Friday, December 2, 2022

Jasa Teh

Rekomendasi

Indonesia termasuk 8 besar produsen teh duniaPada November 1928—genap 85 tahun silam—terjadi iring-iringan dan kerumunan duka di kebun teh Malabar, Pangalengan, Jawa Barat. Karel Albert Rudolf Bosscha terjatuh dari kuda putih kesayangannya. Lukanya terkena kotoran kuda itu dan infeksi tetanus merenggut nyawanya. Usianya 63 tahun, jenazahnya dimakamkan di tengah perkebunan yang dicintainya. Banyak karyawan dan keturunannya tidak percaya KAR Bosscha meninggal. Bulan kemarin, saya ikut berziarah bersama Himpunan Astronomi Indonesia.  “Ketika para peziarah bersenandung lagu Syukur, juragan kami mendengarkan di belakang,” kata Pak Upir, penjaga makam kecil di kebun teh yang luas itu.

KAR Bosscha, akrab dipanggil Ru lahir di Den Haag, Negeri Belanda, pada 15 Mei 1865. Ibunya, Paulina Emilia Kerkhoven, putri seorang pemilik salah satu perkebunan teh tertua di Jawa.  Untuk pengetahuan kita, Belanda memperkenalkan tanaman teh sejak abad ke-17.  Andreas Cleyer yang membawa bibitnya dari Jepang pada 1684.  Seorang paderi terkenal, Francois Valentijn pada 1694 mencatat ada juga perdu teh-tehan ditanam di lingkungan istana gubernur-jenderal Champhuys di Batavia.

 

Jasa teh

Perkebunan teh pertama dibuka di Cisurupan, Garut, pada 1827 setelah bibit-bibitnya dicoba ditanam di Kebun Raya Bogor setahun sebelumnya. Ru datang ke Indonesia pada 1887, ketika usianya 22 tahun. Ia menolak mengambil diploma di Politeknik Delf yang dipimpin ayahnya, Johannes Bosscha, Jr. Konon, karena ia tidak sependapat dengan dosennya. Pemuda brilian itu memilih “pulang ke Jawa”. Pamannya, Eduard Julius Kerkhoven, mengangkatnya sebagai direktur perkebunan teh Malabar di Pangalengan, pada 1896.

Ru mengembangkan bibit teh dari daerah Assam, India, yang ternyata sangat cocok ditanam di Malabar.  Sampai sekarang, beberapa bibit aslinya masih tumbuh subur, dalam umur lebih dari 100 tahun dan tetap dipelihara. Ada yang menyebutnya spesies Thea assamica. Pada 1901 produksinya melonjak, dan ekspor teh dari Malabar memasuki berbagai pasar dunia. Deviden sahamnya melejit dari 9% menjadi 80% pada 1907. Ru dikenal murah hati dan cinta pengetahuan. Ia mendirikan sekolah rakyat untuk anak-anak karyawannya dan ikut membangun sekolah tinggi teknik yang kini menjadi Institut Teknologi Bandung.

Sumbangan besar Ru lainnya adalah Sositet Concordia yang menjadi Gedung Merdeka, dan sekolah untuk penyandang tunawicara-tunarungu, serta tunanetra.  Berkat ekspor daun muda teh alias Camellia sinensis itulah, Ru menjadi salah seorang pria terkaya di Pulau Jawa setelah Perang Dunia I. Dia wafat hanya beberapa hari sesudah menyerahkan sumbangan terpentingnya, yaitu fasilitas peneropongan bintang yang dikenal sebagai Observatorium Bosscha.

Setiap tahun, umat manusia memerlukan sekitar 5-juta ton teh, dan seperlima di antaranya dipasok oleh Tiongkok.  Produsen teh paling besar lainnya adalah India, Srilanka, Iran, dan Vietnam. Sebetulnya Indonesia mampu menghasilkan 150.000 ton daun teh olahan, dan masuk dalam 8 besar produsen teh dunia.  Namun, dalam kenyataannya, seperti pada 2012, produk teh Indonesia tercatat 140.990 ton. Biasa diekspor separuhnya, tetapi kali itu 70% terjual ke luar negeri. Jadi hanya 30% yang diseduh di kampung halaman.

Sayang, konsumsi teh bangsa Indonesia rendah sekali, hanya berkisar 330 gram per kapita per tahun. Jauh lebih rendah dari rata-rata per kapita dunia yang 1 kg per tahun. Tengok saja Srilanka dan Maroko di atas 1.200 gram. Apalagi dengan Irlandia yang melebihi 3.200 gram per kapita per tahun.  Jadi, sebenarnya potensi pasar teh dalam negeri masih terbuka seluas-luasnya, asal ada upaya untuk lebih memasyarakatkan kembali.

