Saturday, January 17, 2026

Konservasi Satwa Liar

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Belantara Foundation bersama Program Studi (Prodi) Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana dan Biologi FMIPA Universitas Pakuan menyelenggarakan webinar tentang cara meneliti orangutan di alam serta kisah seru para peneliti muda secara hibrida (luring dan daring) pada Rabu (30/08/2023).

Webinar luring berlangsung di Auditorium Rektorat Universitas Pakuan, Bogor sedangkan daring melalui aplikasi zoom dan live streaming youtube Belantara Foundation. Webinar cerita pengalaman para konservasionis muda yang dikombinasi dengan pelatihan itu dikemasmelalui kegiatan Belantara Learning Series Eps.7 (BLS Eps.7).

Materi berbagi kisah seru dan pembelajaran dari peneliti muda yang terlibat aktif dalam penelitian dan pemantauan harimau sumatra, gajah sumatra, dan orangutan juga diselingi dengan penjelasan tentang metode yang kuat untuk digunakan dalam mengamati ketiga spesies kharismatik itu beserta habitatnya.

Kegiatan itu juga menggandeng enam universitas sebagai kolaborator yang akan mengadakan acara “nonton dan diskusi bareng” BLS Eps.7 bagi mahasiswa dan dosen di masing-masing universitas. Keenam universitas itu yaitu Universitas Pakuan, Universitas Riau, Universitas Nasional, Universitas Andalas, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Tanjungpura.

Kegiatan rutin Belantara Foundation itu terlaksana berkat kolaborasi apik dengan Prodi Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana dan Prodi Biologi FMIPA Universitas Pakuan, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Riau, Fakultas Biologi dan Pertanian Universitas Nasional, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Andalas, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, dan Jurusan Biologi FMIPA Universitas Tanjungpura.

Selain itu acara terlaksana juga berkat kerja sama dengan IUCN Indonesia Species Specialist Group (IdSSG), Forum Harimau Kita (FHK), Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), Forum Konservasi Orangutan Indonesia (FORINA), Eat & Run, dan Biologeek, serta didukung oleh PT Sharp Electronics Indonesia.

Kegiatan itu sekaligus untuk memeriahkan Hari Konservasi Alam Nasional yang diperingati setiap 10 Agustus. Selain itu  pelaksanaan BLS Eps.7 juga untuk memperingati Global Tiger Day yang jatuh pada 29 Juli, World Elephant Day (12 Agustus), dan International Orangutan Day (19 Agustus).

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna pada paparannya mengatakan bahwa webinar dan pelatihan metode kajian orangutan bertujuan meningkatkan pemahaman dan kapasitas pemangku kepentingan seperti mahasiswa, praktisi, jurnalis, pemerintah, dan sektor swasta yang berminat untuk mengaplikasikannya di lapangan baik itu untuk penelitian maupun pengelolaan dan perlindungan satwa liar dan habitatnya di Indonesia.

Dolly yang juga dosen di Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan menyebutkan Indonesia merupakan salah satu negara “Biodiversity Country” yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi sehingga menjadi rumah bagi berbagai jenis satwa liar kharismatik, seperti harimau sumatra dan gajah sumatra serta orangutan.

Di dunia, hanya Indonesia yang memiliki 3 jenis orangutan. Terdapat tiga jenis orangutan penghuni hutan tropis di Indonesia, yaitu orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus), orangutan sumatra (Pongo abelii), dan orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis). Indonesia juga pernah memiliki 3 anak jenis harimau, serta memiliki 2 anak jenis gajah asia.

“Orangutan memiliki peran penting untuk keberlanjutan ekosistem antara lain membantu penyebaran biji di kawasan hutan sehingga mampu membantu regenerasi hutan secara alami dan menjaga keseimbangan ekosistem,”ujar Dolly yang juga​ anggota Commission on Ecosystem Management IUCN.

Menurut analisis Population Habitat Viability Analysis (PHVA) pada2016 diperkirakan terdapat 71.820 individu orangutan di Pulau Sumatra dan Kalimantan. Satwa itu tersebar pada 51 populasi yang terpisah di kawasan seluas sekitar 17,5 juta hektare.

Webinar luring berlangsung di Auditorium Rektorat Universitas Pakuan, Bogor.

Menurut Co-Chair IUCN IdSSG, Sunarto, Ph.D., keunikan Indonesia sebagai satu-satunya negara yang memiliki tiga jenis orangutan. Fakta bahwa kondisi orangutanmasuk daftar merah International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) dalam kategori kritis (critically endangered).

Hal itu menjadi tantangan bagi Indonesia. Berbagai upaya perlindungan dan pelestarian orangutan perlu diperkuat melalui kerja sama dan sinergi program dari semua pemangku kepentingan.

Tidak hanya itu, orangutan merupakan satwa yang dilindungi oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Undang-Undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Permen LHK No.106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

“Diperlukan kolaborasi dan sinergi program para pihak dari berbagai sektor termasuk pemerintah, universitas/akademisi, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan sektor swasta serta pemangku kepentingan terkait untuk pemantauan dan perlindunganorangutan beserta habitatnya di Indonesia,” kata Sunarto.

Sementara ituWakil Dekan Bidang Akademik Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Prof. Dr. Anna Permanasari, menyampaikan sektor akademisi berperan penting dalam pelestarian satwa liar. Salah satu caranya dengan cara mengkaji serta mencari cara-cara yang inovatif dan efektif untuk menjaga dan melestarikan satwa liar yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.

“Kami akan terus mendorong sivitas akademika Universitas Pakuan agar terus terlibat lebih aktif dalam penelitian satwa liar di habitat alaminya. Kemudian, mendiseminasikan hasil penelitian kepada masyarakat dan pemangku kepentingan terkait sehingga dapat menjadi bahan evaluasi dan dasar pengelolaan dan perlindungan yang efektif,” kata Anna.

Menurut Anna penting juga menyinergikan antara penelitian-penelitian mahasiswa dan dosen dengan kebutuhan dalam upaya pelestarian spesies-spesies terancam punah, agar intervensi yang dilakukan menjadi semakin efektif.

Ketua Forum Konservasi Orangutan Indonesia (Forina), Dr. Aldrianto Priadjati mengatakan,pentingnya penelitian dan pemantauan orangutan dan habitatnya yang komprehensif dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah untuk mendukung upaya pelestariannya.

Forina menyambut gembira atas kepedulian sivitas akademika dan para generasi muda dalam mendukung upaya konservasi satwa kharismatik Indonesia.

Pada kegiatan itu hadir peneliti muda sebagai narasumber yang memiliki pengalaman dan terlibat aktif dalam penelitian dan pemantauan harimau sumatra, gajah sumatra, dan orangutan. Mereka adalah Tarmizi sebagai anggota representatif FHK untuk Provinsi Sumut dan Aceh, Dwi Adhari Nugraha (pengurus Bidang Riset Forum Konservasi Gajah Indonesia),dan Prima Lady sebagai peneliti orangutan Magister Biologi Universitas Nasional. (Sardi Duryatmo)

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img