Saturday, June 22, 2024

Kisah Penyelamatan Generasi Padi

Rekomendasi
- Advertisement -
Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia mengoleksi 430 jenis padi lokal dari berbagai daerah di Indonesia.
Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia mengoleksi 430 jenis padi lokal dari berbagai daerah di Indonesia.

Lima tentara berderap menuju sawah milik Gatot Suharso. Pada sebuah pagi yang senyap mereka mencabuti padi berumur 10 hari tanpa sisa di lahan 1.500 m2. Gatot, petani di Bukateja, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah, sedih bukan kepalang melihat kejadian itu. Anak ke-6 dari 9 bersaudara itu bukan hanya menyaksikan tanamannya luluh lantak. Ia juga mendekam di hotel prodeo selama sepekan.

Apa kesalahan Gatot? Petani itu menanam padi rajalele, varietas lokal berumur panen 155 hari. Saat itu, 1980-an pemerintah tengah mengamankan swasembada pangan dan menganjurkan—jika tak boleh disebut mewajibkan—para petani menanam varietas PB-5. Itulah sebabnya ketika keluar dari penjara, tentara mengingatkan agar Gatot mengikuti anjuran pemerintah.

Namun, Gatot diam-diam menanam kembali padi itu dan melupakan pesan tentara. Sekitar 155 hari kemudian lulusan Peking University, Tiongkok, itu menuai rajalele. Ia melakukan perayaan kecil karena berhasil panen. Gatot pun mengundang para tentara yang mencabuti bibit lalu menjebloskannya ke penjara. Di perayaan itu, seorang tentara sebagaimana ditirukan Gatot, berujar, “Nasinya enak. Nasi apa ini?”

Kesuksesan budidaya 60% ditentukan oleh benih tanaman.
Kesuksesan budidaya 60% ditentukan oleh benih tanaman.

Mantan guru itu pun mengatakan nasi itu berasal dari padi yang dicabut tentara beberapa bulan lalu. Sejak saat itu tidak ada lagi perlakuan kasar kepada Gatot yang menanam padi lokal. Ia menolak anjuran pemerintah menggunakan benih hibrida karena berpotensi memusnahkan benih padi lokal. Selain itu, “Petani menjadi tidak mandiri karena pasokan benih dari pemerintah,” kata Gatot kepada wartawan Trubus Riefza Vebriansyah.

Benih padi merah putih semula ditemukan di reruntuhan candi abad ke-7 di Klaten, Jawa Tengah.
Benih padi merah putih semula ditemukan di reruntuhan candi abad ke-7 di Klaten, Jawa Tengah.

Gatot menjadi saksi sejarah betapa mempertahankan varietas lokal seperti rajalele amat sulit. Rajalele merupakan padi dalam yang pulen, wangi, dan enak. Tinggi tanaman mencapai 150 cm. Gabah rajalele berbulu ciri khas Oryza sativa javanica. Dunia internasional mengakui javanica sebagai galur padi—selain japonica dan indica. Ciri khas Oryza sativa javanica adalah berbulu di ujung gabah.

Kini varietas itu sudah sulit ditemukan. Menurut guru besar Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ir Dwi Andreas Santosa sejak akhir 1960 Indonesia berupaya menggenjot produksi beras. Itu dipicu oleh impor beras yang cukup besar. Pemerintah lantas menggulirkan program Bimas alias Bimbingan Masyarakat yang fokus pada benih. Program pemerintah pancausaha tani juga menyasar benih sebagai salah satu jalan untuk menempuh swasembada pangan—selain irigasi, pupuk, pestisida, dan kredit.

Penggunaan benih-benih unggul seperti PB-8 dan IR meningkatkan panen, mengantarkan negeri ini pada swasembada beras pada 1984. “Benih-benih unggul itu mendominasi. Akibatnya sistem perbenihan yang dikembangkan petani kemudian lenyap,” kata doktor Bioteknologi alumnus Braunschweigh University of Technology, Jerman, itu. Kebijakan pemerintah itu menggeser benih lokal yang selama itu ditanam petani.

Gatot Suharso menyelamatkan varietas padi lokal.
Gatot Suharso menyelamatkan varietas padi lokal.

Ketika petani tak lagi menanam benih itu, maka lama-kelamaan pun lenyap. Andreas mengatakan, “Itu kerugian terbesar dari sistem pembangunan pertanian kita.” Padahal, jika padi tak ditanam ulang umurnya paling banter hanya 2 tahunan. Padi-padi lokal itu menyimpan beragam keunggulan. Citarasa misalnya, sangat enak, lebih tahan terhadap serangan organisme pengganggu tanaman seperti wereng.

Petani padi dalam tak mengenal pestisida. Sebab, tanaman tahan terhadap hama. Mereka menjaga keseimbangan ekosistem. Sementara benih introduksi seperti IR dari Filipina dan PB—perkawinan varietas asal Taiwan—justru rentan terhadap hama sehingga penggunaan pestisida jor-joran. “Karena rentan maka varietas unggul itu harus dilindungi dengan cara menyemprotkan pestisida,” kata Andreas.

