
Kacang tanah baru yang produktif, tahan layu bakteri, dan rendah lemak.
Trubus — “Produktivitas tinggi dan ketahanan terhadap penyakit layu bakteri, menjadi modal besar varietas kacang tanah untuk dibudidayakan oleh petani,” ujar Kepala Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), Dr. Ir. Yuliantoro Baliadi M.S. Harap mafhum, penyakit layu bakteri merupakan momok petani kacang tanah. Penyakit akibat bakteri Ralstonia solanacearum tidak hanya menjadi ancaman kacang tanah di berbagai sentra.

Peneliti kacang tanah di Balitkabi, Ir. Joko Purnomo M.S. menuturkan, serangan penyakit layu bakteri menurunkan hasil 60% bahkan lebih pada infeksi yang berat. Menurut Joko dari ketiga penyakit, yaitu bercak daun, karat daun, dan layu bakteri maka yang disebut terakhir yang terpenting bagi tanaman kacang tanah. Salah satu solusi yang bisa petani terapkan untuk mengendalikan penyakit layu bakteri dengan menanam varietas tahan penyakit itu.
Katana
Balitkabi merilis dua varietas Arachis hypogaea unggul baru yang tahan terhadap penyakit mematikan itu. Namanya katana 1 dan katana 2. “Katana kependekan dari kata kacang tanah. Itu saja, sederhana,” ujar Joko Purnomo, pemulia kacang itu. Katana 1 berasal dari galur LM/87123-93-B-32 yang diradiasi dengan sinar gamma dosis 0, 20, dan 30 kilorad di Badan Tenaga Atom Nasional (Batan).

Sementara kacang tanah galur LM/87123-93-B-32 merupakan hasil silang tunggal varietas lokal asal Lamongan dengan varietas introduksi asal India ICGV 87123. “Varietas lokal Lamongan berkarakter genjah, adaptif, dan bentuk polongnya bagus. Sementara ICGV 87123 bersifat genjah, toleran kekeringan, dan tahan cemaran aflatoksin,” ujarnya. Joko menyinari hasil persilangan dua varietas itu dengan radiasi gamma.
Ia menyeleksi benih terbaik dari yang terbaik. “Yang terbaik adalah hasil radiasi dengan sinar gamma dosis 30 kilorad dengan kode mutan-6 atau galur harapan 3 (GH3),” ujar alumnus jurusan Ilmu Tanah, Universitas Brawijaya itu. Karakter GH3 konsisten dalam hal daya hasil dan ketahanannya terhadap penyakit bakteri. Daya hasil GH3 mencapai 4,8 ton polong kering per hektare dengan rata-rata 3,48 ton per hektare.
Hasil rata-rata itu lebih tinggi 30,3% dibandingkan dengan varietas kancil dan 20,8% lebih tinggi dari varietas takar 1 sebagai varietas pembanding. “GH3 kami usulkan untuk dilepas sebagai varietas unggul baru dengan nama katana 1,” ujar Joko. Varietas kacang tanah unggul baru lainnya yaitu katana 2—hasil silang balik aksesi bima 1 dengan varietas introduksi asal India ICGV 93370.

Lebih unggul
Menurut Joko varietas bima 1 unggul berkat produktivitasnya yang tinggi, berbiji 3, dan bersifat genjah. Namun, bima 1 rentan penyakit layu karena bakteri. Sementara ICGV 93370 unggul produktivitasnya tinggi, genjah, dan tahan penyakit layu bakteri. Kombinasi keduanya menghasilkan galur harapan kacang tanah unggul yang tahan penyakit layu bakteri. “Galur itu kami usulkan untuk dilepas dengan nama katana 2,” ujar peneliti yang pernah menjadi staf peneliti kelompok usaha tani itu.
Daya hasil katana 2 mencapai 4,7 ton polong kering per ha dengan hasil rata-rata mencapai 3,44 ton per ha. Produktivitas varietas pembanding yaitu kancil hanya 2,67 ton per ha dan takar1 hanya 2,88 ton per ha. Meski katana 2 tergolong agak rentan penyakit bercak daun, ketahanannya lebih baik daripada varietas kancil. “Tetap yang paling penting katana 2 tahan terhadap penyakit layu bakteri yang menjadi momok petani kacang tanah,” ujar Joko.
Selain sama-sama produktif dan tahan penyakit layu bakteri, katana 1 dan katana 2 tergolong kacang tanah yang rendah lemak. Katana 1 memiliki kandungan lemak 46,9% bobot kering, sementara katana 2 mencapai 49,2% bobot kering. Bandingkan dengan kancil yang kandungan lemaknya mencapai 50,0% bobot kering. Para petani layak membudidayakan katana 1 dan katana 2. (Bondan Setyawan)
