Trubus.id— Tumpangsari atau budidaya lebih dari satu tanaman dalam satu lahan kerap dipilih pekebun. Menurut dosen di Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Dr. Ade Ismail, S.P., M.P., tumpang sari bernilai ekonomis karena tanaman pendamping mendatangkan pendapatan lebih cepat dibandingkan dengan tanaman utama.
Selain itu, keuntungan tumpang sari yakni tanaman utama menjadi lebih terpelihara dengan baik dari gangguan gulma. “Pemilihan tanaman utama dengan tanaman sela harus tepat karena khawatir ada tanaman yang mengeluarkan zat pengganggu,” kata Ade.
Lebih lanjut, doktor Pemuliaan Tanaman alumnus Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, itu mengatakan, kombinasi tanaman yang ditumpangsarikan bisa dari golongan tanaman pangan dengan tanaman penghasil nitrogen (kacang-kacangan).
Selain itu sandingkan tanaman berakar tunggang panjang dengan tanaman berakar dangkal. Tujuannya agar tanaman berakar panjang “membantu” tanaman berakar dangkal menyerap hara dalam tanah.
Pemilihan tanaman pendamping bisa menggunakan jenis tanaman repelen. Secara harfiah repelen adalah zat yang mampu menolak atau mencegah serangan hama. Namun, tidak semua tanaman bisa dijadikan repelen. Setidaknya ia harus beraroma tajam.
Misalnya, petani dapat menumpangsarikan selada dengan bawang prei. Ade mengatakan bawang prei sebagai tanaman repelen lantaran menghasilkan aroma atau senyawa metabolit sekunder yang baik untuk mengurangi hama dan penyakit pada sayuran daun seperti selada.
Selada merupakan tanaman sayur daun, sehingga bisa dikombinasikan juga dengan bit. “Hasil panen bit berupa umbi sehingga memberikan aerasi di sekitar tanah yang baik untuk tanaman lain,” tutur Ade.
