Keberadaan Monyet Ekor Panjang Kian Terancam

0
monyet ekor panjang
Ilustrasi monyet. (pixabay.com)

Trubus.id — Monyet ekor panjang atau Macaca fasciularis merupakan satwa primata yang memiliki distribusi luas di wilayah Asia Tenggara. Sayangnya, keberadaan monyet ekor panjang semakin terancam akibat degradasi hutan dan perburuan liar.

Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), pada Maret 2022, status monyet ekor panjang masuk dalam kategori satwa terancam punah (endangered), dari sebelumnya memiliki status rentan (vulnerable) karena tingkat populasinya menurun hingga 40 persen.

Melansir dari laman IPB University, Prof. Steven J. Schapiro, dari University of Texas MD Anderson Cancer Center, mengatakan, monyet ekor panjang bermanfaat dalam sektor biomedis. Hal ini karena kekerabatan yang erat secara taksonomi antara monyet ekor panjang dan manusia, terutama dalam riset terkait virus dan obat-obatan.

“Walau dapat dikatakan spesies invasif dan destruktif (sebagai hama). Namun di saat bersamaan, hewan ini memiliki karakteristik spesial yang membuat perannya penting dalam berbagai penelitian,” kata Steven, saat menjadi keynote speaker di acara “International Conference on Long Tailed Macaques: Getting to Know Their Current Status and Roles in Environment and One Health”secara hibrid di Hotel Permata Bogor.

Lebih lanjut, menurutnya, para peneliti berupaya mengonservasi monyet ini di lingkungan laboratorium karena bertujuan meningkatkan kesehatan manusia. Sekaligus meningkatkan kesejahteraan monyet ekor panjang yang dibiakkan di dalam kandang.

Dr. Malene Friis Hansen dari University of Copenhagen turut menanggapi terkait isu status IUCN monyet ekor panjang. Ia memberikan rekomendasi berupa One Health, salah satunya tidak menangkap monyet liar di alam. Menurutnya, monyet ini dapat menularkan penyakit bila ditangkap dan dikandangkan.

“Penangkapan monyet liar dapat menyebarluaskan patogen yang berbahaya pada mereka dan populasi primata tetangganya, efeknya sangat berbahaya,” jelas Malene.

Sementara itu, menurut drh. (vet) Indra Eksplotasia dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, upaya konservasi di Indonesia harus menggunakan data dan informasi yang dikoleksi oleh Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) dalam mengawasi populasi monyet ekor panjang di seluruh provinsi.

Perlu dilakukan peningkatan asesmen spesies monyet ekor panjang di Indonesia untuk meningkatkan analisis dan rekomendasi pengelolaannya. Selain itu, peneliti harus memahami dampak populasi monyet ekor panjang untuk tujuan biomedis.

“Berdasarkan survei keberadaan dan populasinya di alam, status nasional monyet ini mungkin saja berbeda dari status global. Kami yakin bahwa status monyet ini masih dikatakan belum terancam punah,” papar Indra.