Tuesday, May 5, 2026

Kelompok Tani Cinta Mangrove, Motor Ekonomi Hijau dari Pesisir Batu Bara

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id — Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Wakil Menteri Sulaiman Umar Siddiq melakukan kunjungan kerja ke Kelompok Perhutanan Sosial Cinta Mangrove di Desa Perupuk, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, pada Rabu (10/9). Kunjungan ini merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah dalam memperkuat sinergi berbagai pihak untuk membangun ekonomi hijau berbasis perhutanan sosial.

“Kehadiran kami di Desa Perupuk adalah bentuk komitmen pemerintah dalam memperkuat sinergi dengan masyarakat, pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, dan mitra pembangunan. Dengan kebersamaan, kita bisa menjadikan perhutanan sosial sebagai motor penggerak ekonomi hijau yang berkelanjutan,” ujar Menteri Kehutanan dilansir pada laman kehutanan.go.id.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Bupati Batu Bara, Baharuddin Siagian, serta perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, juga Kepala UPT Kementerian di Provinsi Sumatera Utara. Dalam sesi dialog bersama masyarakat, semangat dan kepedulian warga terhadap pelestarian hutan mangrove semakin tampak kuat.

Bupati Baharuddin menyatakan apresiasinya terhadap perhatian pemerintah pusat. Ia menegaskan, Pemkab Batu Bara akan terus mendukung pengembangan kelompok tani mangrove sebagai bagian dari strategi pembangunan pesisir yang berkelanjutan.

Kelompok Tani Cinta Mangrove merupakan kelompok perhutanan sosial yang telah mengantongi izin pengelolaan hutan melalui skema Hutan Kemasyarakatan (HKm), berdasarkan SK Menteri LHK Nomor: SK.5467/MENLHK-PSKL/PKPS/PSL.0/8/2018.

Dengan semangat konservasi dan inovasi, kelompok ini berhasil mengelola kawasan mangrove menjadi destinasi wisata alam yang produktif dan lestari. Selama kurang lebih empat tahun terakhir, destinasi ini telah menjadi magnet wisata dengan berbagai daya tarik: jungle track, wisata kuliner, panahan, paviliun Jepang, hingga tempat pemancingan dan budidaya kepiting bakau.

Melalui unit usaha KUPS Jasa Lingkungan Wisata “Kampung Kito”, kelompok ini sukses mencatatkan pendapatan sekitar Rp 2 miliar per tahun. Pencapaian ini membuat mereka resmi naik kelas menjadi KUPS Platinum pada Juli 2025 — tingkatan tertinggi dalam klasifikasi usaha perhutanan sosial.

Tak hanya unggul dalam aspek ekonomi, kawasan mangrove di Desa Perupuk juga menyimpan kekayaan ekologis luar biasa. Wilayah ini menjadi lokasi persinggahan burung-burung migran dari berbagai negara, termasuk Rusia dan Tiongkok. Beberapa di antaranya tergolong langka dan terancam punah.

Kondisi ini membuka peluang pengembangan ekowisata berbasis minat khusus, seperti bird watching. Potensi ini semakin kuat dengan dukungan masyarakat lokal dan fungsi ekologis penting dari hutan mangrove sebagai habitat burung air.

Pemerintah mendorong agar kawasan ini diusulkan sebagai bagian dari Flyway Network Site (FNS) dalam Jalur Terbang Asia Timur–Australasia. Jika berhasil, status ini tak hanya memperkuat posisi Indonesia dalam konservasi global, tapi juga membuka peluang kerja sama internasional, termasuk dalam aspek pendanaan, riset, dan promosi wisata berbasis konservasi.

Kesuksesan Kelompok Tani Cinta Mangrove menunjukkan bahwa dengan sinergi dan pengelolaan berbasis masyarakat, kawasan pesisir dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, sekaligus benteng terakhir bagi keanekaragaman hayati.


Artikel Terbaru

Cara Memilih Jeruk Manis di Pasar: Ciri Fisik, Aroma, dan Mutu

Menurut Said dan rekan dalam artikel Physicochemical Quality Indicators of Citrus Fruits, mutu jeruk manis ditentukan oleh kombinasi karakter...

More Articles Like This