Wednesday, August 17, 2022

Ini Kacangku, Organik Caraku

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Kacang grade A berisi 2—4 biji per polong dan tidak kopong
Kacang grade A berisi 2—4 biji per polong dan tidak kopong

Budidaya organik melesatkan produktivitas dan kualitas kacang tanah.

Kualitas tinggi, produktivitas juga tinggi. Itulah  gambaran  kacang  tanah di lahan Bionic Farm  di Desa Ciherangpondok, Kecamatan Caringin, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Bionic Farm Organic menuai lebih dari 70% polong masuk grade A alias kualitas super. Ciri polong kualitas super adalah berisi 2—4 kacang dan terisi penuh alias tidak kopong.  Kacang tampak bernas. Selain itu produktivitas Arachis hypogaea itu juga tinggi, yakni 1,8ton kering per ha.

Angka itu jauh melebihi produktivitas rata-rata nasional. Menurut data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, pada 2012 produktivitas rata-rata hanya 1,2 ton per ha. Bionic Farm membudidayakan kacang tanah secara organik. Itulah sebabnya perusahaan itu hanya memberikan pupuk organik dan pemanfaatan larutan mikroorganisme lokal (MOL). Ia tidak memberikan pupuk atau pestisida kimia lantaran menyasar pasar modern yang mensyaratkan produk bebas residu bahan kimia.

 

Bionic Farm panen kacang tanah pada 95 hari setelah tanam
Bionic Farm panen kacang tanah pada 95 hari setelah tanam

Olah tanah

Menurut David Herlambang, manajer pemasaran Bionic Farm Organic, harga produk kacang tanah organik di tingkat eceran mencapai Rp16.000 per kg. Bandingkan dengan harga komoditas sejenis hasil budidaya nonorganik hanya Rp4.000—Rp6.500 per kg. Kacang tanah bermutu prima dan produktivitas menjulang itu hasil budidaya intensif. Manajer Produksi Bionic Farm, Yayan Nurdiansyah, dan staf lapangan menanam kacang tanah pada awal musim hujan untuk mengurangi biaya penyiraman. Selama budidaya kacang tanah, Yayan tak pernah menyiram.

Risiko menanam kacang tanah pada musim hujan adalah serangan cendawan Fusarium sp penyebab layu. Maklum, setelah hujan kelembapan udara melebihi 80%, kondisi yang cocok untuk perkembangan cendawan. Apa lagi jika setelah hujan semalam, matahari bersinar penuh sehingga suhu mencapai kisaran 28—330C. Selang beberapa hari, bisa dipastikan banyak tanaman terkulai akibat terserang cendawan fusarium.

Untuk mencegah hal itu, Yayan mengolah tanah pratanam. Mula-mula ia membenamkan 10 ton pupuk kompos per ha. Selanjutnya alumnus Jurusan Agronomi Universitas Jenderal Soedirman itu membuat bedengan selebar 120 cm dan tinggi 20—30 cm. Jarak antarbedengan selebar 15—20 cm untuk drainase air. Langkah berikutnya menyemprotkan 30 liter larutan mikroorganisme lokal (MOL)—berbahan nasi—per ha. Ia lantas membiarkan tanah selama 3 hari atau sampai tersiram hujan sekali.

Yayan membenamkan benih sedalam 2—3 cm. Sehektar lahan memerlukan sekitar 50 kg benih dengan populasi 110.000—160.000 tanaman per ha. Jumlah tanaman tergantung jarak tanam. Yayan menanam dengan jarak 20 cm x 20 cm atau 25 cm x 25 cm. “Jika menanam di puncak musim hujan, renggangkan jarak tanam menjadi 30 cm x 30 cm  untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit,” kata Yayan.

Selang 10 hari pascatanam, ia mulai menyemprotkan larutan 30 l MOL berbahan bonggol pisang dan urine kelinci. Larutan itu  cocok pada periode vegetatif karena memacu pertumbuhan tanaman. Yayan mengulang penyemprotan setiap 10 hari sampai 40 hari setelah tanam (hst). Pada 50—80 hari setelah tanam, ia menyemprotkan 30 l larutan MOL generatif berbahan buah dan keong ke daun setiap 10 hari.

