
Trubus — Apa daya tarik bunga kacang panjang? Prof. Dr. rer. nat. Imam Widhiono M.Z., M.S. memandang lekat kuntum bunga itu sepanjang hari. Sejak pagi ia mencatat berbagai jenis serangga yang mengunjungi bunga Vigna cylindrica itu. Sayuran kacang panjang tersedia melimpah di pasar setiap hari. Keberhasilan pembentukan buah kacang panjang didukung oleh 12 jenis serangga. “Serangga meningkatkan keberhasilan pembuahan dan meningkatkan produksi 16—19%,” kata dekan Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, itu.
Serangga itu antara lain lebah kayu Xylocopa latipes memberikan manfaat optimal bagi bunga kacang panjang. Lebah hitam sangar tapi nyaris tidak pernah menyengat itu mengisap nektar sekaligus menyebarkan polen—serbuk jantan—dari satu bunga ke bunga lain. Bulu di tubuh, dada, dan kaki membuat polen yang lengket melekat sehingga mengoptimalkan perannya sebagai penyerbuk.

Putra.
“Bentuk kacang panjang atau buncis yang banyak dikunjungi Xylocopa lebih baik,” kata kepala Program Studi Rekayasa Pertanian Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Dr. Ramadhani Eka Putra. Penelitian Ramadhani dan mahasiswanya di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, menunjukkan, berkat penyerbukan silang oleh serangga—termasuk lebah xylocopa—jumlah kacang panjang yang lurus meningkat dibandingkan dengan yang bengkok atau melingkar.
Kacang panjang maupun buncis tergolong tanaman autogami, bunga bisa menjadi buah tanpa bantuan polinator. “Bunga autogami hanya mengandung sedikit nektar dan warnanya pun cenderung monoton,” kata Imam. Peran serangga penyerbuk ternyata tidak bisa dianggap sepele. Imam menyatakan, penyerbukan oleh serangga pada tanaman hortikultura meningkatkan kepadatan buah dan jumlah biji.
Ahli tanaman di Bogor, Jawa Barat, Dr. Ir. Mohamad Reza Tirtawinata, M.S. menyatakan, kehadiran biji meningkatkan kualitas organoleptik maupun morfologis buah. “Biji membuat buah lebih manis,” kata doktor Pertanian alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Reza mengatakan, hal itu karena biji meningkatkan aliran fotosintat—zat tepung hasil fotosintesis—ke dalam buah. Daging buah yang terbentuk menjadi lebih padat.

Pohon buah seperti mangga atau jambu biji pun terbantu pembentukan buahnya oleh serangga. Menurut Ramadhani Eka Putra tanpa bantuan serangga, fruitset (keberhasilan pembentukan buah dari bunga) maksimal hanya 80%. “Kalau didatangi penyerbuk dalam jumlah memadai di saat yang tepat, keberhasilan fruitset meningkat 10—15%,” kata Rama, panggilan Ramadhani. Di negara maju, penyediaan serangga polinator untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas buah menjadi bisnis menjanjikan.
Apalagi di negara subtropis yang masa produksinya hanya 3—4 bulan setahun. “Keterbatasan luasan lahan dan waktu menjadikan peningkatan produksi sangat berarti terhadap penghasilan pekebun,” kata Rama. Pekebun berani menyewa koloni penyerbuk dengan hitungan per hari. Sebaliknya di Indonesia, pekebun justru mengutip sejumlah uang jika ada penggembala lebah mendatangi kebunnya.
Serangga penyerbuk belum mendapat perhatian layak di Indonesia lantaran buah-buahan kebanyakan dijual dengan sistem curah. Kalau sebatang pohon mangga gedong gincu berumur 5 tahun menghasilkan 400—600 buah per musim per tahun, peningkatan 10—15% produksi berkat bantuan serangga setara 40—90 buah. Jika sekilogram mangga gedong gincu berisi 6 buah, tambahan itu setara 6,5—15 kg per pohon.

