Saturday, August 13, 2022

Kisah Pemikat Berbulu Indah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Upaya itu untuk mengabadikan gambar banteng tengah berjemur di padang seluas 80 ha dari jarak dekat. Namun, masih terpisah jarak sekitar 150 m seekor banteng jantan dari kelompok itu bangkit dari tempatnya berbaring. Sambil mengibas-ngibaskan ekor, matanya lekat memperhatikan semua gerak-gerik Trubus dan Banda.

Dua merak hijau betina Pavo muticus yang berada tak jauh dari kawanan banteng itu sudah menghentikan aktivitas mencari pakan sebelum banteng jantan itu berdiri. Mereka sejenak berdiri mematung. Matanya awas mengamati pergerakan Trubus. Berikutnya merak-merak itu melangkah menjauh memasuki hutan. Tak lama kawanan banteng berjumlah 5 ekor itu bangun dan mulai bergerak ke dalam hutan dipimpin sang jantan.

Menurut Banda burung merak yang berbulu indah itu menjadi semacam alarm yang memberi sinyal bahaya pada banteng. ‘Merak lebih peka membaca ancaman di sekitarnya,’ kata Banda. Banteng sebetulnya peka juga meski daya penciumannya tidak tajam. Namun, ketika mereka berada di satu lokasi untuk mencari pakan, pergerakan salah satu satwa yang tiba-tiba itu menjadi sinyal datangnya ancaman. Ini mirip perilaku monyet Macaca fascicularis kala melihat predator seperti harimau sumatera Panthera tigris sumatrae di Taman Nasional Way Kambas Lampung. Mereka memekik keras-keras seolah memberi tahu adanya ancaman pada satwa lain. Bedanya merak memberi tanda dengan sedikit bersuara lalu buru-buru menyingkir.

Padang Sadengan memang salah satu habitat merak di TNAP. Tempat itu ideal karena merak menyukai area terbuka dan berbatasan langsung dengan hutan. Praktis sebagian besar hari-harinya dihabiskan di sana. Meski demikian satwa yang masuk kategori vulnerable-populasi sedang mengalami penurunan cepat-pada 2004 itu dapat dijumpai berkeliaran di hutan jati, mahoni, serta hutan berlantai terbuka di kawasan TNAP seluas 43.420 ha. Padang terbuka menjadi tempat aktivitas merak mencari pakan. Jika hendak beristirahat atau tidur, hutanlah tempatnya.

Penelitian Gilang Fajar Ramadhan dari Fakultas Kehutanan IPB pada 2009 menggambarkan populasi merak TNAP yang jantan dewasanya mencapai ukuran 210 cm itu diperkirakan mencapai angka 400-an ekor. Angka itu meningkat dibandingkan 1995 sekitar 168-268 ekor. Salah satu faktor lonjakan populasi itu karena persediaan pakan melimpah. Di TNAP tumbuhan seperti tekirawa Cyperus rotundus, paitan Paspalum conjugatum, kirinyuh Eupatorium odoratum, dan lamuran Polytrias amaura mudah dijumpai. Jenis-jenis tanaman perdu ini merupakan pakan merak. Namun, tak ada data pasti menunjukkan kondisi tanaman pakan itu pada 14 tahun lalu yang menyebabkan populasi merak sedikit.

Masa berbiak alias musim kawin adalah saat paling dinantikan pengunjung TNAP. Saat itu mudah sekali melihat burung merak jantan memamerkan kecantikannya. Bulu hias yang berjumlah 100-an helai itu sering dibiarkan megar hingga membentuk kipas raksasa berdiameter 1-1,5 m. Itulah usaha jantan memikat betina. Bermodalkan ekor cantik, jantan akan menari-nari seperti berputar. Betina cuma mengitari si jantan sambil menilai, mau atau tidak. ‘Keputusan kawin itu sepenuhnya ada pada betina,’ kata Ir Jarwadi Budi Hernowo MScF, peneliti merak dari Laboratorium Ekologi Satwa Liar Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB.

Toh sang jantan juga masih ‘jual mahal’. Ia memalingkan mukanya begitu betina berusaha melihat dari depan. Itu sebetulnya upaya menggoda betina. Setelah beberapa kali memalingkan muka hingga betina semakin gregetan, sontak jantan membalikkan tubuh dan buru-buru menggetarkan semua bulu hiasnya untuk memancing birahi betina. Jika betina memberi sinyal positif-biasanya ikut mengangkat ekor-maka terjadi kopulasi. Jika betina emoh kawin, ia akan pergi meninggalkan si jantan meski sang perayu itu sudah sibuk menggoda. Di TNAP masa kawin berlangsung sekitar September-Oktober.

Merak yang hidup di TNAP merupakan bagian tiga subspesies merak hijau di dunia, yaitu muticus. Yang lain specifer dan imperator. Specifer hidup di Burma sedangkan imperator menetap di Indo China. Semua subspesies itu bercorak serupa bak pinang dibelah dua. Yang sedikit membedakan hanya kepekatan warna bulu hias di leher. Pada muticus warnanya hijau solid; specier hijau dengan ring agak kehitaman.

Penyebaran muticus luas, meliputi beberapa negara di kawasan Asia Tenggara. Meski demikian di beberapa negara sudah punah. Di Malaysia jenis ini sudah tidak ditemukan lagi sejak 1965. Di tanahair burung indah ini terbatas penyebarannya. Mayoritas terkonsentrasi di kedua ujung Pulau Jawa. Di ujung barat, terdapat di Taman Nasional Ujungkulon (TNUK), Provinsi Banten. Di timur ada di TNAP dan Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Di TNUK Trubus menyaksikan merak-merak itu hidup di padang penggembalaan banteng di Cidaun.

