Trubus.id— Kale kini menjadi salah satu sayuran termahal. Meski harga tinggi, konsumen tetap memburu sayuran kerabat selada itu. Sebab, kale mengandung senyawa flavonoid yang bersifat antioksidan.
Senyawa antioksidan berperan dalam membangun sistem kekebalan tubuh. Itulah sebabnya budidaya kale menjadi daya tarik bagi para petani.
Budidaya kale secara organik lebih memberikan jaminan kesehatan pada konsumen. Selain itu, dapat mengoptimalkan hasil. Dalam budidaya kale itu Anda dapat menerapkan sistem tumpang sari. Untuk dengan minimal 3 jenis sayuran, yakni selada sebagai batas tepi guludan.
Adapun caisim, pakcoi, kangkung, dan, bunga kol tumbuh di sela kale sebagai tanaman tumpangsari. Pola tanam itu untuk menghalau hama. Getah selada mengandung zat yang berfungsi sebagai penolak hama. Berikut cara budidaya kale organik.
Budidaya Kale Organik
- Cangkul lahan dan tambahkan pupuk organik hasil fermentasi kotoran kambing, keong mas, molase, dan terasi selama 1 bulan. Kebutuhan pupuk organik 6 kg per meter persegi. Campur pupuk dan tanah secara merata dan buat guludan kemudian tutup dengan mulsa selama 1—2 pekan untuk mengaktivasi bakteri tanah untuk menyuburkan
- Pindah tanamkan bibit kale berumur 2 bulan dari persemaian ke guludan berjarak tanan 40 cm x 60 cm. Penanaman pada sore hari ketika intensitas sinar matahari rendah.
- Pemupukan susulan setiap pekan menggunakan kompos cair sebanyak 250 ml tiap tanaman yang diguyurkan di sekitar batang.
- Sebulan setelah penanaman, kale siap panen. Tandanya daun tumbuh maksimal kira-kira 30 cm, warna hijau gelap, dengan bentuk yang bagus, tidak terserang hama. Potong tangkai daun siap panen dengan pisau tajam. Rata-rata dari sebuah tanaman diambil 2 daun per panen. Panen berikutnya berjarak 3 hari.
- Berikan pupuk kompos cair secara rutin atau sebulan sekali. Dengan demikian nutrisi tanaman tercukupi.
- Kale bisa panen hingga berumur 180 hari setelah tanam. Produktivitas rata-rata 7 kg per tanaman.