Pada masa lalu, banyak warung menghidangkan air teh tawar dengan gratis. Baru awal 2013 ada secangkir teh dijual sampai puluhan ribu rupiah di Plaza Senayan, Jakarta.  Mengenai kesejahteraan karyawan kebun teh itu juga perlu perhatian. Mantan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo pada 2012 sempat marah besar ketika mendengar pemetik daun teh hanya mendapat upah Rp10.000 per hari. Penyebabnya adalah ongkos petik hanya Rp350 per kilogram. Sehari suntuk kalau kuat, seorang perempuan hanya bisa menyetor 30 kg pucuk daun muda dalam gendongannya.

Tekanan terhadap buruh sebetulnya merugikan Indonesia di pasar dunia.  Daun teh kita hanya laku satu setengah dolar, di bawah India yang mencapai dua dolar. Padahal, jasa pohon teh di Nusantara sangat besar.  Kalau kita melihat kampus ITB, Gedung Merdeka di Bandung, dan Observatorium Bosscha yang telah menjadi cagar budaya bangsa, mestinya ingat bahwa semuanya mulai dibangun dengan daun teh yang diekspor ke mana-mana.

 

Eka BudiantaSaatnya Investasi

Belakangan penjualan kebun teh terkesan marak di internet.  Di kawasan Pekalongan, Jawa Tengah, ada kebun teh 20 hektar harganya dibanting menjadi Rp10-miliar.  Di Blitar, Jawa Timur, ada aset bernilai lebih dari Rp52-miliar diobral Rp38-miliar saja. Contoh-contoh itu sangat mengherankan dan menegangkan. Di tingkat regional, negara-negara produsen teh juga mengambil kuda-kuda untuk menahan anjloknya harga teh dunia.  Indonesia bersama beberapa eksportir teh lain, Srilanka, Botswana, dan Malawi membentuk kartel untuk memperbaiki harga di pasar internasional. Uniknya, India dan Tiongkok sebagai penghasil terbesar tidak mendukung forum itu.

Padahal, ada 14 manfaat minum teh, selain penghapus dahaga nomor dua setelah air putih.   Dengan minum teh, kita menangkal radikal bebas, mencegah alzheimer, menyembuhkan sakit kepala, sampai membuat peminumnya awet muda, bahkan membantu menjaga kebersihan gigi. Di Tiongkok 4.700 tahun lalu, seorang kaisar yang mengantuk lantaran terlalu kenyang, bangkit bersemangat karena air mendidih yang akan diminumnya kejatuhan daun teh. Di India. sekitar 2.500 tahun silam, Sang Budha dikisahkan suka mengunyah daun teh sehabis meditasi.

Yang sudah sangat jelas, dewasa ini Jepang menjadi bangsa dengan harapan hidup paling panjang, antara lain sebanding dengan kegemarannya minum teh. Konsumsi teh berbanding lurus dengan majunya peradaban setiap bangsa. Sekarang, bisakah Indonesia meningkatkan kesehatan dan kemakmuran melalui apresiasi kepada teh? Kalau bukan kita, siapa yang menikmati teh harum dan wangi di berbagai penjuru negeri ini?  Dewasa ini terdapat 57.000 hektar kebun teh rakyat yang merupakan 60% dari total luas perkebunan teh nasional.

Sayang, produksinya sangat rendah, hanya sekitar 23% dari panenan teh Indonesia. Hasil panen yang semestinya dapat mencapai 2 ton per hektar, baru menghasilkan 800 kg saja.  Penyebabnya karena populasi tanaman yang tidak mencukupi. Ketua Asosiasi Petani Teh Indonesia (Aptehindo) Endang Sopari menyatakan perlu banyak modal untuk meningkatkan populasi dari sekitar 4.000 batang per ha menjadi 6.000 batang per ha. “Setiap 100 batang paling sedikit diperlukan Rp17.000,“ katanya. Padahal, Sertifikasi Lestari (sustainable tea) sangat diperlukan. Importir menuntut sertifikasi badan-badan internasional seperti Rain Forest Alliance.

Selain itu, pendidikan bagi para pemetik juga perlu lebih ketat. Daun yang dijual tidak lebih dari tiga pucuk paling atas.  Kalau dipetik sampai enam daun, harganya jadi turun, karena mutunya dianggap rendah. Pemetikan harus selesai sebelum pukul 12 siang, setelah itu kualitasnya melemah. Pengusaha kebun yang besar, seperti Dirut PT Pagilaran, Rachmad Gunadi, yang mengelola kebun seluas 1.700 ha, mengakui rendahnya harga pucuk teh petani Indonesia terkait dengan mutu produk tidak optimal, akibat sistem panen yang belum standar. *** (Eka Budianta)

*) Kolumnis Trubus, advisor Jababeka Botanic Gardens dan pengurus Tirto Utomo Foundation.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img