Saturday, January 17, 2026

Kakao Jembrana Tembus Pasar Dunia

Rekomendasi
- Advertisement -

Kabupaten Jembrana kembali mencatat sejarah baru. Sebanyak dua kontainer atau setara 14 ton biji kakao fermentasi hasil budidaya petani anggota Koperasi Kakao Kerta Samaya Samaniya (K3S) resmi diekspor ke dua negara sekaligus: Valrhona, Prancis, dan Tachibana, Jepang. Pelepasan ekspor berlangsung pada Jumat (24/10) dan dilakukan langsung oleh Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan.

Kakao fermentasi asal Jembrana menjadi bukti bahwa komoditas lokal Bali mampu bersaing di pasar global. Dengan aroma khas dan cita rasa yang kuat, kakao Jembrana berhasil memenuhi standar mutu internasional yang ketat, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen kakao unggulan dunia.

Bupati Kembang Hartawan mengungkapkan rasa bangga atas keberhasilan tersebut. “Hari ini kita mencetak sejarah. Dua kontainer kakao fermentasi dikirim bersamaan, masing-masing 12,5 ton ke Prancis dan 1,5 ton ke Jepang dengan nilai ekspor mencapai Rp3,1 miliar. Ini adalah bukti kerja keras dan kolaborasi antara pemerintah, koperasi, dan petani kakao Jembrana,” ujarnya.

Ekspor kakao dari Jembrana. (Foto: Bea Cukai)

Dukungan juga datang dari Bea Cukai Denpasar, yang selama ini aktif mendampingi pelaku usaha dalam program Klinik Ekspor. Stevy Nathaniel, Kepala Seksi Pelayanan Kepabeanan dan Cukai II, menjelaskan bahwa Bea Cukai tidak hanya berfungsi sebagai pengawas arus barang, tetapi juga sebagai mitra strategis. “Kami terus berupaya membantu koperasi dan UMKM agar proses ekspor berjalan lebih mudah, cepat, dan pasti,” katanya dilansir pada laman Bea Cukai.

Keberhasilan ekspor perdana dua kontainer kakao fermentasi ini menjadi tonggak penting bagi petani Jembrana. Kolaborasi erat antara petani, koperasi, dan pemerintah daerah menunjukkan bahwa produk pertanian lokal memiliki potensi besar untuk menembus pasar dunia. Semangat yang tumbuh di Jembrana diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain di Bali untuk terus mengembangkan komoditas unggulan masing-masing.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img