Budidaya kedelai tanpa pestisida kimia meningkatkan harga jual dan ramah lingkungan.

Trubus — Dr. Yusmani Prayogo S.P. M.Si. tersenyum melihat hamparan kedelai di lahan 10 hektare tumbuh subur dan siap panen. Peneliti hama dan penyakit di Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) itu lega karena kedelainya nyaris tak terserang penyakit busuk akar atau pangkal batang akibat cendawan Sclerotium rolfsii dan Rhizoctonia solani. Yusmani sama sekali tak menggunakan pestisida kimia.
“Saya menggunakan pestisida nabati dan hayati,” ujarnya. Di lahan itu ia menanam beragam varietas di antaranya anjasmoro, argomulyo, devon, dan dena, menghasilkan 2,4—2,7 ton kedelai per hektare. Produksi itu memang lebih rendah daripada budidaya kedelai dengan pestisida kimia yang mencapai 2,8—2,9 ton per hektare. Namun, harga jual kedelai itu lebih tinggi dibandingkan dengan kedelai hasil budidaya konvensional.
Yusmani menuturkan, “Produsen susu kedelai menawar hasil produksi kami Rp10.000 per kg, sementara hasil kedelai yang menggunakan pestisida kimia sekitar Rp7.500 per kg.” Periset itu menjalankan program Kementerian Pertanian berupa budenopi alias budidaya kedelai nonpestisida kimia. Menurut peneliti madya Balitkabi, Ir. Joko Susilo Utomo M.P. Ph.D., program budenopi targetnya untuk memenuhi penyediaan benih dalam negeri.
Pestisida nabati

Petani yang membudidayakan kedelai untuk tujuan konsumsi dapat menerapkan teknologi budenopi. “Hasilnya bagus, terutama harga kedelainya jadi tinggi karena tanpa pestisida kimia. Selain itu teknologi budenopi ramah lingkungan, sehingga layak untuk dikembangkan oleh petani kedelai,” ujarnya.
Dalam budenopi, peneliti muda berprestasi 2011 itu menggunakan beragam pestisida nabati dan hayati di antaranya serbuk biji mimba, minyak cengkih, Trichoderma harzianum, Beauveria bassiana, dan Spodoptera litura Polyhedrosis Virus (SlNPV).
Ia menggunakan pestisida itu sesuai dengan target hama dan penyakit yang menyerang. Untuk mengatasi ulat grayak, ulat jengkal, dan hama penggulung daun, ia menyemprotkan serbuk biji mimba konsentrasi 50 g per liter pada kedelai umur 35 hari setelah tanam (HST). Ia mengombinasikan dengan tepung Spodoptera litura Polyhedrosis Virus (SlNPV) berkonsentrasi 2 gram per liter. Pemberian SlNPV tiga kali saat kedelai berumur 35 hari, 42 hari, dan 49 hari.
Azadirachtin
Serbuk biji mimba mengandung bahan aktif azadirachtin yang bersifat insektisidal atau menghalau hama. Akibatnya hama tidak tertarik mendatangi pertanaman kedelai. “Senyawa azadirachtin efektif membunuh larva dari ordo Lepidoptera dengan mortalitas hingga 85%. Selain itu, efektivitas azadirachtin akan meningkat hingga 100% dalam membunuh larva Spodoptera jika dikombinasikan dengan nuclear polyhedrosis virus,” ujar Yusmani.
Ia juga memiliki formula untuk mengatasi hama kutu kebul, hama pengisap polong, dan hama penggerek polong. Doktor entomologi alumnus Institut Pertanian Bogor itu menggunakan Beauveria bassiana dengan konsentrasi 2 gram per liter. Pemberiannya ketika ada serangan hama. Untuk pencegahan serangan, berikan tiga kali saat tanaman berumur 35 hari, 42 hari, dan 49 hari.

Untuk mengendalikan penyakit busuk akar atau pangkal batang, peneliti memberikan Trichoderma harzianum dalam bentuk tepung pada benih. Ia cukup memberikan 50 gram tepung per 10 kg benih. Menurut ahli tanah dari universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Tualar Simarmata, bakteri trichoderma sangat baik untuk tanaman plus tanah. “Trichoderma mempunyai dua fungsi yaitu memaksimalkan penguraian bahan-bahan organik dan juga sebagai agen hayati atau sebagai imun tanaman,” ujar alumnus Jurusan Ilmu Pertanian, Universitas Justus Liebig Giessen, Jerman itu.
Menurut Yusmani serangan busuk akar atau pangkal batang pada Glycine max akibat cendawan Sclerotium rolfsii dan Rhizoctonia solani. Penyakit itu banyak menyerang tanaman kedelai di lahan sawah ketika musim kemarau 1 atau MK1. Menurut Yusmani ketika MK1, tanah sawah bekas pertanaman padi masih lembap sehingga cendawan masih banyak. Ketika benih tidak kuat, maka akan mudah terserang penyakit itu. Serangan pada tanaman kedelai umur 1—2 pekan.
Sementara untuk mengatasi penyakit karat daun, ia menggunakan minyak cengkih 1—2% per liter air. Penyemprotan ketika terjadi serangan penyakit. Untuk pencegahan berikan tiga kali pada tanaman kedelai umur 35 hari, 42 hari, dan 49 hari. Minyak cengkih mengandung senyawa eugenol. Pestisida nabati itu mampu menekan penyakit karat daun pada kedelai hingga 50%. Selain karat daun, senyawa eugenol juga mampu mengendalikan penyakit yang terbawa benih maupun busuk polong hingga 78%.
Beragam pestisida alami itu untuk membantu petani kedelai mengendalikan hama dan penyakit yang ramah lingkungan. Strategi itu sekaligus meningkatkan kualitas polong kedelai. Pantas jika harga jual pun melonjak signifikan, hingga Rp3.000 per kg lebih mahal. (Bondan Setyawan)
