Thursday, August 11, 2022

Kuman Koch Keok

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Sejak Heinrich Hermann Robert Koch menemukan tuberkulosis 24 Maret 130 tahun silam, bakteri itu tetap perkasa. Rimpang temulawak kini terbukti manjur mengatasinya.

 

Rahmawati terhenyak saat dokter membaca hasil rontgen Syafina, putrinya, yang belum genap berusia satu tahun. Pada paru-parunya terdapat bercak-bercak putih atau flek. Bakteri berselaput lilin itu tak pandang bulu dalam menyerang. Bahkan, bayi pun menjadi sasaran bakteri anggota famili Mycobateriaceae itu. Menurut Prof Dr Faisal Yunus PhD, dari Bagian Pulmonologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, flek paru-paru menandakan pasien terkena  pneumonia, bronkitis, atau penyakit paru lain. “Biasanya tuberkulosis,” ujarnya.

Dalam pemeriksaan, dokter biasanya memeriksa riwayat pasien seperti perkembangan bobot tubuh, frekuensi terserang flu, nafsu makan, dan laju endap darah tinggi. Agar lebih akurat dokter menyarankan pasien menjalani tes mantoux untuk mengetahui terjadinya infeksi bakteri Mycobacterium tubercolusis penyebab tuberkulosis (TB). Syafina tidak menjalani tes mantoux. Namun, dokter langsung menyarankan agar bayi itu mengonsumsi obat selama 6 bulan, tanpa putus.

Bayi rentan

Rahmawati yang tinggal di Bogor, Jawa Barat, itu patuh. Setelah menjalani pengobatan selama 6 bulan, Syafina sembuh. Namun, kejadian pada 2006 itu terulang lagi pada 2008. Paru-paru Syafina kembali terganggu dan mesti menjalani pengobatan selama 6 bulan. Menurut Faisal, anak-anak lebih rentan terkena infeksi paru karena daya tahan tubuh lebih rendah dibandingkan orang dewasa. “Penularannya dari lingkungan,” kata Faisal.

Rahmawati khawatir Syafina tertular dari dirinya atau sang suami. Akhirnya keduanya memutuskan untuk menjalani rontgen. Hasilnya normal. Faisal menuturkan penyakit yang kembali menyerang Syafina itu kemungkinan akibat adanya kuman yang tersisa pada paru-paru, lalu kembali berkembang biak. Kemungkinan lain kembali tertular dari lingkungan. Sejak lahir Syafina memang sulit makan dan enggan minum susu formula. Akibatnya, daya tahan tubuh Syafina rendah sehingga mudah sekali sakit seperti batuk, diare, dan muntah. Bobot tubuh juga sulit bertambah karena nafsu makan rendah.

Meski rutin mengonsumsi obat, tetapi kondisi Syafina tak kunjung membaik. Bobot tubuhnya juga tak kunjung naik. Atas saran salah seorang teman, pada 2009 Rahmawati membawa Syafina mengunjungi Valentina Indrajati, herbalis di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Menurut Valentina, selain mengalami gangguan paru-paru, Syafina juga mengalami gangguan liver karena terlalu banyak mengonsumsi obat-obatan. Untuk mengatasi kuman koch-sebutan untuk bakteri penyebab tuberkulosis-ia memberi ramuan berupa rimpang temulawak bersama herbal lain seperti bandotan, ciplukan, meniran, sambiloto, kencur, jahe merah, adas, mimba, dan beluntas. Ramuan itu dikonsumsi selama 6 bulan tanpa henti.

Setiap hari Rahmawati merebus ramuan itu dalam tiga gelas air hingga mendidih, lalu diendapkan. Syafina mengonsumsi air rebusan herbal tiga kali sehari. Hari demi hari kondisi Syafina mulai membaik. “Nafsu makan meningkat, hampir tak pernah batuk-batuk lagi,” kata Rahmawati. Setelah 6 bulan mengonsumsi ramuan herbal, Safina sembuh total. Hingga kini gadis cilik yang baru duduk di kelas 1 Sekolah Dasar itu tak pernah kambuh lagi. “Ia juga tak mudah sakit,” kata Rahmawati.

Kurkumin

Menurut Valentina, temulawak ampuh sebagai antibakteri pada paru, memperbaiki liver, dan menambah nafsu makan. Hal itu sejalan dengan riset Drs Nikham dari Badan Tenaga Nuklir Nasional yang membuktikan temulawak mampu menghambat perkembangan Mycobacterium tubercolusis. Riset Lee Young dari Departemen Bioteknologi, Yongsei University, Korea, juga membuktikan ekstrak etanol temulawak mampu mencegah perkembangan bakteri Bacillus cereus, Clostridium perfringens, Listeria monocytogenes, Staphylococcus aureus, Salmonella Typhimurium, dan Vibrio parahaemolyticus.

Guru besar Fakultas Farmasi Universitas Padjajaran, Prof Dr Sidik Apt, mengatakan, “Temulawak berperan menormalkan fungsi jaringan yang terganggu.” Sidik mempelopori penelitian ilmiah temulawak di tanahair. Dr dr Nyoman Kertia SpPD Kr dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada menyatakan temulawak memiliki sifat antiinflamasi dan hepatoprotektor. Tanaman anggota keluarga Zingiberaceae itu juga meningkatkan nafsu makan sehingga bisa meningkatkan daya tahan tubuh penderita infeksi paru-paru.

Menurut Nyoman, kandungan utama temulawak adalah kurkumin dan minyak asiri. Apabila kita ingin mengambil manfaat dari kurkumin sebaiknya tidak melalui proses pemanasan karena dapat merusak senyawa penting. Namun, bila ingin mendapatkan manfaat dari minyak asiri, boleh melalui proses pemanasan.

Menurut herbalis di Jakarta, Drs Med Ir D’Hiru MM, temulawak bersifat antiseptik sehingga mampu menumpas bakteri dalam tubuh. Ia sering menganjurkan penggunaan herbal asli Indonesia itu untuk mengatasi hepatitis, gangguan ginjal, asma, gangguan pencernaan, nyeri haid, bronkitis, bahkan melancarkan air susu. Berkat temulawak, Syafina yang dulu seringkali terlihat lesu kini selalu ceria saat bermain dengan teman sebayanya. (Susirani Kusumaputri)

 


  1. Konsumsi temulawak, tumpas bakteri penyebab tuberkulosis
  2. Infeksi pada paru disebabkan oleh bakteri yang ditularkan lewat berbagai macam cara, terutama lewat udara. Saat bakteri berhasil   menginfeksi maka segera terbentuk koloni-koloni bakteri. Orang dengan daya tahan tubuh rendah seperti anak-anak dan lanjut usia cenderung lebih rentan terinfeksi
  3. Ciplukan dapat menjadi herbal pendamping temulawak untuk mengatasi infeksi pada paru
  4. Dr dr Nyoman Kertia SpPD Kr menyatakan temulawak dapat meningkatkan daya tahan tubuh
  5. Anak yang rutin mengonsumsi buah dan sayur cenderung memiliki kekebalan tubuh yang lebih tinggi

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img