Saturday, August 13, 2022

Jenderal Sudi Bertani

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Sudi Silalahi bukan orang yang memiliki waktu luang melimpah. Meski demikian, di tengah kesibukan sebagai pejabat negara, ia masih menyempatkan diri menanam beragam sayuran. Di ladang yang ia kelola bersama istri, Sri Rahayu Mulyani, terdapat beragam sayuran seperti bayam, cabai, daun bawang,  terung, sawi, kencur, kacang panjang, kangkung, dan peria. Aneka tanaman obat dan buah seperti salam, mengkudu, belimbing, dan sawo juga tumbuh subur. Selain itu masih ada lele dan patin yang juga berkembang baik. Daftar komoditas di ladang itu bakal kian panjang jika disebut satu per satu.

Begitu banyak komoditas yang ia budidayakan. Padahal, pria 62 tahun yang bugar itu tidak berkebun di ladang berhektar-hektar. Ia hanya memanfaatkan lahan di depan dan sisi kanan rumahnya. Di depan ruang tamu, ia menggunakan lahan sepanjang 15 meter untuk menanam aneka sayuran. Bentuk lahan itu segitiga dengan lebar terluas 2 meter. Begitu juga di sisi kanan hunian. Sepanjang pagar, baik di bagian dalam maupun luar rumahnya, Sudi juga membudidayakan aneka sayuran.

Lebih sehat

Soal kolam lele dan patin? Sang menteri tak kehabisan akal. Sudi membuat kolam beton menempel dinding pagar, panjang 8 meter, lebar 60 cm, dan dalam 70 cm. Ia menyekat kolam itu menjadi 2 bagian, masing-masing untuk lele dan patin. Kolam model serupa juga terdapat di depan rumah di daerah Pondokgede, Kotamadya Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Ketika Sri Rahayu menebar pakan, ratusan lele seukuran telunjuk itu menyibak kiambang dan berebut pakan sehingga menimbulkan bunyi kecipak-kecipak.

“Di kolam ini ada 500 lele,” kata Sri Rahayu dengan wajah berbinar menyaksikan atraksi lele menyantap pakan. Setelah besar, sekilo terdiri atas 5 ekor, Sudi memindahkan  lele-lele itu ke kolam yang lebih besar di depan rumah. Singkat kata, di rumah yang menyisakan lahan tak seberapa luas,  ayah 3 anak itu mengembangkan pertanian terpadu.  Hampir tak ada lahan yang ia biarkan tersisa, pun tanah di sisi saluran air. Bahkan, di atas dinding kolam pun, Sudi meletakkan talang sebagai lokasi budidaya sayuran.

Ketika wartawan Trubus berkunjung ke kediaman Sudi pada 15 Juli, Sri Rahayu tengah memanen belasan terung,  dua ikat bayam, dan delapan belimbing. Itu hasil jerih payah pasangan Sudi Silalahi-Sri Rahayu. Harap mafhum, sejak persiapan tanam, penanaman, hingga mencabut gulma, mereka melakukan sendiri. “Memberi contoh itu mudah, tetapi menjadi contoh itu jauh lebih sulit,” kata letnan jenderal kelahiran Kampung Jawa, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, 13 Juli 1949 itu.

Mengapa sang menteri sudi berepot-repot berkebun sayuran? “Bukannya tak bisa membeli sayuran, tapi saya memberi contoh agar tak berpola hidup konsumtif. Kita menciptakan keluarga yang produktif. Lahan jika kita biarkan hanya tumbuh rumput sehingga lebih repot pemeliharaannya dan tak ada manfaatnya,” kata Sudi Silalahi. Keluarga Sudi merasakan betul manfaat berkebun sayuran di sekitar rumah. Buktinya beberapa bulan lalu ketika harga cabai membubung hingga Rp75.000—Rp100.000 per kg di tingkat konsumen.

Menghadapi lonjakan harga si pedas itu, keluarga Sudi tenang-tenang saja. Bukan karena ia memiliki uang belanja yang memadai, tetapi cabai tersedia di pekarangan rumah. Mereka tinggal memetik. Sayuran segar senantiasa tersedia di lahan. “Kemarin Bapak minta telur dadar, saya tinggal petik daun bawang, iris kecil-kecil, dan saya campurkan,” kata Sri Rahayu. Sudi menimpali, “Telur dadarnya enak, lebih enak daripada omelet masakan restoran.”

Boleh jadi karena Sudi yang lulusan Akabri 1972 membudidayakan beragam komoditas itu secara organik. “Dengan konsumsi sayuran organik, kita terbebas  dari pestisida,” ujar Sudi. Itu salah satu rahasia kebugaran kakek tiga cucu yang rutin mengonsumsi beragam pangan organik hasil budidaya di pekarangan sejak 1998. Rahasia lain, ia juga ajek minum rebusan herbal hasil panen dari ladang sendiri. Empat tahun silam, kadar asam urat anak ke-7 dari 10 bersaudara itu membubung hingga 8,5 mg/dl.

Kadar asam urat itu jauh di atas ambang batas, yakni 7 mg/dl. Untuk mengatasinya, Sudi rutin menyeruput rebusan 10 daun salam dalam 2 gelas air. Setelah mendidih, tersisa segelas, dan hangat ia minum sekali sehari. Sejak menerapkan kebiasaan itu, kadar asam urat normal pada kisaran

6—6,5 mg/dl. Hingga kini ia tetap menyeruput segelas rebusan daun Syzygium polianthum itu setiap hari. Ia memperoleh daun salam dari sebuah pohon setinggi 1,5 meter di dalam pot di halaman rumahnya. “Daunnya saya petik setiap hari, tapi tak pernah habis karena terus tumbuh,” kata Sudi.

