
Mengemas kekayaan tradisional berupa jamu dengan cara modern mendatangkan omzet ratusan juta. Jamu makin lezat di lidah.

Trubus — “Saya ingin mematahkan stigma jamu itu pahit, tidak enak, dan hanya diminum waktu sakit. Saya mau jamu menjadi gaya hidup,” kata Nova Dewi Setiabudi, M.Com. Itulah sebabnya setelah menyelesaikan studi pascasarjana di University of New South Wales, Sydney, Australia, Nova mendirikan kafe Suwe Ora Jamu. Namanya mengingatkan kita pada judul lagu karya Raden Cajetanus Hardjasoebrata yang dipopulerkan Waldjinah.
Kafe di Kelurahan Petogogan, Jakarta Selatan, itu menyediakan aneka olahan dan rasa jamu seperti kayumanis sitrus, sereh telang, dan kunyit asam. Ketika berdiri pada 2012, pelanggannya baru segelintir orang. Namun, kini konsumen kafe Suwe Ora Jamu melonjak signifikan, hingga 100 orang. Nova mengatakan, peningkatan konsumen itu selaras dengan peminat jamu dari kalangan anak muda meningkat yang hingga 500%.
Inovasi jamu
Nova memperluas pemasaran jamu dengan membuka kedai Suwe Ora Jamu di M-Bloc Space, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada September 2019. Kedai baru itu memungkinkan akses masyarakat untuk menikmati jamu makin luas. Menurut Nova masyarakat meminati jenis beras kencur, kunyit asam, dan kayumanis sitrus. Penjualan ketiga racikan dan racikan lain mencapai 100 botol bervolume 350 ml per hari.
Perempuan kelahiran 22 Oktober 1975 itu membanderol sebotol minuman itu rata-rata Rp35.000. Keruan saja pelanggan juga dapat menikmati beragam ramuan tradisional yang menyehatkan di kafe. Nova mengatakan, omzet Suwe Ora Jamu rata-rata Rp100 juta per bulan. Saat pandemi korona, kesadaran masyarakat mengonsumsi jamu kian meningkat. Ramuan-ramuan itu berkhasiat meningkatkan kekebalan tubuh. Itulah sebabnya permintaan jamu secara umum melonjak 1.000%.

Meski demikian, Nova terus berinovasi. Kreasi terbaru Nova adalah olahan sparkling soda jamu yakni minuman jamu bersensasi soda. Ia megemas minuman itu dalam kaleng bervolume 250 ml. Ia merilis produk baru itu pada Juni 2020 dengan harga Rp29.500. Anak-anak muda di perkotaan menjadi target pemasaran. Ramuan itu boleh dibilang perpaduan tradisional dan modern yang pas untuk generasi Z.
Selain itu Nova juga meracik jamu tisane, yakni bahan kering yang dibungkus dalam kantong satin seperti teh celup. Bahan kering itu antara lain seduh tiyasa, campuran kunyit Curcuma domestica dan rempah. Seduh anubhawa yakni campuran jahe Zingiber officinale bercita rasa lemon. Konsumen tinggal menyeduh sebuah kontong tisane dengan air mendidih, membiarkan beberapa saat, mereguk kenikmatan tanaman obat itu, dan merasakan khasiatnya.
Bahan organik
Kesegaran dan kualitas racikan menjadi perhatian Nova. Oleh karena itu, ia memilih bahan-bahan terbaik. Sekadar contoh, ia mensyaratkan panen empon-empon seperti rimpang kunyit, temulawak, dan jahe di atas setahun agar kandungan senyawa aktif dan minyak asiri lebih tinggi. Khasiat pun lebih terasa. Nova hanya menerima tanaman obat hasil budidaya organik. Penggunaan pestisida sintesis dan pupuk anorganik terlarang dalam budidaya.
Perempuan 45 tahun itu mendapatkan bahan baku dari petani mitra yang tersebar di Kabupaten Bogor dan Kota Sukabumi, kedua di Jawa Barat, Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah), dan Kabupaten Karangasem dan Singaraja (Provinsi Bali). Kini ia menjajaki kemitraan dengan para petani di Pulau Banda dan petani Pulau Bangka. “Petani kan spesialisasinya berbeda-beda, jadi, ini salah satu cara kami berbagi untuk membantu mengembangkan komoditas,” kata Nova.

Cara lain Nova menjaga kesegaran produk dengan meracik jamu di hari yang sama. Ia memasarkan racikan itu melalui media sosial. Permintaan dari konsumen mengalir ke media itu dan Nova melayani pada keesokan hari. Perempuan 45 tahun itu mengatakan, Suwe Ora Jamu menjadi penanda bahwa bangsa Indonesia punya sumber bahan jamu yang melimpah. Jadi, selalu teringat minum jamu seperti lantunan Waldjinah: suwe ora jamu, jamu godhong meniran, suwe ora ketemu, ketemu pisan dadi kepikiran….(Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)
