Sunday, August 14, 2022

Kemoterapi Tanpa Dampak Buruk

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

dr Prapti Utami meski telah dinyatakan sembuh, pasien kanker mesti menerapkan gaya hidup sehat untuk mencegah sel kanker datang lagiSemula Juvensia mengira bila sakit di bagian kiri perut yang kerap mendera adalah gejala atau radang lambung. Hasil pemeriksaan dokter juga menunjukkan hal serupa. Pada lambung Juvensia terdapat luka. Namun, lama-kelamaan rasa sakit semakin tak terkira.

Khawatir kondisi semakin memburuk, Pascalis, putra Juvensia, menyarankan sang ibu berobat ke Singapura pada April 2011. Hasil pemeriksaan lewat pencitraan dan resonansi magnetik atau MRI (Magnetic Resonance Imaging) membuat ibu dan anak itu terkejut. Dokter mendiagnosis Juvensia menderita kanker ovarium stadium III B. “Ibu saya orangnya kuat, jadi tidak pernah menduga kalau ibu sampai menderita kanker,” ujar Pascalis. Dokter menganjurkan  Juvensia menjalani operasi dan kemoterapi.

Normal

Pada Juli 2011 Juvensia akhirnya menjalani operasi pengangkatan sel telur dan berlanjut dengan kemoterapi. Namun, efek buruk akibat terapi kimia seperti rambut rontok, kulit kusam, mual, muntah, nafsu makan berkurang, selalu terlintas dalam pikiran selama terapi.

Pascalis akhirnya memperoleh informasi tentang khasiat daun sirsak yang dapat menggantikan kemoterapi dari salah satu anggota keluarga besarnya. Ia lalu menyarankan sang ibu untuk mengonsumsi kapsul ekstrak kerabat srikaya itu selama menjalani kemoterapi. Sebanyak 9 kapsul berbahan utama herbal daun sirsak dikonsumsi 3 kali sehari.

Hasilnya sungguh menggembirakan. Efek kemoterapi seperti tubuh pucat dan lemah sama sekali tidak terlihat. “Ibu saya segar bugar seperti orang sehat,” kata Pascalis. Daya tahan tubuh juga stabil. Bahkan pada pertengahan Agustus 2011 Juvensia tak khawatir bepergian jauh ke Flores, Nusa Tenggara Timur, untuk melayat ibunya yang meninggal dunia. Hingga saat ini Juvensia tetap rutin mengonsumsi kapsul daun sirsak sebagai pendamping kemoterapi.

Setali tiga uang dengan Juvensia, Dessy Ong di Jakarta juga tak mengalami efek buruk kemoterapi. Pada 2008 Dessy menjalani operasi pengangkatan benjolan berupa tumor jinak pada payudara kanannya. Pada Oktober 2010, perempuan 39 tahun itu kembali menjalani operasi untuk mengangkat kanker stadium II B di payudara kiri. Kelenjar ketiak juga harus diangkat. Pascaoperasi Dessy juga rutin melakukan kemoterapi.

Sebelum operasi ibu 2 anak itu rutin mengonsumsi air rebusan 10 daun sirsak dua kali sehari. Dessy tertarik mengonsumsi herbal daun sirsak setelah membaca sebuah buku tentang manfaat daun sirsak. “Saya ingin benar-benar sembuh. Apa pun caranya akan saya lakukan,” ujar Dessy. Kebetulan di halaman rumahnya tumbuh sebatang pohon sirsak. Ia merebus daun Annona muricata dalam 3 gelas air.

Pascaoperasi dan selama kemoterapi ia melanjutkan konsumsi berupa 200 gram serbuk daun sirsak yang direbus dalam         3 gelas air dan diminum 2 kali sehari. Pemeriksaan terakhir menunjukkan Dessy benar-benar terbebas dari kanker. Yang lebih menggembirakan, organ tubuh lain yang diduga bakal terpapar efek buruk kemoterapi tetap normal.

Melindungi sel

Menurut dokter di Bintaro, Kotamadya Tangerang Selatan, Provinsi Banten, dr Prapti Utami, kemoterapi dapat menyebabkan organ lain yang masih normal turut terpapar zat kimia.  Keunggulan acetogenins pada daun sirsak mampu menghambat pertumbuhan sel kanker, tanpa mempengaruhi sel-sel lain. “Senyawa itu juga dapat menyeleksi antara sel jahat dengan sel baik sehingga fungsi organ tubuh lain tetap terjaga sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh. Karena itu efek buruk kemoterapi dapat diminimalisir,” kata Prapti. Menurut Dr dr Andhika Rachman SpPD, senyawa acetogenins pada daun sirsak dalam menghambat pertumbuhan sel kanker baru teruji secara in vitro di laboratorium saja sehingga masih butuh penelitian lebih lanjut.

Namun, kedua pasien itu membuktikan daun sirsak mampu membantu mengurangi efek buruk kemoterapi. Oleh karena itu sampai saat ini keduanya masih rutin mengonsumsi daun sirsak untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Menurut herbalis di Bogor, Jawa Barat, Valentina Indrajati, kemungkinan sembuh kanker 60% di antaranya ditentukan rasa menerima keadaan, tapi tetap optimis, sedangkan sisanya bantuan pengobatan dari luar.

Meski telah dinyatakan sembuh, Prapti Utami menyarankan agar pasien tetap menerapkan gaya hidup sehat agar sel kanker tidak kembali menyerang. Apalagi bila pasien memiliki riwayat kanker dalam anggota keluarganya. Artinya, peluang sel kanker kembali menyerang masih tinggi. “Tapi bukan berarti pasien yang tidak punya riwayat kanker bebas dari risiko terserang,” imbuh Prapti.

Itulah sebabnya gaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari mutlak diterapkan. Sebaiknya perbanyak konsumsi makanan dan minuman yang mengandung antioksidan tinggi seperti jus sirsak, jus yang dicampur brokoli, dan buah-buahan bervitamin C tinggi. Kurangi juga makanan hewani. Dengan begitu kanker tuntas, dan tak datang kembali. (Andari Titisari)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img