Jamur kuping sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu dalam tradisi masyarakat Cina. Bahan pangan yang berasal dari kelompok Auricularia ini dipercaya memiliki khasiat untuk membantu mengatasi berbagai keluhan kesehatan. Mulai dari tekanan darah tinggi, penyumbatan pembuluh darah, hingga gangguan pencernaan. Oleh karena itu, jamur kuping kerap masuk dalam ramuan obat tradisional Cina.
Kepercayaan tersebut lahir dari cara pandang yin dan yang, yaitu keseimbangan antara substansi dan fungsi organ tubuh. Bila keduanya tidak seimbang, penyakit diyakini akan muncul. Dalam tradisi itu, ramuan termasuk jamur kuping digunakan sebagai penyeimbang.
Sejumlah penelitian modern mulai mendukung sebagian manfaat jamur kuping. Konsumsi jamur ini dalam menu harian diketahui dapat melancarkan peredaran darah dan membantu mencegah penyumbatan pembuluh darah. Kandungan polisakarida di dalamnya juga dikaitkan dengan penurunan glukosa darah dan urine, serta penurunan insulin pada tikus diabetes genetik. Selain itu, penelitian lain menunjukkan jamur kuping dapat menurunkan LDL kolesterol tanpa memengaruhi HDL kolesterol.
Jamur kuping juga sering diolah bersama daging dan sayuran dalam bentuk tumis, sup, goreng, maupun panggang. Teksturnya yang berlendir justru dimanfaatkan sebagai pengental masakan. Dalam tradisi Cina, lendir jamur kuping dipercaya dapat membantu menetralkan racun dalam makanan.
Dari sisi gizi, jamur kuping mengandung kalium, seng, vitamin B, vitamin E, dan karotenoid. Kandungan ini mendukung tekanan darah, imunitas, fungsi saraf, dan perlindungan antioksidan. Tidak heran jamur kuping lebih tepat dipandang sebagai pangan pendukung pencegahan, bukan pengobatan tunggal. Konsumsinya pun sebaiknya tetap diimbangi dengan bahan pangan lain agar gizi tubuh tetap seimbang.
