Sunday, June 16, 2024

Sudah Jumbo Lebat Pula

Rekomendasi
- Advertisement -

Red ivory mampu berbuah lebat meski tanpa perawatan intensif.

Mangga yang tumbuh di salah satu sudut kebun milik Teddy Soelistyo itu tengah berbuah lebat. Puluhan buah bergelayut, beberapa di antaranya bahkan hampir menyentuh tanah. Yang istimewa, warna buah Mangifera indica itu atraktif dengan semburat merah dari pangkal buah. Bentuk buah memanjang dengan ujung buah meruncing. Itulah ciri khas mangga red ivory asal Thailand.

Itu kali kedua si gading merah berbuah di kebun Teddy di Gunungsindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pada musim berbuah sebelumnya tanaman anggota famili Anacardiaceae itu juga berbuah tak kalah lebat. “Ini menjadi bukti kalau karakter red ivory memang mampu berbuah lebat,” ujar pemilik Pohon Buah Nursery itu. Padahal, ia tidak merawat tanaman kerabat jambu mete itu secara intensif.

Warna merah keluar bila terpapar sinar matahari penuh.

Buah jumbo

Teddy menuturkan, “Saya bukan pekebun skala komersial. Jadi tidak melakukan perawatan khusus.” Sebagai sumber nutrisi, ia hanya mengandalkan pupuk standar berupa 2 kg NPK berimbang yang diberikan setiap 5 bulan. Ia juga memberikan pupuk tambahan berupa pupuk kandang sebanyak 10 kg per pohon. Dosis pupuk itu tergolong tinggi karena red ivory di kebun Teddy adalah hasil sambung pucuk pada pohon dewasa berumur lebih dari 10 tahun.

Ia juga memangkas agar tajuk tidak terlalu rimbun sehingga seluruh tanaman memperoleh paparan sinar matahari merata. Sirkulasi udara di sekitar tanaman juga menjadi bagus sehingga iklim mikro di sekitar tanaman tidak terlalu lembap. Kondisi iklim mikro yang terlalu lembap mengundang bakteri dan cendawan penyebab penyakit berkembang biak. Meski tak mendapat perawatan khusus, buah red ivory mampu tumbuh optimal.

Beberapa buah di antaranya bahkan berukuran jumbo. Pada musim berbuah sebelumnya, rekor buah terbesar mencapai 2,4 kg per buah. “Itu buah tunggal. Dalam satu dompolan hanya tersisa satu buah,” tutur Teddy. Ia mendatangkan red ivory pada 2013 dari Thailand. Pebisnis bibit buah itu tertarik berburu red ivory saat memperoleh informasi tentang keistimewaan mangga itu di Negeri Gajah Putih.

Buahnya berukuran bongor, warna buah atraktif, dan rasanya manis menyegarkan. Pehobi tanaman buah di Kota Medan, Sumatera Utara, Felix Leonady, pernah mencicipi red ivory saat berkunjung ke Negeri Siam pada Juni 2018. “Rasa manisnya luar biasa. Tekstur daging buah lembut tanpa serat,” kata Felix. Selain itu purnarasa atau after taste ringan dan tidak enek. Bijinya juga super tipis.

Teddy memperoleh bibit mangga itu di Chatuchak, pusat jual beli bibit tanaman di pusat Kota Bangkok, Thailand. “Saya membeli 5 bibit berukuran 50 cm bersama mangga jenis lain,” ujar pehobi buah itu. Ia rela berburu ke negara asalnya lantaran kapok kerap tertipu penjual bibit lokal. Tiba di tanah air, Teddy langsung menyambung entres atau batang atas red ivory pada pohon mangga okyong berumur sekitar 10 tahun.

Mudah diperbanyak

Teddy sengaja menyambung batang atas pada pohon dewasa dengan harapan sang entres mampu tumbuh optimal. Menurut Teddy pohon dewasa memiliki area perakaran yang luas sehingga lebih optimal memasok nutrisi dari dalam tanah. Dalam satu pohon itu ia juga menyambung pucuk aneka jenis mangga lain. Ia menuturkan para penangkar tanaman buah biasa melakukan sambung pucuk berbagai jenis varietas pada satu pohon dewasa.

Bobot buah mangga red ivory bisa mencapai 2,4 kg per buah.

“Soalnya para penangkar bukan untuk memanen buah, tapi entres untuk memperbanyak bibit. Setelah bakal bibit tumbuh optimal dan terbukti berbuah di pohon dewasa, baru percabangannya dipanen untuk perbanyakan bibit,” kata Teddy. Yang menggembirakan, red ivory tidak “rewel” saat diperbanyak. Entres mangga eksotis itu kompatibel dengan batang bawah mangga jenis apa pun.

Penangkar bibit tanaman buah itu menuturkan, “Saya menyambung pucuk red ivory dengan batang bawah produksi petani yang tidak diketahui jenisnya. Ternyata entres mampu tumbuh dan bertahan hidup asalkan tidak terkontaminasi bakteri atau cendawan saat penyambungan.” Sekitar 2,5—3 tahun setelah sambung pucuk, red ivory mulai belajar berbuah. Saat pentil mulai bermunculan, ia rutin memangkas tunas-tunas air yang muncul.

Tujuannya agar tidak terjadi persaingan nutrisi. Jika dibiarkan nutrisi akhirnya terbagi untuk pertumbuhan tunas air sehingga pasokan nutrisi untuk buah menjadi berkurang. Teddy membungkus buah saat buah mulai bersemburat merah. Ia menggunakan bungkus buah asal Thailand yang terbuat dari semacam kertas semen dengan lapisan karbon di bagian dalam pembungkus.

Semula ia membungkus buah untuk mencegah serangan hama seperti lalat buah. Namun, pembungkusan buah ternyata menyebabkan kulit buah menjadi berwarna kuning. Ia menduga lapisan karbon menjadi penyebab warna buah tidak menjadi merah. Warna merah muncul pada buah yang tidak dibungkus. “Buah harus terkena sinar matahari penuh jika ingin muncul warna merahnya,” tambah pria yang juga hobi mengoleksi tanaman hias itu.

Untuk mencegah serangan hama, Teddy rutin menyemprotkan insektisida berdosis minimum. “Penyemprotan insektisida yang terlalu pekat dapat merusak penampilan buah,” tuturnya. Itu terjadi pada buah mangga purple nam dok mai koleksi Teddy. Akibat konsentrasi insektisida terlalu pekat membuat kulit buah berkarat. (Imam Wiguna)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Berniaga Bibit Buah Naga, Pekebun di Subang dapat Cuan Puluhan juta

Trubus.id—Dedi Sumardi selalu kebanjiran pesanan ribuan bibit buah naga. Total sekitar 2.480 batang bibit yang terjual dalam sebulan.  Ia...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img