Monday, July 15, 2024

Hidroponik Melon Chamoe Lezat Asal Korea

Rekomendasi
- Advertisement -

Melon chamoe asal Korea Selatan hasil budidaya hidroponik.

Menikmati melon chamoe tanpa harus mengupas. Kulit buah chamoe dapat dikonsumsi.

Sosok buah itu sekilas mirip mentimun suri dan blewah. Kulit kuning cerah dan berlekuk putih. Kabul Pamudji memetik buah itu, mencuci bersih, memotong daging buah tanpa mengupas, dan menyajikannya. Ketika suhu Semarang, Jawa Tengah, melonjak 31ºC menikmati chamoe—nama buah itu—sungguh terasa lezat. Ya, kulit buah melon chamoe memang dapat dikonsumsi, tanpa rasa pahit sedikit pun.

Melon lain, mana ada yang kulitnya juga dapat disantap. Cita rasanya memanjakan lidah. Tekstur daging buahnya renyah. Pengukuran dengan refraktometer menunjukkan, kadar kemanisan buah mencapai 15º—16º briks. Bandingkan dengan tingkat kemanisan melon lain pada umumnya hanya 10º—12º briks. Kabul Pamudji membudidayakan melon korea alias chamoe itu sejak Maret 2018 di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Sistem hidroponik

Kabul yang menjabat direktur utama The Farm Hill itu menanam chamoe di dalam greenhouse seluas 1.000 m². Di dalam rumah tanam itu terdapat 3.500 tanaman yang tengah berbuah. Kabul merambatkan tanaman anggota famili Cucurbitaceae itu di tali tambang plastik sepanjang 3,5 meter. Ia mempertahankan 2—3 buah per tanaman.

Kabul Pamudji (kiri) dan Dwi Purwanto (kanan). Sudah 5 tahun giat berhidroponik.

Di bagian lain terdapat tanaman berumur 35 hari. Dengan manajemen produksi yang baik, Kabul dapat rutin panen chamoe setiap 2 bulan sebanyak 7.000 kg buah. Ia menanam chamoe dengan teknik hidroponik. Kabul tertarik untuk memproduksi melon chamoe karena bersosok unik, lain dari yang lain. Produksi melon chamoe itu bermula dari perendaman benih dalam air selama 24 jam agar membantu perkecambahan.

Buah dengan potensi bisnis yang baik.

Ia lalu menyemai benih di atas nampan bermedia serbuk sabut kelapa atau cocopeat. Perawatan benih hanya berupa penyiraman. Kabul memindahtanamkan bibit berumur 18 hari terdiri atas 4—5 helai daun. Bibit itu kemudian ditanam di polibag bermedia berupa cocopeat. The Farm Hill memberikan nutrisi AB mix berupa campuran unsur kalium, sulfat, dan fosfat sebagai nutrisi. Pemberian berlangsung selama 15 menit.

Kabul mengatur elektoconductivity (EC) hingga 2,5 pada fase generatif. Adapun EC pada fase vegetatif atau pertumbuhan hanya 2,2. Tanaman berbunga pada umur 21 hari setelah tanam. Selama ini fruitset atau pembentukan buah dari bunga relatif tinggi. Ukuran buah membesar seiring pemberian nutrisi.

Kabul sengaja melayukan daun-daun tanaman menjelang panen yaitu kisaran 45—50 hari setelah tanam (HST). Cara melayukan dengan tanpa penyiramanan. Tujuan pelayuan agar nutrisi terfokus pada buah, bukan untuk pertumbuhan daun. Pada hari ke-65, melon siap panen. Satu tanaman melon chamoe menghasilkan 2—3 buah. Adapun bobot per buah berkisar di 600—700 gram. Bobot beberapa buah chamoe mencapai 850 gram per buah.

Masyarakat perkotaan

Direktur Komersial The Farm Hill, Dwi Purwanto mengatakan, “Bobot 700 gram per buah akan kami pertahankan, mengingat pendisitribusian melon chamoe memang dititikberatkan pada pasar swalayan modern sehingga keseragaman penampilan fisik akan sangat dipertimbangkan.” Hingga kini pendistribusian melon Chamoe masih sebatas di kota-kota Jakarta, Palembang, Bali, dan Yogyakarta.

Sebanyak 3.500 tanaman melon merambati tali setinggi 3,5 meter di dalam greenhouse.

Dwi Purwanto menjual melon chamoe Rp50.000 per kg. Jika bobot buah rata-rata 700 gram, maka harga sebuah melon setara Rp35.000. Menurut Purwanto konsumen melon baru itu pada umumnya masyarakat golongan menengah atas di perkotaan.

Menurut Kabul kendala menanam chamoe adalah serangan virus gemini. “Chamoe sangat rentan terhadap virus gemini. Virus biasanya menyerang tanaman memasuki umur 2—3 minggu setelah tanam,” kata Kabul. Kutu kebul Bemicia tabacimenjadi vektor penyakit itu. Untuk mencegah serangan penyakit itu, Kabul menanam melon chamoe di dalam greenhouse sehingga mampu mengendalikannya.

Untuk mencegah penyakit mematikan itu, sebelum penanaman ia mensterilisasi greenhouse dan media menggunakan pestisida berbahan aktif propamokarb hidroklorida. Dengan sekali sterilisasi ini, bisa dipastikan kondisi chamoe aman baik tanaman maupun fisik buah akan terjaga. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tiga Bahan Alami untuk Ternak Ayam

Trubus.id—Lazimnya kunyit sebagai bumbu masakan. Namun, Curcuma domestica itu juga dapat menjadi bahan untuk menambah nafsu makan ayam....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img