 

Bunga

Menurut penggiat pertanian organik dari Institut Teknologi Bandung, Dr Mubiar Purwasasmita, makhluk liliput dalam larutan MOL menjadi penggerak rantai kehidupan dalam tanah. Beberapa jenis mikrob bahkan mampu memproduksi hormon dan enzim yang memacu pertumbuhan tanaman. Pada 15 hari dan 40 hari setelah tanam, staf lapangan melakukan penyiangan. Tujuannya memaksimalkan aliran nutrisi untuk pengisian polong dengan menyingkirkan tanaman pengganggu.

Secara tidak langsung penyiangan menjaga tanah tetap gembur sehingga menjaga aliran oksigen di sekitar perakaran. Menurut penyelia plasma Bionic Farm Organic, Sukianto Lau, bunga muncul pada 25—35 hari setelah tanam.  Polong terbentuk setelah bunga dibuahi. Saat muncul bunga, tanaman membentuk 6 cabang, dengan setiap cabang rata-rata mempunyai 2 ruas. Seiring perkembangan bunga di ketiak cabang, cabang mulai turun sampai akhirnya menyentuh tanah.

Dari setiap ruas cabang muncul ginofor—yaitu tunas-tunas akar yang kelak membentuk polong.  Setelah ginofor pada ruas cabang kedua terbentuk—selewat 40 hari setelah tanam—staf lapangan membumbun cabang agar pembentukan polong sempurna. Sejatinya tanaman kacang tanah mampu membentuk ginofor di semua ruas cabang. Syaratnya, tersedia air. Namun Yayan membatasi hanya sampai ginofor di ruas cabang kedua. Tujuannya memaksimalkan ukuran polong dan kualitas biji kacang yang terbentuk.

Pada masa generatif semprotkan MOL berbahan buah dan keong
Pada masa generatif semprotkan MOL berbahan buah dan keong

“Jika ginofor di ruas ketiga dan seterusnya ikut dibumbun, maka ukuran kacang yang terbentuk belakangan belum optimal saat panen,” kata ayah 2 anak itu. Selain itu, pembentukan dan pengisian polong yang terbentuk belakangan bakal mengurangi aliran fotosintat—energi dan zat tepung hasil fotosintesis—ke polong yang lebih dahulu muncul. Padahal ketika panen, ukuran dan biji polong yang terakhir terbentuk tidak maksimal sehingga hanya masuk kategori apkir.

Menurut periset di Balai Penelitian Aneka Tanaman Kacang dan Umbi, Dr Ir M Muchlish Adie MS, lazimnya petani membiarkan semua ginofor membentuk polong. Efeknya, banyak polong yang kempes dan kopong sehingga harga jualnya rendah. Bionic Farm  Organic  memanen  kacang  pada  95  hari setelah tanam. Panen mereka lakukan bertahap sebanyak 4 kali setiap 2 hari. Itu 3 minggu lebih cepat ketimbang petani konvensional, yang panen saat tanaman berumur 110—120 hari.

Yayan mengatakan bahwa menunda panen justru menyebabkan polong mengeras dan bobot polong berkurang. Ia lantas membersihkan polong dari sisa tanah, lalu mengeringkan. Pengeringan dengan alas terpal di bawah sinar matahari cukup 30 menit. Namun, ketika hujan, pengeringan mesti menggunakan kipas angin semalaman. Setelah kering, staf gudang mengemas polong lalu menyimpan. Penyimpanan maksimal 2 hari untuk mencegah susut bobot dan menghindari risiko serangan cendawan yang mengakibatkan pembentukan racun aflatoksin.

Secara hitungan kasar, kebutuhan pupuk dan pestisida dalam produksi kacang tanah di Bionic Farm Organic tergolong minim. Pasalnya, mereka menggunakan pupuk kandang dan MOL buatan sendiri. “Komponen biaya terbesar justru tenaga kerja,” kata Yayan. Sehektar tanaman kacang tanah memerlukan minimal 15 orang tenaga kerja sejak penanaman, penyiangan, pemupukan, sampai panen.  Itu sebabnya banyak petani enggan menanam kacang tanah.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan penurunan produksi kacang tanah sejak 2007. Pada 2006, produksi nasional mencapai 838.000 ton. Tahun berikutnya, angka itu merosot menjadi 789.000 ton. Produksi pada 2011 lebih rendah lagi, tinggal 691.289 ton. Akibatnya, pada tahun sama mengalir kacang impor sebanyak 251.748 ton. Peluang mengisi pasar domestik pun terbuka lebar. Apalagi jika petani menerapkan pola budidaya organik yang menghasilkan kacang tanah bermutu super dan produktivitas menjulang. (Argohartono Arie Raharjo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img