Sunday, August 14, 2022

Kaum Urban Gandrung Hidroponik

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Eva L Am dengan desain instalasi seharga Rp2,5-juta.
Eva L Am dengan desain instalasi seharga Rp2,5-juta.

Kaum urban ingin menanam beragam sayuran, merawat, dan panen di halaman tanpa belepotan tanah. Mereka merakit sendiri hidroponik.

Dari Kota Wisata, Cibubur, Jakarta Timur, Vivi Ho memboyong kotak plastik berukuran 50 cm x 30 cm x 20 cm ke Pamulang, Tangerang Selatan, Banten. Bagian atas kotak plastik itu tertutup stirofoam berselimut alumunium foil. Di atasnya 6 lettuce red rapid umur 30 hari tumbuh subur dan mulus. Pantulan cahaya dari selimut logam itu membuat cahaya untuk fotosintesis optimal. Hama pun enggan mendekat karena silau.  Itu contoh hidroponik tenteng hasil perawatan Vivi.

Ia  hendak menunjukkan hidroponik itu kepada para sahabatnya pada acara kopi darat Komunitas Belajar Hidroponik pada pertengahan September 2013. Di rumahnya Vivi juga mendesain instalasi hidroponik sederhana berupa 6 pipa polivinil klorida (PVC) berukuran 3 inci. Vivi menyusun pipa-pipa itu berpasangan 3 tingkat. Setiap pipa sepanjang 1,3 m terdiri atas 7 lubang tanam. “Total jenderal ada 46 tanaman,” kata istri pengusaha otomotif itu. Vivi merogoh Rp1-juta untuk biaya bahan dan upah tukang guna mewujudkan desain yang ada di kepalanya menjadi nyata.

 

Kunto Herwibowo, banyak pemain skala rumahan naik kasta melirik hidroponik komersial untuk mengisi pasar sayuran medium
Kunto Herwibowo, banyak pemain skala rumahan naik kasta melirik hidroponik komersial untuk mengisi pasar sayuran medium

Skala rumahan

Di bilangan Setiabudi, Kotamadya Bandung, Jawa Barat, ada Eva L Am yang kesengsem hidroponik. Ibu satu anak itu mendesain instalasi hidroponik jinjing berukuran 1,7 m x 0,8 m x 1,5 m berkerangka besi. Eva menggunakan talang air—yang dimodifikasi—sebagai tempat tumbuh tanaman. Total jenderal terdapat 5 talang air masing-masing sepanjang 1,7 m dan ditumbuhi 9 sayuran daun seperti lettuce red oak leaf dan green oak leaf. Nutrisi hidroponik mengaliri 45 tanaman itu dengan tenaga pompa 12 watt yang biasa dipakai untuk akuarium.

“Saya bisa petik 1 tanaman setiap hari,” kata Eva. Menurut pengusaha pupuk itu sayuran hidroponik dari halaman rumah lebih segar, bersih, dan aman ketimbang dari pasaran. Maklum, Eva menghindari penggunaan pestisida untuk mengatasi hama dan penyakit. Sayuran itu tetap mulus karena Eva merawat bak mengasuh tanaman hias. Setiap hari alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia itu mengamati helai daun. Bila terlihat ada hama, ia segera membunuhnya. Sementara bila telanjur terserang, maka ia akan membuang daun itu.

Vivi dan Eva adalah contoh pemain baru hidroponik skala rumahan. Sejak setahun belakangan mereka tertarik “bertani” hidroponik karena ingin memetik sendiri sayuran di halaman rumah. “Hidroponik satu-satunya pilihan bertani yang praktis dan tidak kotor,” kata Vivi. Maklum, kebanyakan warga kota enggan bertani di halaman rumah karena khawatir kotor akibat tanah dan cacing. Dengan hidroponik hambatan psikologis itu lenyap. Contohnya Merlina Astari di Pluit, Jakarta Utara, yang berhasrat menanam sayuran tapi ingin tangan tetap bersih.

Praktikus hidroponik di Tangerang Selatan, Kunto Herwibowo, menuturkan bertani hidroponik disebut rumahan bila hasil panen untuk konsumsi sendiri. Selain itu biaya untuk membuat instalasi berkisar Rp1-juta—Rp2-juta. Menurut Kunto, demam hidroponik kali ini mirip tren hidroponik pada era 1993—1995. Ketika itu warga kota demam menanam tomat, cabai, dan semangka secara hidroponik. Namun krisis ekonomi melanda 2 tahun berselang sehingga hobi hidroponik rumahan mereka tinggalkan.

