Thursday, August 18, 2022

Jasa Pisang Bagi Jabon

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Kompos batang pisang kaya nutrisi sehingga cocok untuk menghasilkan bibit jabon berkualitas prima

Harapan Joko Kristanto, bukan nama sebenarnya, memperoleh laba dari jabon 4 tahun mendatang pupus sudah. Jangankan tumbuh menjulang, ribuan bibit justru mati setelah daun berguguran. Peristiwa buruk itu terjadi karena Joko tergiur harga murah, yakni Rp500 per bibit. Sementara harga bibit dari biji di pasaran saat ini mencapai Rp2.500;  bibit kultur jaringan, Rp3.500.

Menurut pekebun jabon di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Ardha Primatopan, kejadian serupa juga terjadi di berbagai daerah seperti Subang, Jawa Barat, Palembang (Sumatera Selatan), dan Lampung. Penyebab kematian jabon secara massal itu akibat kualitas bibit buruk. “Sekarang ini banyak beredar bibit pithi yang mestinya dibuang,” ujarnya. Bibit pithi yang ia maksudkan adalah bibit berdaun kekuningan dan berbatang kecil, seukuran lidi.

Batang pisang

Bibit kadamba bermutu rendah kekurangan nutrisi sehingga pertumbuhannya kurang optimal. Maklum, untuk menghemat biaya produksi, beberapa penangkar bibit kerap menggunakan media tanam seadanya. “Biasanya mereka hanya menggunakan media tanam berupa campuran tanah, pasir, dan kapur,” kata Ardha. Mereka juga menggunakan polibag mungil berukuran 6,5 cm x 16 cm. “Idealnya ukuran polibag bibit 15 cm x 20 cm,” kata pemilik CV Jabon Kendal itu.

Jurus meraih laba besar bagi penangkar bibit, justru menjadi awal kerugian bagi pekebun Anthocephalus cadamba. Oleh karena itu Ardha mewanti-wanti agar calon pekebun berhati-hati membeli bibit, terutama bila penangkar menawarkan  harga lebih murah ketimbang harga pasar. Pastikan bibit yang dibeli berkualitas prima: daun hijau pekat dan terlihat segar. “Kalau kualitas bibit baik, kelak pertumbuhannya juga baik,” katanya.

Artinya, sukses berkebun jabon bermula dari bibit bermutu tinggi. Itulah sebabnya, kualitas bibit sangat penting. Padahal, untuk menghasilkan bibit bermutu tak selamanya berbiaya mahal. Helga Sugiarti, misalnya, hanya menambahkan kompos batang pisang untuk menghasilkan bibit bagus. Alumnus Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu mula-mula mencacah batang pisang hingga berukuran 1 – 2 cm agar pengomposan berlangsung cepat.

Setelah itu ia menambahkan dedak dengan perbandingan 2 : 1, dan mengaduk hingga merata. Helga menyiramkan larutan starter mengandung mikrob berkonsentrasi 2% ke seluruh bahan. Di pasaran terdapat beberapa starter antara lain efektif mikroorganisme (EM4), Green Agri, dan Starbio. Campuran berkadar air 30 – 40% sehingga campuran bahan dikepal air tidak keluar. Bila kepalan dilepas maka bahan akan mengembang.

Setelah itu ia masukkan seluruh bahan ke dalam ember yang di bagian bawah dan samping berlubang dengan diameter 0,5 cm untuk aerasi. Tutup bagian atas dengan bantalan sabut kelapa, lalu simpan selama 30 hari. Aduk campuran bahan sepekan sekali. Selama pengomposan pertahankan suhu adonan pada 40 – 50oC dan kelembapan 50%. Sebulan kemudian, saring kompos menggunakan ayakan berdiameter lubang 2,5 x 2,5 mm.

Berlimpah nutrisi

Helga mencampur kompos dengan tanah dan pasir, perbandingan 1 : 2 : 1. Keruan saja ia telah membersihkan pasir dari kotoran seperti daun, akar, dan ranting kering, serta menyaring menggunakan ayakan berukuran 2,5 mm x 2,5 mm. Ketiga campuran bahan itu kini menjadi media tanam yang  ia masukkan ke dalam polibag berukuran 15 cm x 20 cm.

Ia menanam bibit berumur 6 pekan terdiri atas 2 – 4 daun di media tanam, lalu menyiram dengan hati-hati agar bibit tidak rusak. Letakkan bibit di tempat teduh hingga sepekan. Tujuannya agar bibit yang baru ditanam beradaptasi dengan media tanam baru. Setelah sepekan pindahkan bibit ke rumah kaca.

Dalam penelitian itu Helga juga membandingkan pertumbuhan bibit yang ditanam dalam media dengan tambahan bahan organik lain yakni guano atau kotoran kelelawar, andam, serbuk sabut kelapa, dan ofer alias kompos dari campuran jerami dan kotoran sapi. Sementara untuk kontrol hanya menggunakan media tanam berupa campuran tanah dan pasir dengan perbandingan 3 : 1.

Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan terbaik adalah bibit yang menggunakan tambahan kompos ofer dan batang pisang. Dalam 7 pekan tinggi tanaman masing-masing rata-rata 16,2 cm dan 14 cm. Ukuran itu jauh lebih bongsor ketimbang kontrol yang hanya 8,9 cm. Sementara bibit di media tanam andam, cocopeat, dan guano lebih rendah daripada kontrol.

Bibit yang menggunakan tambahan ofer dan kompos batang pisang daunnya juga berwarna hijau lebih segar dan berukuran daun lebih lebar. Menurut ahli silvikultur di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Ir Irdika Mansur MForSc, tanaman yang mempunyai daun lebih lebar pada awal pertumbuhan akan lebih cepat tumbuh karena kemampuan menghasilkan fotosintat lebih tinggi ketimbang bibit berdaun sempit.

ZPT

Helga menduga pertumbuhan bibit yang menggunakan tambahan kompos batang pisang lebih baik karena mampu memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bibit di media dengan tambahan kompos batang pisang menyerap nitrogen (N) hingga 18 g, sementara ofer hanya 14,4 g. Itu membuktikan media tanam dengan tambahan kompos batang pisang mampu menyediakan nitrogen hingga sebanyak itu.

Nitrogen sangat penting dalam metabolisme tanaman untuk menyusun protein dan turut berperan dalam proses pertumbuhan dan produksi tanaman seperti buah, daun, dan umbi. Serapan fosfor juga lebih tinggi, yakni 2,6 g; ofer hanya 1,5 g. Itu menunjukkan batang pisang merupakan sumber fosfor yang baik. Fosfor sangat penting dalam proses fotosintesis dan fisiologi kimiawi tanaman.

Fosfor juga berperan aktif dalam mentransfer energi sel, meningkatkan efisiensi kerja kloroplas, penyusun fosfolid, nukleoprotein, dan fitin, yang selanjutnya akan tersimpan dalam biji. Kandungan fosfor yang meningkat pada tanaman akan meningkatkan laju fotosintesis dan merangsang pembentukan daun baru sehingga bobot kering tanaman (BKT) bertambah lebih pesat. BKT merupakan indikator pertumbuhan. Semakin tinggi BKT, pertumbuhan semakin baik.

Bibit jabon juga menyerap kalium lebih banyak yakni mencapai 15,8 g, ofer 9,2 g. Pisang memang sohor merupakan sumber kalium. Menurut pakar nutrisi di Jakarta, Yos Sutiyoso, kalium berperan penting sebagai pengaktif enzim tanaman dan sintesis karbohidrat serta protein. Kalium juga meningkatkan kadar air tanaman sehingga meningkatkan ketahanan dan kemampuan tanaman terhadap kekeringan, cuaca dingin, dan tingginya salinitas alias kadar garam.

Peneliti silvikultur Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman Hutan Kuok di Provinsi Riau, Dra Syofia Rahmayanti, membuktikan untuk menghasilkan bibit jabon berkualitas dapat juga menyemprotkan larutan pupuk daun dan zat pengatur tumbuh (ZPT). Konsentrasi masing-masing 2 g/l dan 2 ml/l. Semprotkan larutan sepuluh hari setelah tanam dengan interval sekali sepekan. Setelah 2 bulan perlakuan tinggi bibit mencapai 17,5 cm, paling tinggi ketimbang bibit yang mendapat perlakuan lainnya. Dengan kedua perlakuan itu, diharapkan kegagalan akibat kematian bibit tak lagi berulang. (Imam Wiguna)

Bikin Kompos Batang

1. Cacah batang pisang hingga berukuran 1 – 2 cm

2. Siramkan larutan bakteri pengompos dengan konsentrasi 2% ke seluruh permukaan bahan hingga berkadar air 30 – 40%

3. Tambahkan dedak pada tumpukan cacahan batang pisang sebanyak separuh dari jumlah bahan. Aduk hingga merata

4. Siapkan ember untuk tempat pengomposan. Buat lubang ventilasi berdiameter 0,5 – 1 cm di sekeliling ember bagian bawah untuk aerasi

5. Tuang bahan kompos ke dalam ember tempat pengomposan

6. Tutup bagian atas dengan bantalan sabut kelapa, lalu simpan selama 1 bulan. Selama penyimpanan pertahankan suhu adonan pada 40 – 50oC dan kelembapan 50%

7. Pada pekan ke-2 tambahkan dedak dan sekam

8. Setelah sebulan, angkat kompos lalu jemur hingga kering

9. Ayak kompos dengan ayakan berukuran lubang 2,5 mm x 2,5 mm

10. Kompos yang telah diayak siap digunakan sebagai campuran media tanam

 

Bibit jabon berkualitas daunnya berwarna hijau segar dan lebar

Bibit pithi saat ini banyak beredar dan berharga sangat murah. Bibit itu berkualitas rendah, biasanya mati beberapa hari setelah penanaman

Bibit yang diberi tambahan kompos batang pisang dan ofer (nomor satu dan dua dari kanan) pertumbuhannya paling baik

Kompos batang pisang mengandung nitrogen, fosfor, dan kalium tinggi sehingga mampu menopang kebutuhan bibit secara optimal

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img