Harga di luar puncak musim berbuah berkisar Rp15.000—Rp17.000 per kg sehingga potensi tambahan penghasilan pekebun Rp97.500—Rp255.000 per pohon. Pekebun mangga di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Urip Ibrahim, menyatakan, pekebun di Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan kebanyakan menanam mangga di pekarangan rumah.
“Kepemilikan pohon berkisar 4—10 pohon per keluarga,” kata Urip. Mereka mengandalkan tengkulak yang membeli buah di pohon secara borongan. Tengkulak juga mengendalikan harga sehingga peningkatan produksi sejumlah itu tidak banyak berdampak terhadap pendapatan pekebun. Namun, di luar musim panen raya—biasanya pada akhir dan awal musim hujan—ketika tengkulak berani membayar per buah, barulah tambahan produksi itu terasa berarti.
Ramadhani menganjurkan pekebun membiarkan polinator bersarang di sekitar kebun agar penyerbukan silang terjadi tiap waktu tanpa mereka perlu melakukan upaya ekstra. Polinator di sekitar kebun mangga salah satunya kelulut Tetragonula laeviceps. Menurut Rama, “Waktu mekarnya bunga mangga cukup panjang dan susul-menyusul sehingga cocok dengan waktu aktif kelulut,” ungkap alumnus Universitas Kanazawa, Jepang itu. Pengamatan Rama menunjukkan, kelulut aktif pada pukul 06.00—14.00 kecuali hujan.
Otomatis lebah nirsengat itu hanya bisa menyerbuki bunga yang mekar pada saat itu. Kelulut tidak efektif menyerbuki buah naga merah Hylocereus polyrhizus lantaran sebagian bunga mekar saat malam. Pada malam hari pun ada penyerbuk yang aktif seperti kelelawar buah atau kalong Pteropus sp. Penggagas penelitian Project Pteropus of Rimba Research di Penang, Malaysia, Dr. Sheema Abdul Aziz menyatakan, kalong penyerbuk paling efektif pada bunga yang mekar malam hari, terutama durian (lihat boks Bunga Perindu Kelelawar).

Salah satu kelebihan kelulut mampu menyebuki bunga tanaman hortikultura yang kebanyakan berukuran kecil lantaran ukuran tubuh mereka juga kecil. “Ketika bunga di tanaman utama berkurang, mereka bisa bertahan hidup dengan nektar dari bunga tanaman liar di sekitarnya,” kata Ramadhani. Namun, kelebihan itu sekaligus menjadi kekurangan karena daya jelajahnya pun terbatas. Tetragonula laeviceps hanya efektif menyerbuki bunga dalam radius 100 meter dari sarang. Jenis kelulut yang sedikit lebih besar, Heterotrigona itama, mampu terbang 300—400 m dari sarang mereka.
Jarak itu jauh di bawah lebah madu komersial Apis mellifera yang lebih dari 1.000 m. Itu sebabnya lebah madu komersial mampu memproduksi banyak madu sehingga lebih menguntungkan untuk budidaya. Namun, lebah madu komersial juga memerlukan banyak bunga sehingga pemelihara mesti berpindah mengikuti musim bunga. Praktisi lebah di Kabupaten Pandeglang, Banten, Ajid, menyarankan pekebun tanaman buah maupun petani hortikultura memelihara lebah madu lokal alias tawon gula Apis cerana.
Ajid yang memelihara kelulut dan tawon gula itu menyatakan, tawon gula efektif menyerbuki tanaman berbunga kecil maupun besar sehingga koloni mampu bertahan saat musim paceklik bunga. Daya jelajahnya pun lebih jauh ketimbang kelulut. Kelebihan lain tawon gula adalah mampu melawan tawon predator jenis Vespa. “Tawon gula efektif menyerbuki pohon buah seperti rambutan, mangga, dan jambu atau tanaman hortikultura seperti cabai, mentimun, atau terung,” kata kepala SD Negeri Cilaja 4, Kabupaten Pandeglang, itu.
Serangga penyerbuk sejatinya tidak hanya dari kelompok lebah. “Lalat rumah maupun lalat hijau juga membantu penyerbukan lengkeng,” kata Ramadhani. Lalat tidak tertarik mencari nektar, tapi mereka terpikat oleh aroma wangi bunga lengkeng. Namun, pria 42 tahun itu tidak menganjurkan pekebun buah memelihara koloni lalat di kebun kecuali letak kebun benar-benar jauh dari pemukiman. Pasalnya, lalat juga leluasa terbang ke rumah-rumah dan menyebarkan berbagai penyakit.
“Kalau jumlah pekerjanya cukup, kelulut pun efektif,” kata Ramadhani. Meski berperan penting dalam pembentukan beragam bahan pangan maupun buah, penyerbuk belum mendapat penghargaan yang layak. Orang yang tidak tahu mengira kelulut adalah semut sehingga menyemprot sarangnya. Sarang tawon gula juga kerap menjadi target pemusnahan karena khawatir dengan sengatannya.

