Trubus.id — Riza Azyumarridha Azra, S.T., pendiri sekaligus Direktur Rumah Mocaf Indonesia, rutin ekspor tepung modified cassava flour (mocaf). Negara tujuan tepung singkong modifikasi itu antara lain Uni Emirat Arab, Oman, Inggris, Belanda, Belgia, Italia, dan Turki.
Ia mengatakan, permintaan mocaf dari mancanegara bisa mencapai 80–100 ton per bulan. Saban bulan, omzet dari perniagaan mocaf itu mencapai Rp150 juta–Rp200 juta. Serapan mocaf lain berasal di dalam negeri seperti toko ritel, toko produk organik, toko makanan sehat, dan komunitas vegan.
“Banyak yang mencari tepung mocaf. Terutama produsen pangan sehat dan komunitas yang mengonsumsi makanan minim gluten,” kata Riza.
Riza mengenal mocaf sejak 2014. Kala itu ia tergabung dengan kegiatan sosial. Ia bersama rekannya, sering berkunjung ke desa-desa, bertemu petani singkong yang tengah gundah gulana karena harga jual singkong hanya Rp200 per kilogram.
Ia pun tergelitik untuk mencari solusi agar singkong memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Setelah itu, ia berkonsultasi ke pakar, praktisi, akademisi, serta membaca artikel dan jurnal tentang singkong. Ia menemukan konsep yang namanya mocaf.
Tepung itu memiliki karakteristik hampir sama dengan terigu. Namun, memiliki potensi nilai kesehatan lebih tinggi. Harga jual mocaf Rp20.000 per kilogram. Artinya, peningkatan harga jual bisa 100 kali lipat dibanding harga singkong segar.
Riza pun belajar membuat mocaf sampai akhirnya bisa membuat mocaf sendiri. Dengan racikan yang pas, dirinya percaya diri untuk mengajarkan kepada petani.
Selama 2014 fokus Riza hanya ke pemberdayaan petani agar bisa membuat nilai tambah dari olahan singkong. Saat itu ia mengaku belum kepikiran untuk berbisnis mocaf. Seiring berjalannya waktu petani pun bisa mengolah mocaf sendiri. Namun, masalah baru justru muncul.
“Petani tidak bisa menjual mocaf sendiri karena mesti punya beragam izin,” kata Riza.
Sertifikasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), halal, dan ISO, mesti dimiliki agar bisa menjual tepung mocaf. Ia merasa konsep pemberdayaan masyarakat yang diterapkan tidak tuntas.
Setelah muncul permasalahan itu, barulah Riza dan tim terjun langsung untuk membantu petani terkait perizinan, sertifikasi, serta pemasaran mocaf. Harap mafhum, petani yang terbiasa budidaya di kebun pasti memerlukan adaptasi jika harus mengurus terkait perizinan dan pemasaran.
“Memang butuh kolaborasi jika ingin terjun di dunia singkong 100%,” tuturnya.
Menurut Riza semua jenis singkong bisa diolah menjadi mocaf. Namun, diutamakan yang memiliki kadar air rendah agar rendemen lebih tinggi. Standarnya, 2 kilogram singkong menjadi 1 kilogram mocaf.
Jika kandungan air tinggi, 5 kilogram singkong menjadi 1 kilogram mocaf. Beberapa jenis singkong yang minim kandungan air dan berkadar pati tinggi yakni varietas klanting, hasanturni, malang 4, dan cikur. Tempat produksi mocaf Riza berlokasi di Desa Bawang, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
