Trubus.id – Piring berbentuk bujur sangkar dengan sedikit melengkung di bagian sisinya itu tampak menawan. Permukaannya mengilap yang memantulkan warna kebiruan dan merah jambu.
Ada juga piring wadah buah-buahan yang berbentuk seperti buah nanas yang terbelah. Piring itu juga mengilap dan memantulkan warna biru toska.
Piring itu berpadu dengan warna alami dari bahan kayu jati sehingga tampil mewah dan eksotis. Siapa sangka bahwa kedua perkakas produksi Prayogi Harry Widharta itu terbuat dari limbah kulit kerang.
Kerajinan dari limbah kulit kerang bukan hanya kedua piring itu saja. Ada juga perlengkapan dapur, peralatan makan, cinderamata, hingga dekorasi rumah.
Setiap item yang dihasilkan menunjukkan kualitas seni yang tinggi. “Kami menghasilkan 55 item produk dari limbah kulit kerang,” tutur pria asal Desa Wonorejo, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, itu.
Di desanya limbah berupa kulit kerang jumlahnya berlimpah. Pertumbuhan pesat industri ekspor hasil laut dari Probolinggo banyak menghasilkan kulit kerang yang dibuang begitu saja.
“Akibatnya limbah itu menumpuk dan menjadi sampah yang menutupi daerah pantai,” kata pemilik c itu. Limbah kulit kerang itu tanpa disadari dapat berdampak negatif bagi ekosistem pesisir dan kualitas hidup masyarakat sekitar pantai.
Dari keprihatinan itulah muncul ide untuk memanfaatkan limbah kulit kerang menjadi aneka kerajinan tangan. Berkat sepak terjang yang dilakukan Yogi dan rekan-rekan, limbah yang tadinya tidak berharga kini disulap menjadi aneka kerajinan bernilai estetis dan memiliki nilai jual tinggi.
“Sebanyak 70% produk kami mampu menembus pasar ekspor,” ujar Yogi. Produknya digemari negara-negara yang dikenal memiliki potensi wisata pantai.
Sebut saja Amerika Serikat, Australia, Maladewa, El Salvador, Kostarika, Afrika, Palau, serta Kepulauan Andaman dan Nikobar. Ia mendapat pesanan dari hotel, restoran, dan kafe (horeka) di sana.
“Saat ini kami sedang menyelesaikan pesanan dari La Reunion, Perancis,” tambahnya. Pantas bila usahanya itu kini beromset rata-rata Rp30 juta per bulan.
