Saturday, December 3, 2022

Kima Makin Merana

Rekomendasi
Perbanyakan kima secara buatan di Marine Station Universitas Hasanuddin, Pulau Barrang Lompo, Makassar.
Perbanyakan kima secara buatan di Marine Station Universitas Hasanuddin, Pulau Barrang Lompo, Makassar.

 

Habib Nadjar Buduha menyimpan rindu untuk pulang kampung dan menetap di tempat kelahirannya, Kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulawesi Tengah. Setelah 29 tahun, obsesi itu baru terwujud pada 2009. Namun, ketika kembali ke kampung, kondisi tempat kelahirannya itu jauh berubah. Laut jernih, tempatnya berenang saat kanak-kanak, penuh puing terumbu karang yang runtuh akibat pengeboman.

Habib Nadjar Buduha, inisiator Konservasi Kima Tolitoli- Labengki (TLGCC), merogoh kocek sendiri untuk melestarikan kima.
Habib Nadjar Buduha, inisiator Konservasi Kima Tolitoli- Labengki (TLGCC), merogoh kocek sendiri untuk melestarikan kima.

“Nelayan harus pergi makin jauh dan makin lama untuk memperoleh ikan,” kata alumnus Jurusan Pajak Sekolah Tinggi Ilmu Keuangan, Makassar itu. Pria 54 tahun itu mulai mengajak masyarakat meninggalkan pembiusan atau pengeboman untuk mencari ikan.

Habib tidak serta-merta menasihati mereka untuk berhenti mengebom. Ia justru ikut mengebom dengan mereka. “Sesudahnya saya persilakan mereka melihat hasil perbuatan mereka, berapa yang mereka peroleh, berapa banyak yang justru tidak mereka ambil dan terbuang percuma,” kata ayah 1 anak itu. Dengan cara itu, banyak yang menerima ajakannya berhenti merusak dan mulai merestorasi lautan.

Pada 2009, Habib mengajak masyarakat Tolitoli untuk merelokasi kima dari tempat lain ke laut mereka. Menurut Habib kima biota laut yang vital untuk mengembalikan kondisi perairan. Hewan itu memangsa mikroplankton dan menangkap nutrisi yang menyuburkan plankton sehingga mencegah terjadinya ledakan populasi alga (algal bloom). Ia sekaligus berfungsi menyaring air laut. Itu dibuktikan peneliti kima National University of Singapore, Mei Lin Neo.

Kima Tridacna noae di TLGCC
Kima Tridacna noae di TLGCC
Spesies kima selatan Tridacna derasa di TLGCC.
Spesies kima selatan Tridacna derasa di TLGCC.

Neo melakukan studi pustaka selama 10 tahun terhadap lebih dari 500 hasil penelitian tentang kima. Periset itu melaporkan bahwa 432 individu dewasa kima raksasa di Great Barrier Reef, Australia, menyaring 28.121 liter air laut per jam per hektare. Dari 12 spesies kima di dunia, 7 di antaranya hidup di region Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dan Australia. Anggota famili Tridacnanidae itu hanya hidup di perairan tropis yang hangat.

Kepulauan Tonga dan Fiji menyimpan spesies Tridacna mbalavuana, Mauritius (T. rosewateri dan T. lorenzi), serta Laut Merah (T. squamosina). Spesies berukuran besar seperti kima raksasa T. gigas tidak lagi dijumpai di Indonesia barat. Pascarelokasi kima, kawasan laut seluas 200 hektare mereka deklarasikan sebagai daerah konservasi.

Langkah yang luar biasa berani lantaran Habib menyatakan bahwa saat itu Tolitoli adalah daerah pengeboman dan pembiusan ikan. “Nelayan dari daerah lain pun datang untuk mengebom ikan di Tolitoli,” kata mantan jurnalis salah satu harian di Makassar itu. Tantangan yang Habib hadapi sangat berat.

“Penyadaran masyarakat lokal relatif lebih mudah karena mereka bersentuhan langsung. Memperbaiki kawasan itu berarti memperbaiki kehidupan mereka,” katanya. Yang lebih sulit, mencegah orang luar kawasan untuk mengebom di sana. Apalagi kima salah satu target buruan. Menurut peneliti terumbu karang dan kima di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, Makassar, Dr. Syafyudin Yusuf, S.T., M.Si., masyarakat etnis tertentu yang mendiami pulau-pulau kecil menjadikan daging kima sebagai pengganti daging ruminansia.

Kima sisik T. squamosa. Lapisan zooxanthella menghasilkan pigmen yang membentuk warna.
Kima sisik T. squamosa. Lapisan zooxanthella menghasilkan pigmen yang membentuk warna.

