Friday, January 16, 2026

Kolaka Utara, Sentra Anyar Walet

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Kabupaten Kolaka Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara, salah satu sentra pengembangan burung walet. Menurut pemilik gedung walet di Kecamatan Ngapa, H. Muh. Rusli, berkembangnya Kolaka Utara sebagai sentra relatif baru yakni sekitar 7—10 tahun lalu.

“Daerah lain seperti Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara, sudah 20 tahun lalu,” kata pemilik usaha Cakra Walet itu.

Rusli pun tertarik berbisnis liur emas baru 7 tahun silam atau sejak 2017. Gedung walet pertama bikinannya berukuran 8 m x 12 m yang terdiri atas 3 lantai.

“Ada juga beberapa yang 2 lantai,” kata Rusli. Total jenderal ada 10 gedung yang dimiliki Rusli. Ia menuturkan hasil per bulan belum sampai 1 kg. Terakhir panen dapat 8 kg dari 2 kali panen dari 8 gedung.

Ia meyakini gedung walet miliknya menghasilkan lebih banyak sarang di masa mendatang karena baru sedikit populasi walet di wilayah itu.

Lantas apa pemicu suatu daerah bisa menjadi sentra baru? Menurut Rusli lingkungan yang mendukung sebagai tempat walet berkembang dan tersedianya pakan alami.

“Sejatinya walet senang serangga dari tanaman berpohon tinggi seperti kelapa,” kata pria kelahiran Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, itu.

Kian beragam atau heterogen lingkungan makin menunjang varian serangga yang disenangi walet. Rusli mengatakan, “Jika homogen misal hanya hamparan kebun kakao serangga sebagai pakan alami walet kurang bervariasi sehingga walet kurang menyenangi.”

Daerah tempat gedung walet milik Rusli mendukung karena terdiri atas hamparan sawah dan kebun. Tidak heran lokasi itu cocok sebagai penyedia pakan alami walet.

Oleh sebab itu, rumah walet kian tumbuh saban tahun di sepanjang pesisir Kabupaten Kolaka Utara. Sebut saja di Kecamatan Watunohu dan Kecamatan Pakue.

Pemilik rumah walet lain H. Sabar di Pasar Meeto, Kecamatan Kodeoha, Kabupaten Kolaka Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara. Pada Februari 2024, ia berhasil menjual sarang walet perdana sebanyak 0,5 kg.

“Hasil perniagaan sekitar Rp7 juta,” kata Sabar. Padahal hasil panen berasal dari rumah walet berukuran 2,5 m x 4 m.

Ia menuturkan lokasi rumah walet di lantai 2, dan di bawahnya toko. Ia mengubah lantai 2 ruko miliknya menjadi rumah walet sejak 2019. Ia tertarik budidaya walet karena info dari kolega yang juga membudidayakan walet terlebih dahulu di Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat.

“Kini di Kecamatan Kodeoha, Kabupaten Kolaka Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara, sudah kian bermunculan gedung walet,” kata Sabar.

Pertumbuhan rumah walet makin ramai sejak 2019. “Kalau rumah walet terlama mungkin sejak 2014 atau 10 tahun lalu,” kata pria yang juga pekebun kakao itu.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img