Kiat Hemat Biaya Tanam

Rekomendasi
Mesin pemanen bawang merah. (Dok. Trubus)

Pekebun bawang merah menghemat biaya tenaga kerja hingga separuh jika memanfaatkan mesin.

Trubus — Para pekebun bawang merah di Desa Tonsewer, Kecamatan Tompaso Barat, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, mengeluarkan biaya tenaga kerja paling tinggi untuk membuat guludan, menanam bibit, dan panen. Menurut peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Sulawesi Utara, yang mendampingi para pekebun di sana, Arnold Turang dan tim, untuk membuat guludan perlu 30 hari orang kerja (HOK).

Mesin pembuat guludan. (Dok. Trubus)

Di Desa Tonsewer biaya tenaga kerja rata-rata Rp100.000 per orang per hari atau total mencapai Rp3 juta. Adapun untuk menanam bibit perlu 50 HOK atau total biaya Rp5 juta. Saat panen pekebun juga merogoh biaya sama dengan biaya penanaman bibit. Ketiga komponen biaya itu menyedot 65% total biaya tenaga kerja. Para peneliti Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) merancang mesin untuk menekan biaya produksi.

Teknologi

Para periset merancang mesin pembuat guludan, penanam bibit, dan pemanen bawang merah. Ketiga mesin itu dipamerkan pada acara peluncuran alat dan mesin pertanian (alsintan) hasil penelitian BBP Mektan pada akhir 2017. Mesin pembuat guludan terdiri atas dua perangkat untuk menggemburkan tanah dan pencetak guludan. Perangkat penggembur tanah terbuat dari roda pisau berbahan lempengan baja yang disusun seperti baling-baling kipas angin.

Roda pisau itu berfungsi memecah tanah, kemudian mendongkelnya sehingga tanah yang semula padat menjadi pecah dan berbentuk remah. Perangkat itu ditarik menggunakan traktor tangan berdaya putar power take off (PTO) 250 putaran per menit (rpm). Dengan daya putar mesin sebesar itu, traktor dapat melaju dengan kecepatan 1,5—2 km per jam.

Menurut Andi Nur Alamsyah, S.T.P., M.T., pada saat acara peluncuran menjabat sebagai Kepala BBP Mektan, mesin itu mampu menggemburkan lahan 1 hektare selama 4,17 jam. Setelah tanah gembur, selanjutnya gunakan perangkat pembuat guludan berupa baling-baling pisau plat baja di bagian tengah. Pada saat ditarik menggunakan traktor, baling-baling itu akan menggali tanah yang sudah gembur sehingga membentuk parit.

Mesin penggembur tanah. (Dok. Trubus)

Tanah galian dari parit itu secara otomatis berkumpul ke bagian samping sehingga tanah membentuk guludan. Pekebun dapat membuat guludan lebar 1 m di lahan 1 hektare selama 4,1 jam. Artinya pekebun hanya perlu kurang dari 2 hari kerja untuk mengolah tanah dan membuat guludan di lahan 1 hektare. Bandingkan dengan tenaga kerja manusia, untuk menyelesaikan kedua pekerjaan itu perlu 30 HOK.

Tanam otomatis

BBP Mektan juga merancang mesin penanam bibit otomatis untuk menghemat biaya tenaga kerja. Pekebun cukup menumpangi mesin dengan model riding transplanting itu untuk memasukkan bibit bawang merah ke dalam corong-corong. Corong berisi bibit itu kemudian ditancapkan ke dalam tanah yang sudah gembur. Saat menancap dalam tanah, ujung corong lalu membuka sehingga pada tanah terbentuk lubang tanam.

Pada saat yang bersamaan bibit di dalam corong jatuh ke lubang tanam. Jarak antarlubang tanam dapat diatur sesuai kebiasaan pekebun. Jarak antarbaris dapat diatur hingga 20—50 cm dan jarak antarrumpun 10—50 cm. Menurut anggota tim peneliti Rekayasa Mesin Tanam dan Panen Bawang Merah BBP Mektan, Dr. Ir. Teguh Wikan Widodo, M.Sc., mesin itu mampu menanam 2.000—4.000 tanaman per jam. Artinya, bila jarak tanam 20 cm x 20 cm atau total populasi 200.000 tanaman per hektare, maka untuk menanami 1 hektare lahan perlu waktu 50—100 jam.

Jika satu hari kerja para pekerja bekerja 8 jam, maka waktu yang diperlukan untuk menanami 1 hektare lahan hanya 7—13 hari. Jumlah waktu itu jauh lebih cepat bila dibandingkan dengan tenaga kerja manusia yang memerlukan waktu hingga 50—60 HOK.

Alat panen

Mesin pemanen bawang merah.

Teguh dan tim juga sukses merancang perangkat pemanen bawang merah. Pekebun dapat memanen bawang merah di lahan 1 hektare selama 12 jam atau kurang dari 2 hari kerja jika menggunakan traktor itu. “Bila menggunakan traktor lebih besar bisa lebih cepat yakni bisa hanya 4,1 jam per hektare,” tuturnya. Menurut Andi ketiga mesin hasil inovasi BBP Mektan itu untuk mendukung program Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, yang tengah getol mendorong mekanisasi pertanian.

“Tanpa teknologi kita tak mungkin bisa bersaing dengan negara lain. Dengan inovasi teknologi, ongkos bertani bisa dipangkas hingga separuhnya. Bayangkan dahulu biaya menanam per hektare saja bisa sampai Rp2 juta, sekarang hanya Rp1 juta per hektare,” kata Amran dalam sambutannya saat membuka acara peluncuran alsintan hasil penelitian BBP Mektan. (Imam Wiguna)

Artikel Terbaru

Pangan Nusa Expo 2026 Buka Peluang UMKM Pangan Tembus Pasar Global

Trubus.id – Pangan Nusa Expo 2026 menjadi ajang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pangan untuk memperluas...

More Articles Like This