Daging biota laut itu juga kerap tersaji di pasar dan acara hajatan. “Puluhan bahkan ratusan kima dikorbankan setiap acara hajatan seperti pernikahan atau khitanan,” ungkap Syafyudin. Etnis lain di Nusa Tenggara Timur memanfaatkan cangkang kima sebagai wadah untuk membuat garam dari air laut, tentu setelah mengonsumsi dagingnya.

Substitusi itu jelas tidak sebanding. “Umur kima raksasa yang bisa disantap minimal 7 tahun, sementara sapi atau kerbau umur 4 tahun saja dagingnya sudah banyak,” kata Syafyudin. Itu sebabnya Habib Nadjar Buduha menyatakan bahwa kima hanya ia jumpai di perairan dangkal

Koleksi Tolitoli-Labengki Giant Clam Conservation Kima pasir Hippopus hippopus hasil tangkapan liar. Kima tahan 3 jam di luar air.
Koleksi Tolitoli-Labengki Giant Clam Conservation :
Kima pasir Hippopus hippopus hasil tangkapan liar. Kima tahan 3 jam di luar air.

yang jauh dari pulau berpenghuni. “Radius 1 mil dari pantai habis, mencarinya harus ke tengah laut,” ujarnya.

Habib meletakkan kima-kima itu di dasar laut yang masih terkena sinar matahari. Hewan lunak bercangkang ganda itu hidup di perairan dangkal dan menjadi salah satu penyusun terumbu karang. Kima raksasa memerlukan sinar matahari lantaran ia menjadi tempat hidup koloni makhluk liliput bernama zooxanthella yang hidup dari fotosintesis.

Purnatugas periset Pusat Penelitian Oseanografi Indonesia, Jakarta, Lily Maria G. Panggabean, dalam laporan penelitian Rahasia Kehidupan Kima: Swasembada Pangan menyatakan, zooxanthella tidak melekat di tubuh kima sejak telur. Alga sel tunggal itu baru menempel ketika kima memasuki tahap larva. Zooxanthella mendapat pasokan nitrogen dari metabolisme kima yang mencerna alga dalam air laut.

Sebagai gantinya kima memperoleh bagian fotosintat—hasil fotosintesis—zooxanthella. “Setoran” fotosintat itu berbentuk glukosa, oligosakarida, glutamat, alanin, asam aspartat, serin, dan suksinat. Setelah melekat kepada kima, zooxanthella yang biasanya harus berenang bebas untuk mencari nutrisi, tidak lagi perlu repot. Menurut Lily kima memperoleh 30—97% fotosintat dari zooxanthella.

Ditambah energi hasil mencerna alga dan nutrisi dari air laut, kima menjadi kaya nutrisi dan energi. Itu sebabnya setelah masuk masa reproduksi—biasanya pada umur lebih dari 2 tahun—kima terus-menerus melepaskan sperma dan sel telur. “Kima kecil seperti T. maxima mampu melepaskan jutaan sel telur dan sperma setiap memijah, sedangkan yang besar seperti T. gigas hanya puluhan ribu sel,” kata Syafyudin.

Hiu sirip hitam, salah satu ikan yang dilindungi, dijumpai di TLGCC.
Hiu sirip hitam, salah satu ikan yang dilindungi, dijumpai di TLGCC.

Sebagian besar sel reproduksi itu menjadi santapan ikan atau satwa laut lain, hanya sebagian kecil yang memijah. Pasalnya, meski hermaprodit—kelenjar kelamin jantan dan betina berada dalam satu tubuh—kima memerlukan individu lain untuk kawin. Itu sebabnya tingkat reproduksi kima sangat rendah dibandingkan jumlah sel kelamin yang ia lepaskan.

Apalagi sejak larva hingga remaja, kima juga menjadi mangsa ikan predator. Syafyudin menyatakan, tingkat sintasan atau survival rates (SR) kima amat rendah, yakni hanya 1—2% total jumlah sel kelamin. Sintasan meningkat seiring pertambahan ukuran atau umur. Namun, kima dewasa pun mempunyai musuh. Predator besar seperti hiu atau ikan napoleon mengincar kima dewasa berukuran tanggung.

Kelebihannya, pertambahan umur dan ukuran kima tidak terbatas lantaran mendapat 2 sumber pasokan nutrisi. Selama tidak dimangsa predator atau terserang penyakit, umur dan ukurannya terus bertambah. Penangkaran kima di Marine Station milik Unhas di Pulau Barrang Lompo, Kepulauan Spermonde, Kota Makassar, staf Unhas memperbanyak kima sejak 1994. Dengan teknik pemijahan buatan, setiap tahun mereka menghasilkan ribuan larva.