Pekebun juga sering menumpas lebah kayu Xylocopa karena sosoknya yang hitam besar dan dengungan sayapnya yang keras menakutkan banyak orang. Padahal, perubahan iklim saja membuat masalah besar bagi serangga polinator. Menurut Ramadhani minimal ada tiga dampak perubahan iklim terhadap koloni penyerbuk. Kenaikan suhu menyebabkan lilin sarang lebih sering rusak. Pekerja yang mestinya mencari makan mesti memperbaiki sarang sehingga waktu mencari makan berkurang.
Pergeseran siklus hujan membuat periode mengumpulkan nektar maupun polen berkurang. Dua faktor itu saja membuat cadangan madu menjadi di sarang lebih cepat terkuras. “Banyak pemelihara lebah mulai mengalami penurunan produksi,” kata Ramadhani. Namun, efek perubahan iklim yang paling fatal bagi koloni penyerbuk adalah pergeseran waktu berbunga. Menurut Prof. Imam Widhiono, efek itu disebut ketidakcocokan fenologis alias phenological mismatch.
Dampaknya waktu berbunga dengan waktu aktif penyerbuk tidak lagi cocok. Saat serangga aktif, bunga belum mekar sempurna sehingga nektar belum terbentuk. Dalam jangka panjang, jumlah koloni penyerbuk makin sedikit sampai akhirnya habis karena kelaparan. Imam menyebut kejadian itu colony collapse disorder (CCD) yang terjadi di banyak negara subtropis.
Itu sebabnya, Imam menyarankan tiga cara melindungi penyerbuk. “Pekebun atau petani harus mengenali dan melindungi penyerbuk di lahan mereka,” katanya. Setelah tahu jenis serangganya, langkah selanjutnya adalah melindungi sarang dan habitatnya. Tahap lebih jauh adalah dengan menyediakan sumber makanan. Ramadhani menyarankan penanaman bunga refugia berwarna cerah seperti kenikir, selasih, telang, atau kipahit di sekitar lahan.
Tanaman-tanaman itu berbunga hampir tiap saat dan menyediakan makanan darurat bagi penyerbuk saat paceklik bunga. Ia juga menyarankan untuk menyediakan air di wadah yang lebar. “Lebah memerlukan air untuk mempertahankan kelembapan sarang,” kata sulung dari 3 bersaudara itu. Masyarakat di negara maju banyak yang menyediakan air untuk lebah itu. Mereka juga menambahkan gula dalam air itu agar lebah mendapat tambahan makanan untuk bertahan dari paceklik.
Baik Imam maupun Ramadhani menyarankan pengurangan aplikasi pestisida saat bunga mekar. Tujuannya mengoptimalkan penyerbukan oleh serangga tanpa mengancam koloninya. Dengan demikian petani senang, serangga bisa makan, lingkungan pun lestari. Produksi beragam buah tetap terjaga berkat jasa makhluk kecil itu. (Argohartono Arie Raharjo)