Bandingkan dengan padi dalam, selain tahan terhadap hama juga hemat biaya produksi. Sebab, asupan pupuk rendah. Menurut Andreas ketika petani memupuk, padi dalam justru tak responsif karena ketidakseimbangan fisiologis. “Nitrogen itu justru meracuni tanaman. Pemberian nitrogen tinggi, tetapi proses metabolisme rendah sehingga terjadi penumpukan metabolit tertentu di dalam sel. Itu yang akan meracuni tanaman sehingga produksi rendah,” kata Andreas.

Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia, Prof Dr Dwi Andreas Santosa.
Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia, Prof Dr Dwi Andreas Santosa.

Padi dalam memang memiliki beragam keunggulan pada citarasa dan ketahanan terhadap organisme pengganggu tanaman. Kelemahannya antara lain masa produksi lama hingga 155 hari dan sosok tinggi sehingga menyulitkan panen. Selain itu produktivitas relatif rendah, 4—5 ton per ha. Meski demikian, bukan berarti varietas lokal tak berguna dan disingkirkan.

Keberadaannya memungkinkan untuk merakit varietas unggul sehingga masa produksi lebih singkat. Andreas misalnya merilis IF-8 (singkatan dari Indonesia Farmers) produksinya melambung hingga 13,7—14 ton per hektare. Kini IF-8 tersebar 11 kabupaten. Peningkatan produksi dibanding varietas lain mencapai 56%. Tetua IF-8 adalah varietas lokal hasil seleksi lima generasi. Peneliti kelahiran Blora, Jawa Tengah, 27 September 1962 itu tengah menyilangkan varietas lokal, antara lain IF-8 dan lentera.

Leuit atau lumbung semakin tergusur seiring program revolusi hijau.
Leuit atau lumbung semakin tergusur seiring program revolusi hijau.

Revolusi hijau yang menekankan produktivitas memang menyelamatkan manusia dari ledakan populasi. Revolusi hijau sebutan tidak resmi untuk menggambarkan perubahan dalam pemanfaatan teknologi budidaya pertanian di negara-negara Asia pada 1950—1980-an. Hasil revolusi hijau tercapainya swasembada pangan di beberapa negara yang semula selalu kekurangan pangan, antara lain di Indonesia, India, Bangladesh, Tiongkok, dan Thailand.

Gerakan itu bermula ketika Yayasan Ford dan Rockefeller mengembangkan gandum di Meksiko pada 1950. Adapun gerakan revolusi hijau di Indonesia bermula dari program Bimas atau bimbingan masyarakat demi meningkatkan produksi pangan. Tujuan revolusi hijau memang mulia, yakni menyediakan pangan. Di sisi lain juga melenyapkan varietas-varietas lokal.

Varietas padi lokal jatiluwih dari Bali.
Varietas padi lokal jatiluwih dari Bali.

Berapa jumlah varietas padi lokal yang hilang? Tak ada data khusus yang menjelaskan. Andreas yang mendirikan Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia mengumpulkan 430 varietas padi dari berbagai wilayah di Indonesia. Andai itu baru separuh dari varietas padi lokal di Indonesia sehingga jumlahnya mencapai 1.000 varietas. Sebanyak 80% varietas kita lenyap, berarti mencapai 5.000 varietas hilang akibat penyeragaman jenis padi demi mengejar produktivitas.

Kondisi itu yang antara lain mendorong Andreas dan kawan-kawan membangun Asosiasi bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia pada 12 Juli 2012. Ia membangun jejaring dengan para petani seperti Gatot Suharso untuk menyelamatkan dan mengembangkan benih lokal. Gatot hingga kini juga terus merawat ratusan benih padi dari berbagai daerah di Indonesia.

Ibang Lukmanurdin (berpeci) dan Nissa Wargadipura mengembangkan benih lokal.
Ibang Lukmanurdin (berpeci) dan Nissa Wargadipura mengembangkan benih lokal.

Alumnus Universitas Gadjah Mada itu menanam benih-benih padi lokal secara periodik di lahan 1.750 m2. Sementara budidaya padi untuk konsumsi di lahan 1 ha. Selain Gatot, pasangan Ibang Lukmanurdin dan Nissa Wargadipura juga getol memberdayakan beragam benih lokal. Mereka membina petani yang tersebar di Garut, Jawa Barat, sejak 1997. “Kita harus berdaulat, tidak boleh ketergantungan pada benih impor,” kata Ibang kepada wartawan Trubus Muhamad Fajar Ramadhan.

Indonesia memiliki keragaman beras yang tinggi.
Indonesia memiliki keragaman beras yang tinggi.