Dr. Syafyudin Yusuf, periset di Fakultas Kelautan dan Ilmu Perikanan Universitas Hasanuddin.
Dr. Syafyudin Yusuf, periset di Fakultas Kelautan dan Ilmu Perikanan Universitas Hasanuddin.

Sebelum cangkang mencapai panjang 5—10 cm, staf menempatkan pelindung untuk mencegah serangan predator. “Prinsipnya air laut dan sel reproduksi bisa lewat, tapi predator tidak,” ungkap Syafyudin. Setelah berumur minimal 2 tahun, kima hasil perbanyakan itu mereka letakkan di luar marine station. Perbanyakan kima relatif mudah dan murah. “Tidak perlu memberi makan seperti memelihara ikan, yang penting mendapat aliran air laut segar dan terlindung dari pemangsa,” kata Syafyudin.

Saat ini, populasi kima di Marine Station Universitas Hasanuddin lebih dari 10.000 individu. Hal berbeda dinyatakan direktur Nusa Dua Reef Foundation (NDRF)—yayasan konservasi karang di Nusadua, Bali, Pariama M. Damayanti Hutasoit. Pada 2015 lalu, mereka meletakkan 330 individu kima dan sejumlah karang buatan untuk membuat Taman Kima dan Koral di pesisir Nusadua.

Setelah 3 tahun berlalu, alih-alih berkembangbiak, kima-kima itu justru mati. Pengecekan awal 2018 hanya menemukan 1 individu hidup. “Saya malu mengakuinya, tapi kami memang tidak berpengalaman memelihara kima,” kata Pariama. Ia menduga ada beberapa penyebab kematian kima, antara lain ukuran terlalu kecil ketika ditebar sehingga rentan predator, pengaruh arus laut, atau polusi.

“Kima sangat sensitif sehingga lebih cocok di laut terbuka yang jauh dari aktivitas manusia,” kata Habib yang menjadi inisiator Konservasi Kima Tolitoli-Labengki (Tolitoli-Labengki Giant Clam Conservation, TLGCC). Namun, di laut terbuka, ancaman terbesar adalah pengambilan oleh nelayan. Catatan Habib Nadjar Buduha, ketika awal restorasi pada 2009 mereka merelokasi sekitar 8.000 individu kima ke Tolitoli dan 4.000 individu ke Labengki.

Kima menjadi media tumbuh koral pembentuk terumbu karang.
Kima menjadi media tumbuh koral pembentuk terumbu karang.

Namun sekarang ia tidak tahu jumlah tepatnya. “Ada pertambahan dari hasil berkembangbiak, tapi banyak juga yang dicuri,” katanya. Parahnya, pencurian itu terus terjadi hingga kini, terutama ketika pengawasan personil TLGCC atau anggota kelompok masyarakat pengawas atau pokmaswas Labengki mengendur. Penegakan aturan hukum juga menjadi tantangan lantaran, “Aparat setempat tidak paham bahwa kima raksasa dilindungi undang-undang,” kata Habib.

Museum mini berbagai jenis cangkang kima di TLGCC.
Museum mini berbagai jenis cangkang kima di TLGCC.

Dalam hal perlindungan kima, Indonesia tergolong tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Menurut Habib di Filipina ada 40 spot perlindungan kima. Thailand dan Singapura mempunyai pulau khusus untuk melindungi kima. Meski terseok-seok, upaya Habib dan tim TLGCC mulai menampakkan hasil. Setelah kima hadir, terumbu karang tumbuh kembali, ikan pun kembali datang.

Kima batu atau kima lubang T. crosea.
Kima batu atau kima lubang T. crosea.

“Nelayan Tolitoli tidak perlu jauh-jauh mencari ikan,” katanya. Di Labengki, kombinasi lanskap cantik dan warna-warni kima serta terumbu karang yang sehat mengundang pelancong. Habib menyatakan, saat ini di Pulau Labengki ada 15 griya wisata dengan kapasitas total 60 kamar. “Kalau ingin memperkaya suatu perairan, letakkan kima. Air menjadi bersih sehingga koral bisa tumbuh dan menjadi tempat ikan bersarang. Makanya kami menjuluki kima sebagai pahlawan laut,” kata Habib.

Pernyataannya terbukti di TLGCC, yang ia gagas tanpa dana pemerintah maupun sponsor. Habib hingga kini membelanjakan miliaran rupiah dari kocek sendiri untuk melestarikan kima. Hal itu ia lakukan demi sang pahlawan rentan yang memerlukan perlindungan dan kesadaran agar terhindar dari kepunahan akibat ulah manusia. (Argohartono Arie Raharjo)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img