Ketika tekanan darahnya tinggi, 160/90 mmHg, istrinya membuat jus buah mengkudu Morinda citrifolia. Soal aroma buah yang menyengat? Sang istri menambahkan sereh plus madu sehingga harum dan lezat. Aroma menyengat buah mengkudu pun lenyap. “Dua jam kemudian tekanan darah saya normal,” kata Sudi Silalahi. Gaya hidup seperti itulah yang membuat Sudi sekeluarga sehat dan bugar sebagaimana hasil pengecekan kesehatan dua bulan sekali. Dengan begitu, mengonsumsi pangan apa pun terasa lezat. Ia mengatakan tak ada pantangan tertentu.

Sejak belia

Kebiasaan Sudi bercocok tanam bukan sejak menjadi menteri, tetapi sejak anak-anak. Ketika Sudi kelas empat Sekolah Dasar pada 1959, ayahnya, Abdul Azis Silalahi, mengajari berkebun jahe. Semula Sudi protes karena waktu menanam, harga rimpang jahe anjlok, cuma Rp0,75 per kg. Namun, ayahnya yang menjabat kepala desa meyakinkan Sudi bahwa saat harga rendah tak ada pekebun yang berhasrat membudidayakan rimpang Zingiber officinale itu. Akibatnya, pasokan bakal turun sehingga harga berpeluang naik. Analisis itu tepat. Saat panen, harga jahe meroket hingga Rp3,5 kg.

Pada kesempatan lain, ayahnya mengajari strategi meraih laba tinggi. Caranya dengan menanam cabai 4—5 bulan menjelang Lebaran. “Sudi, kapan Lebaran? Sekarang tarik mundur 4 bulan untuk menanam cabai,” kata Sudi mengulangi instruksi ayahnya puluhan tahun silam. Ternyata strategi itu tepat, Sudi memperoleh laba besar saat panen. Kebiasaan bercocok tanam itu, ia terapkan ketika menjadi komandan peleton di Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan. Sudi menanam beragam sayuran yang menjadi contoh bagi 37 tentara anggotanya yang rata-rata telah berkeluarga.

“Setiap mereka gajian minus, lalu saya memberi contoh dengan menanam katuk, nanas, dan terung, memelihara itik serta ayam. Bikin seperti ini, nanti saya periksa,” kata Sudi kepada para anggota. Menurut Sudi komandan memang harus menyejahterakan anggota-anggotanya. Semula ada beberapa keluarga yang mencibir program itu. “Tentara kok mengurusi pertanian,” kata Sudi—yang ketika itu pada 1973 masih bujangan—mengulangi cibiran anggotanya. Namun, setelah mempraktekkan cara itu mereka  baru merasakan manfaatnya.

Sudi Silalahi kembali menerapkan kebiasaan bercocok tanam itu saat menjabat menteri. Lebih dari 10 tahun terakhir, Sudi memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk budidaya hortikultura dan perikanan. Ia menerapkan ilmu militer yang terkenal disiplin itu dalam dunia agribisnis. Perwujudannya antara lain adalah jika saatnya memupuk, harus segera memberikan pupuk. Saatnya membersihkan gulma yang mengganggu pertumbuhan tanaman, maka ia segera mencabuti rumput.

Menurut menteri Sekretaris Negara ke-13 itu, Indonesia mestinya memiliki ketahanan pangan yang kuat. Alasannya lahan pertanian Indonesia sangat subur dan masyarakat dapat membudidayakan beragam komoditas sepanjang tahun. Apalagi jika masyarakat Indonesia juga memanfaatkan pekarangan untuk budidaya beragam komoditas. Sang jenderal membuktikan bahwa lahan sempit bukan hambatan untuk tidak bercocok tanam. (Sardi Duryatmo)

 

 

Sirna Kista

Obat kista itu ternyata tumbuh di pekarangan Sri Rahayu Mulyani, istri menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi. Pada 2005, ibu tiga anak itu memang mengidap kista. Untuk mengatasinya, ia bolak-balik ke sebuah rumahsakit di Tokyo, Jepang. Namun, kesembuhan bagai jauh api dari panggang. Itulah sebabnya, Sri Rahayu memilih herbal untuk mengatasinya. Ia mengambil tiga daun mengkudu yang tak terlalu tua dan tak terlampau muda. Di halaman rumahnya tumbuh dua pohon Morinda citrifolia.

Sri Rahayu memblender daun tanaman anggota famili Rubiaceae itu dan meminumnya. Frekuensi konsumsi tiga kali sehari. Sebulan berselang setelah rutin konsumsi daun mengkudu, ia mengecek kesehatannya. Dengan penuh tanda tanya,  dokter menyelidik, “Ibu minum apa?” Saat itu dokter tak lagi menemukan kista di rahim Sri Rahayu yang kini tampak awet muda dan segar bugar itu. Sri Rahayu hanya rutin mengonsumsi jus daun mengkudu. (Sardi Duryatmo)

Previous articleHasrat Lembap Selama Hayat
Next articleBebas Ulat
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img