Kini setidaknya ada ratusan benih yang sudah terkumpul dari berbagai jenis tanaman di pondok pesantren At Thaariq yang dikelola Ibang. Harap mafum benih berperan penting dalam usaha agribisnis karena 60% keberhasilannya ditentukan benih. “Cita-cita kami setiap tahun meluncurkan satu varietas baru,” kata Andreas. Dari salah satu persilangan anggota jaringan itu Andreas juga menemukan galur genjah, umurnya 75 hari.

Andreas menyimpan beragam benih itu di dua ruangan berbeda, masing-masing bersuhu 15°C dan minus 40°C. Benih yang tersimpan di suhu minus 40°C mampu bertahan ratusan tahun. Ia menanam galur-galur padi itu secara bergantian. Sebuah varietas ditanam di tiga pot. Dengan demikian benih padi yang menjadi generasi penerus itu tak lenyap. Cukup sudah kehilangan ribuan “generasi” ketika revolusi hijau berlangsung. Bendera kuning—tanda berduka—mestinya tidak berkibar lagi. (Sardi Duryatmo)

 

Beras Merah Putih

Padi yang menghasilkan beras merah putih.
Padi yang menghasilkan beras merah putih.

Di antara reruntuhan candi di Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, itu terselip sebuah wadah. Ketika dibuka tampaklah beras merah putih. Setiap bulir beras terdapat dua warna berbeda, separuh merah dan selebihnya putih. Menurut arkeolog candi itu dibangun pada abad ke-7. “Beras itu luar biasa karena pada masa itu beras yang digunakan untuk persembahan di candi,” ujar Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia, Prof Dr Dwi Andreas Santosa.

Benih itu kemudian tersebar ke beberapa petani anggota jaringan Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia. Mereka menanam beras itu. Setelah memperoleh gabah dari seorang petani, Andreas kemudian mengupas gabah itu dan menanamnya. Kini ia tengah memurnikan padi merah putih karena setelah penanaman hasilnya mengalami segregasi, 25% menghasilkan beras merah, 25% beras putih, dan 50% beras merah putih.

Andreas memurnikan yang 50% itu yakni beras yang separuh merah dan separuh putih. Uji organoleptik belum dilakukan sehingga citarasa beras merah putih belum diketahui. Namun, melihat sosok beras itu Andreas tergerak menyelamatkannya. “Beras merah putih itu karya luar biasa nenek moyang kita pada 1.400 tahun lalu. Mereka bisa membuat beras itu pasti melakukan teknologi pemuliaan yang sama persis dengan yang kita lakukan saat ini,” kata Andreas. (Sardi Duryatmo)

 

 

Bendera Kuning Usai Revolusi Hijau

Umbi gadung (atas) dan ndate, pangan lokal yang kian sulit ditemukan.
Umbi gadung (atas) dan ndate, pangan lokal yang kian sulit ditemukan.

Revolusi hijau juga melenyapkan makanan pokok kita seperti umbi-umbian. Dahulu umbi-umbian itu menjadi cadangan makanan bagi masyarakat. Mereka menanamnya di pekarangan belakang rumah. Kini beragam umbi seperti gembili, uwi, gadung kian sulit ditemukan. Bandingkan dengan umbi kentang Solanum tuberosum yang semula juga merupakan makanan lokal di Amerika tengah.

554_ 93-8Kini kentang menjadi makanan pokok ke-4 terbesar di dunia setelah gandum, padi, dan jagung. Padahal, umbi-umbian kita sangat beragam, terutama di Papua. Celakanya kita belum pernah berpikir untuk menjadikan umbi-umbian itu menjadi makanan pokok. Jika kentang yang semula menjadi makanan lokal juga bisa menjadi makanan pokok dunia, maka salah satu dari umbi-umbian kita juga bisa.

“Pasti bisa mendunia. Jika tak mendunia ya meng-Indonesia,” ujar Andreas. Sayangnya, politik pangan di Indonesia mengacu pada politik beras. Semua upaya dilakukan untuk meningkatkan produksi beras. Apakah itu berhasil? “Gagal! Contoh kegagalan itu pertumbuhan konsumsi gandum meningkat 4,8% per tahun,” kata Andreas. Indonesia kini mengimpor 7,9-juta ton setara 20% pangan nasional.

Sementara itu pertumbuhan penduduk hanya 1%. Artinya pengurangan konsumsi beras 3,8% per tahun. “Makna lain apa? Pemerintah tak perlu bersusah-payah mencanagkan program swasembada. Pertahankan saja produksi beras, tak usah naik maka lama-kelamaan kita swasembada, tak perlu impor beras,” ujar ketua dewan pembina Center for Biodeversity and Biotechnology itu. (Sardi Duryatmo)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Atasi Serangan Kumbang Tanduk dan Rontok pada Bunga Anggrek

Trubus.id—Kumbang tanduk Oryctes rhinoceros kerap membuat para hobiis anggrek geram. Pasalnya, menggerek pucuk bunga dan bagian tanaman anggrek lainnya...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img