Menurut Dr Teguh Husodo, ahli ekologi dari Jurusan Biologi Universitas Padjadjaran, merak hijau memang diketahui hanya hidup di Pulau Jawa. Sebetulnya tak hanya di ujung-ujung Pulau Jawa. ‘Di Penggaron, Semarang, pernah ada laporan tentang keberadaan merak hijau. Tapi kondisinya tergantung habitat. Bila habitat rusak mungkin kini sudah punah,’ katanya.

Nah yang menjadi pertanyaan besar bagi peneliti adalah mengapa merak hijau tidak ditemukan di Sumatera dan Kalimantan. Padahal secara geografis 2 pulau itu dekat dengan Malaysia yang notabene pernah dihuni anggota keluarga Phasianidae itu. ‘Tiba-tiba langsung meloncat ke Jawa. Sampai saat ini belum ada studi atau penemuan fosil merak di Sumatera dan Kalimantan yang bisa mengindikasikan mereka pernah hidup di sana,’ tutur Jarwadi. Yang hidup di hutan-hutan di kedua pulau besar itu burung kuau Argianus argus yang masih berkerabat dengan merak.

Di luar merak hijau masih ada jenis merak lain yang tak kalah cantik. Dialah P. cristatus alias merak biru. Merak asal India ini banyak dijadikan satwa klangenan hobiis tanahair karena populasi di habitat asli diduga masih banyak. Dalam IUCN red list Category-daftar yang membahas status ancaman kepunahan jenis makhluk hidup-pun tidak bisa memastikan seberapa besar jumlah populasi merak biru. Di daftar itu hanya tertulis unknown alias tidak diketahui.

‘Jenis ini sangat cantik sekali,’ kata Dr Boedi Mranata, praktikus walet yang mengoleksi sepasang cristatus sejak Mei 2009. Boedi bukan tak mau mengoleksi merak hijau. ‘Merak hijau dilindungi dan hampir punah sehingga tak boleh dipelihara,’ tambahnya. Kalaupun berniat menangkarkan merak hijau perlu izin khusus dari instasi terkait seperti Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Departemen Kehutanan.

Pilihan paling gampang memang menangkarkan merak biru. Itu pula yang dilakukan seorang hobiis di Serpong, Tangerang. Dua kandang besar yang dibangun di kawasan Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, dipakai untuk mengawinkan sekitar 5-7 pasang merak biru. Tak sulit membiakkannya. Sejak 4 tahun lalu pengusaha elektronik itu sudah melahirkan belasan anakan. Merak biru yang induknya didatangkan langsung dari India juga ditangkarkan oleh Akee di Bandung.

Rupa yang cantik membuat merak punya arti besar di dalam kehidupan masyarakat. Contoh kesenian reog ponorogo. Topeng reog dengan tinggi 240 cm dan lebar 190 cm selalu dihiasi bulu merak atau dhadak merak di atas kepala harimau yang menutupi muka penari. Ini simbol. Merak melambangkan keindahan. Menurut ahli folklor-cabang ilmu antropologi yang mempelajari ragam budaya yang diwariskan secara lisan-Universitas Jember, Prof Dr Ayu Sutarto, ada makna lain dari kehadiran bulu merak di topeng reog. ‘Menurut versi Islam reog ponorogo muncul sebagai sindiran terhadap Raja Majapahit Brawijaya V-digambarkan sebagai harimau-yang dikendalikan oleh permaisurinya-digambarkan sebagai merak,’ kata Ayu.

Namun, gambaran itu sesungguhnya menjelaskan jalinan antara merak dan harimau di alam. Dahulu saat hutan masih alami, di mana ada harimau di situ pasti ada merak. Hubungan yang terjadi adalah simbiosis komensalisme alias satu diuntungkan yang lain tidak merasa dirugikan. Saat harimau berjalan, merak akan membuntuti dan menunggu si raja hutan membuang feses. Feses ini menyediakan pakan bagi merak berupa cacing. ‘Mereka seperti tetangga yang mesra,’ kata Rachma Tri Widuri dari Burung Indonesia di Bogor.

Berapa banyak bulu merak yang dipakai untuk sebuah topeng? Sebuah topeng membutuhkan bulu hias dari 15-20 merak jantan. Seekor merak jantan menghasilkan antara 100-140 bulu. Kalau setiap reog memerlukan 2.000 lembar bulu dengan harga eceran Rp2.000/helai, maka satu set reog sudah menyedot dana Rp4-juta untuk membeli bulu merak. Bulu-bulu itu didapat dengan cara manusiawi. Maksudnya tidak mencabut bulu dari ekor si burung elok itu. Setiap tahun merak jantan merontokkan bulu sehabis kawin. Itulah yang dipakai oleh seniman reog.

Menurut Ayu Sutarto belakangan perajin reog memilih memakai bulu hias merak biru. Boleh jadi ini imbas dari merosotnya populasi merak hijau di alam. Dalam pengamatan Ayu terdapat beberapa kelebihan dari bulu merak biru bila dipakai untuk reog. ‘Bulunya lebih besar, kuat, dan indah,’ katanya.

Indah memang menjadi kata yang pantas disematkan pada merak juga perempuan. Perpaduan itulah yang diperlihatkan artis dan presenter kondang Donna Agnesia waktu menghadiri sebuah pameran flora dan fauna di Jakarta pada pertengahan Juli 2009. Donna datang dengan hiasan bulu ekor merak di sanggulnya. Donna pun semakin elok dilihat dengan bulu elok burung merak. (Dian Adijaya S/Peliput: Lastioro Anmi dan Tri Susanti)

 

 

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img