengganti dengan bibit baru.

Dengan teknik budidaya seperti itu, Sigit  memperoleh total 6 kg biji jali dari lahan 200 meter dalam 3 kali panen. Produktivitas jali rata-rata 3-4 ton per ha. Bandingkan dengan produktivitas jagung dan padi yang mencapai 6 ton per ha. Daya simpan biji  jali lebih tinggi daripada jagung. “Daya simpan biji jali bisa mencapai 2 tahun, sementara jagung hanya 3 bulan,” kata Dr Ir Agus Setyono MS, mantan peneliti di Balai Penelitian Tanaman Padi.

Serbaguna

Sigit mengolah biji jali menjadi butiran halus berwarna putih. Ia menggunakan lumpang beralas merang padi atau kulit jagung saat penumbukan agar biji tidak bertebaran. Maklum, tekstur biji jali keras dan licin sehingga ketika antan menumbuk kerap kali biji bertebaran. Alternatif lain, menggunakan mesin pengolah jagung, tetapi beras jali pecah. Untuk menghasilkan beras jali, rendemennya 45-50%. Untuk memperoleh 1 kg ”beras” jali perlu 2 kg biji.

Pengolahan biji menjadi beras meningkatkan nilai tambah. Harga jualnya pun lebih tinggi, mencapai Rp8.000-Rp10.000 per kg. Bandingkan bila masih dalam bentuk biji kering yang hanya Rp3.000 per kg. Beras jali itulah yang siap olah menjadi beragam penganan seperti bubur, nasi, rengginang, jadah, tapai, dan wajik yang lezat. Dengan begitu jali tak hanya berfungsi sebagai mainan anak, tetapi juga bahan pangan alternatif.

Selain sumber pangan bergizi, jali juga bermanfaat bagi kesehatan. Secara turun-temurun jali berkhasiat mengatasi tumor saluran pencernaan, kanker paru, kanker mulut rahim, infeksi saluran kemih, dan radang paru. Untuk mengatasi tumor, misalnya, sebanyak 15-60 gram biji kering direbus dalam 6 gelas air hingga tersisa 2 gelas. Minum segelas air rebusan dua kali sehari. Untuk mengobati infeksi saluran kemih, pasien merebus 15-30 gram akar kering jali dalam 4 gelas air hingga tersisa 2 gelas. Setelah dingin, lalu minum 2 kali sehari, pagi dan sore, masing-masing satu gelas.

Begitu banyak manfaat jali menyebab-kan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Tepus berupaya melestarikan gandum mutiara cina alias jali. ”Tujuannya agar jali bisa menjadi komoditas khas Gunungkidul, selain ketan hitam dan mandel merah,” ujar Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Tepus, Sigit Wahyudi SP. Upaya pelestarian jali bermula pada 2010 ketika Sigit mengumpulkan biji dari penduduk di Desa Tepus dan Sumberwungu, Kecamatan Tepus, dan memperoleh 2 gelas biji jali setara 400 g.

Menurut Sigit luas penanaman jali di Tepus mencapai 1 ha. Meski memiliki segudang manfaat, tetapi saat ini keberadaanya langka. ”Mencari biji jali 1 kilogram saja susah,” kata Sigit Wahyudi. Musababnya, para pekebun tidak membudidayakan jali secara intensif seperti padi dan jagung. Kalaupun ada yang menanam, paling hanya di pekarangan rumah atau pematang sawah.  Capek sedikit tidak perduli, sayang, asalkan tuan senang di hati.  (Desi Sayyidati Rahimah)


^       Bubur jali, salah satu olahan jali

<       Jali kini semakin langka dan sulit diperoleh

Jali dapat dibudidayakan di lahan yang kurang subur dan tahan kering

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mentan Ingin Produk Hortikultura Segera Tembus Pasar Mancanegara

Trubus.id — Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menginginkan produk hortikultura, seperti buah dan sayur bisa tembus pasar mancanegara. Mengingat,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img