 

Kopi darat menjadi ajang berbagi pengalaman para pehobi hidroponik di dunia maya
Kopi darat menjadi ajang berbagi pengalaman para pehobi hidroponik di dunia maya

Tren berulang

Kini generasi yang saat itu berusia remaja mulai mapan sehingga hobi yang ketika itu dianggap mahal menjadi terjangkau. Di sisi lain tekanan hidup di kota besar kerap membuat stres. Belum lagi isu pangan konvensional—termasuk sayuran—yang banyak tercemar residu. Mereka juga punya kendala lahan yang terbatas. “Pertanian hidroponik menjadi jawaban. Ia bisa jadi pengobat stres saat merawatnya, sekaligus pemasok pangan yang sehat,” kata Rony Arifin di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten.

Menurut pegiat pertanian urban di Cikarang, Bekasi, Dody Andreas, demam hidroponik kali ini dicirikan peran teknologi informasi yang dominan. “Dulu komunikasi antarpehobi terbatas. Kini mereka dapat berbagi pengalaman melalui jejaring sosial di internet,” kata Dody. Di jejaring itulah mereka saling menularkan pengalaman hidroponik skala rumahan hingga komersial.

Kelak pemain hidroponik rumahan itu memperluas hobi sehingga menjadi skala bisnis bila melihat peluang pasar sayuran hidroponik. Contohnya Rony Arifin yang semula hanya iseng berhidroponik tetapi kini serius menggeluti teknik bertanam tanpa tanah itu. Kini dari lahan 2.300 m2—dengan luas kebun efektif 600 m2—Rony memanen 50 kg sayuran hidroponik setiap hari sejak 2012. Pasarnya adalah hotel berbintang, kafe, dan maskapai penerbangan yang dikirimnya secara selang-seling.

Pun Noki Prasixner di Serang, Banten, yang tadinya hanya menanam sayuran daun di kotak-kotak bekas es krim ukuran 40 cm x 30 cm x 20 cm. Kini setelah setahun menggeluti karakter tanaman, ia tengah membuka lahan pertanian hidroponik di tanah seluas 250 m2. Noki memadukannya dengan rumah makan yang menyediakan lalapan. “Pelanggan yang ingin lalap tinggal petik langsung di lahan,” katanya.

Hidroponik jinjing ala Vivi Ho
Hidroponik jinjing ala Vivi Ho

Menurut Kunto, mereka terjun ke bisnis sayuran karena melihat pasar sayuran hidroponik berada di kelas medium. “Di Indonesia ada 3 kelas sayuran. Yang termahal  sayuran  organik,  berikutnya sayuran hidroponik, dan yang paling murah sayuran konvensional,” kata Kunto. Disebut medium karena harga sayuran hidroponik rata-rata Rp50.000—Rp60.000 per kg. Satu kg umumnya terdiri dari 9—12 tanaman tergantung varietas. Sementara sayuran organik di kisaran Rp70.000 per kg dan sayuran konvensional Rp30.000 per kg.

“Tanaman hidroponik pun sehat dan aman karena bebas residu pestisida,” kata Kunto. Yang membedakan adalah pertanian hidroponik menggunakan pupuk anorganik sementara pertanian organik memakai pupuk organik. Pada konteks ini, pupuk anorganik tidak berbahaya bagi manusia. Pupuk anorganik dihindari pekebun organik karena pupuk anorganik merusak sifat fisika dan sifat biologi tanah bila dipakai berlebihan. Bukan merusak tubuh manusia.

Menurut Kunto, para pemain hidroponik komersial mengendalikan hama dan penyakit dengan beragam cara. Misalnya dengan memilih pupuk nitrogen bentuk nitrat bukan amonium. Nitrogen dalam bentuk nitrat membuat sel tanaman lebih padat sehingga hama dan penyakit sulit menyerang.

Pengendalian lingkungan pun menjadi salah satu strategi menghindari hama dan penyakit. Contohnya dengan membiarkan tanaman di sekitar lahan atau membiarkan rumput di bawah rak hidroponik sehingga hama dan penyakit tidak mengenali tanaman inang berupa tanaman pokok.  Jadi mari, membuat hidroponik rumahan. (Ridha YK, kontributor Trubus).

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img