
Agar tabulampot anggur cepat berbuah.
Pehobi lazimnya mendapatkan tabulampot anggur dari bibit hasil perbanyakan setek dan sambung. Namun, Ahmad Syafei di Semarang, Jawa Tengah, menerapkan teknik cangkok modifikasi. Dengan cara itu tabulampot anggur sudah berbuah 3 bulan pascacangkok.
Alih-alih mengerat batang sepanjang 3—5 cm, mengerik kambium, atau membalut luka dengan tanah untuk membalut irisan cabang, ia justru memakai pot berisi media tanam. Ahmad menuturkan dengan cara itu calon tanaman memiliki cadangan makanan yang lebih banyak dibandingkan dengan cangkok biasa.
Nutrisi
Ahmad memilih cabang tersier anggur jenis rizamat yang sudah membawa bunga sebagai bahan cangkok. Pehobi itu menyayat cabang di dua tempat berjarak 3 cm menggunakan pisau tajam. Sayatan berbentuk lingkaran itu dikelupas kulitnya. Pehobi anggur sejak 2012 itu lalu menyiapkan pot berdiameter 30 cm yang terdapat lubang di bagian bawah.
Menurut pehobi anggur di Bekasi, Jawa Barat, Firmansyah Alam, cangkok anggur amat sulit dilakukan. Musababnya, akar tanaman hasil cangkok lemah sehingga tanaman gampang terserang penyakit. Selain itu, tanaman induk menjadi lemah sehingga butuh waktu lama untuk pemulihan.
Tanaman setidaknya butuh 2—4 tahun untuk kembali segar dan sehat. Akibatnya, tanaman induk kesulitan berbuah. Ahmad menuturkan perbanyakan tanaman dengan cangkok memang harus hati-hati memilih tanaman induk. “Pilih tanaman yang sudah pernah berbuah. Pastikan pula batang dan percabangan tanaman sehat,” katanya.
Pemilihan pot berukuran besar memungkinkan akar tanaman bergerak leluasa. Akar yang berdesak-desakan di dalam pot tentu saja kurang baik bagi pertumbuhan dan kesehatan tanaman. Jika demikian mencangkok Vitis vinifera sebuah keniscayaan. Memetik buah di pot pun bukan sekadar impian. (Andari Titisari)

