Friday, December 2, 2022

Ignatius Susilo : Dari Samigaluh Menjaga Mutu

Rekomendasi

 

Minyak daun cengkih itu memang istimewa. Warna bening dan tampak bersih. Bandingkan dengan kebanyakan minyak daun cengkih yang kecokelatan dan keruh. Penyuling minyak daun cengkih itu adalah Ignatius Susilo, produsen di Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo, Provinsi DI Yogyakarta.

Sayang, Susilo tak hadir di pameran itu. Ia menitipkan sampel minyak sulingannya pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Yogyakarta yang menjadi paserta pameran. Oleh karena itu setelah mengetahui alamat penyuling, Bruno bergegas ke Pagerharjo, 40 km sebelah barat Kota Yogyakarta. Di sana Bruno menyaksikan langsung proses penyulingan minyak asiri yang dilakukan Susilo.

Pria 41 tahun itu memiliki 2 mesin penyuling di halaman samping rumah seluas dua kali lapangan voli. Masing-masing mesin berkapasitas 300 kg. Saat musim cengkih pada April-Oktober, Susilo menyuling hingga 20 kali sebulan. Di luar musim itu, ia hanya menyuling 7 kali per bulan. Hasil pengujian membuktikan kadar eugenol minyak cengkih Susilo mencapai 80%. Itu berarti 4% lebih tinggi dari batas minimal yang dipersyaratkan eksportir.

Bukan hanya mutu, rendemen penyulingan juga relatif tinggi, 2,7%. Untuk memproduksi 1kg minyak, ia hanya menghabiskan 37 kg daun. Padahal, rendemen rata-rata penyulingan daun cengkih 1-2% (perlu 100-50 kg daun cengkih untuk menghasilkan 1 kg minyak). Karena minyak cengkih sulingan Susilo bermutu tinggi, eksportir membeli dengan harga lebih mahal. Saat ini Susilo menerima harga Rp5.000-Rp8.000 per kg lebih mahal ketimbang penyuling lain.

Pendingin

Kunjungan pertama ke Samigaluh, Bruno memuji kualitas minyak asiri sulingan Susilo. Beberapa bulan berselang, pada September 2008, Bruno datang lagi ke lokasi penyulingan itu. Bruno bersedia menyerap produksi minyak asiri. Namun, bukan minyak daun cengkih, melainkan minyak nilam, kemukus, dan kayumanis. Ia meminta pasokan rutin 700 kg per bulan untuk masing-masing komoditas itu.

‘Ini kesempatan langka, saya dipercaya pihak asing memproduksi minyak,’ kata Susilo. Dari tiga komoditas yang ditawarkan, Susilo hanya menyanggupi memasok minyak nilam dan kemukus. Alasannya bahan baku untuk kedua komoditas itu tersedia di sekitar tempat ia tinggal, seperti di Kabupaten Magelang, Kabupaten Wonosobo, dan Kabupaten Boyolali-semua di Jawa Tengah.

Pada Oktober 2008, Susilo mengirim 100 ml sampel minyak nilam ke Perancis. Sepekan kemudian, ia menerima laporan dari Perancis: minyak nilam kurang murni akibat bercampur dengan aroma cengkih. Kadar patchouli alcohol (PA) memang memenuhi syarat, 33%. Susilo menyadari kesalahannya lantaran menyuling nilam di ketel bekas sulingan daun cengkih.

Walau sudah dibersihkan, ternyata aroma cengkih tetap menempel di pipa kondensor. Untuk mengatasi masalah itu, Susilo menambahkan pipa kondensor baru pada ketel. Ketika menyuling nilam, saluran pipa kondensor yang biasa dipakai untuk mendestilasi daun cengkih ditutup. Aliran uap panas asiri dipindahkan ke pipa kondensor yang baru.

Setelah melakukan perubahan itu, Susilo kembali mengirimkan hasil sulingan ke Perancis. Dengan perubahan itu minyak nilam sulingannya diterima Bruno. Sejak November 2008, Susilo rutin mengekspor 100 kg minyak nilam per bulan. Jumlah itu memang jauh dari permintaan, 700 kg per bulan. Susilo masih kesulitan mendapatkan bahan baku.

Bahan baku

Dalam sebulan ia hanya memperoleh 2,5 ton bahan baku. Padahal, dengan rendemen 4-5% sekilo minyak memerlukan 25-20 kg daun nilam. Berarti Susilo kekurangan 15 ton bahan baku. Untuk mengatasi masalah itu, ia menggalang kerja sama dengan 20 pekebun nilam untuk menghasilkan 18 ton nilam per bulan. Susilo mengekspor minyak asiri dalam drum plastik ke Perancis. Harga rata-rata US$60-US$80 setara Rp600.000-Rp800.000 per kg. Setelah dikurangi biaya produksi Rp30.000 dan ongkos kirim Rp200.000 per kg, laba bersihnya Rp370.000 per kg.

Ekspor tetap kontinu lantaran Susilo mampu menjaga kualitas. Itu lantaran anak ke-2 dari 3 bersaudara menggunakan dan merawat ketel suling yang terbuat dari baja nirkarat. Ia selalu membersihkan ketel setiap kali hendak menyuling. Caranya dengan memanaskan air dalam ketel sehingga kotoran dalam kondensor terbawa bersama uap panas. Menurut Susilo, ‘Ketel penyuling dari besi, sebetulnya tidak masalah asal rutin dibersihkan. Idealnya ketel dan pipa pendingin atau kondensor terbuat dari bahan nirkarat,’ ujar ayah 2 anak itu.

Empat tahun silam, Susilo juga menggunakan pendingin berbahan besi. Hasil sulingan berupa minyak berwarna cokelat keruh akibat tercemar karatan besi. Itulah sebabnya ia mengganti kondensor dengan pendingin berbahan baja nirkarat seharga Rp5-juta.

Menurut Sugono, konsultan minyak asiri di Bogor, Jawa Barat, alat suling berbahan baja nirkarat memang menjadi syarat utama untuk mendapatkan minyak asiri berkualitas. Tujuannya untuk mencegah korosif logam yang mengotori minyak.

Kemukus

Setelah memproduksi minyak nilam berkualitas ekspor, Susilo mengirimkan 100 ml sampel minyak kemukus. Namun, minyak Piper cubeba itu ditolak karena kandungan kimia dalam minyak tidak lengkap. Menurut Bruno penyebabnya adalah proses penyulingan terlalu cepat. Ia menyarankan penyulingan diperpanjang hingga 10 jam. Susilo menyuling buah anggota famili Piperaceae itu hanya 7 jam.

Menurut Sugono lama penyulingan mempengaruhi kandungan kimia minyak. ‘Beberapa molekul-molekul berat yang terdapat dalam bahan baku menguap pada suhu tinggi. Itu biasa berlangsung pada 2-3 jam terakhir penyulingan. Bila penyulingan dilakukan terlalu cepat, maka molekul itu tidak keluar dari bahan baku,’ ujar Sugono. Oleh karena itu Susilo terus meningkatkan kualitas minyak kemukus.

Susilo menjadi penyuling minyak asiri sejak 1990 karena warisan orangtuanya. Semula ia menolak melanjutkan usaha orangtuanya dan lebih memilih berjualan rempah-rempah. Namun, setelah mencoba menyuling, akhirnya ia menekuni bisnis minyak asiri, karena peluang pasar membentang. Setelah hampir 2 dasawarsa menekuni bisnis minyak harum, Susilo mampu memproduksi minyak berkualitas. Pasarlah yang memburu minyak asiri bermutu tinggi. (Ari Chaidir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img