Friday, August 12, 2022

Kupu-kupu Hilang dari Wajah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
dr Sukarto SpKPmengembangkantangguh yang dibawa dari Venezuela
dr Sukarto SpKP mengembangkan tangguh yang dibawa dari Venezuela

Daun untuk mengatasi rematik itu juga tangguh menghilangkan noktah cokelat di wajah.

Telepon berdering di kediaman dr H Sukarto SpKP. “Kondisi saya membaik,” kata sebuah suara di ujung telepon. Limabelas hari sebelumnya pemilik suara itu—sebut saja namanya Wulandari—datang ke klinik Sukarto di Cibinong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Ketika itu 2 tahun silam perempuan berusia di atas 40 tahun itu datang dengan berjalan tertatih karena rematik.

dr Dwi Ro Santi SpKK, kulit tetapsehat dengan tidur cukup—minimal 5 jam sehari—dantidak terekspos sinar matahari secara langsung
dr Dwi Ro Santi SpKK, kulit tetap sehat dengan tidur cukup—
minimal 5 jam sehari—dan tidak terekspos sinar matahari secara langsung

Sukarto lalu memberi 30 botol larutan masing-masing bervolume 30 ml berisi ekstrak daun tangguh Petiveria alliacea. Satu botol berisi 30 ml untuk konsumsi satu hari. Limabelas hari mengonsumsi sang pasien mengabarkan gangguan rematiknya berangsur mereda. Yang menggembirakan, tanpa diduga, wajah menjadi lebih cerah.  Sebelumnya wajah ibu dua anak itu berhias chloasma, noktah-noktah cokelat kehitaman.

Herbal Amerika tropis

Tangguh? Nama herbal tangguh memang belum  sepopuler tanaman obat lain. Tangguh—nama pemberian mendiang Presiden Suharto—tanaman introduksi dari Amerika tropis. Sukarto membawa benih tangguh dari Venezuela pada 1987. Dokter spesialis kedokteran penerbangan alumnus Institute of Aero Space Medicine, Amerika Serikat, itu menanam tangguh di halaman belakang rumah. Tinggi tangguh 50 cm, daun berbentuk lanset dengan tepi bergelombang, dan warnanya hijau tua mengkilap.

Untuk mengatasi keluhan rematik pasien, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Akupuntur Medik Indonesia itu mengambil daun tangguh, mengekstraknya, dan meramu menjadi cairan. Ramuan itulah yang Wulandari konsumsi untuk mengatasi rematik sekaligus menghilangkan noktah cokelat kehitaman di wajah. Menurut Sukarto tangguh bersifat antitumor, antivirus, dan mengatasi arthritis alias antiradang sendi. Oleh karena itu Sukarto memberikan ekstrak tangguh kepada pasien penderita benjolan yang tidak normal di tubuh, kejang-kejang di otot dan encok, penyakit akibat mikrob, dan diabetes mellitus.

Riset Uruena C dan rekan dari Grupo de Inmonobiologia y Bologia Celular, Facultad de Ciencias, Universidad Javeriana, Bogota, Kolumbia, mengungkap kemampuan ekstrak tanaman yang di Venezuela disebut mapurite itu menghambat pertumbuhan tumor pada sel manusia dan tikus uji. Kemampuan itu karena ekstrak anamo—nama lainnya—memicu apoptosis atau bunuh diri sel kanker.

NR Bueno dan rekan serta MR Duarte dan rekan dalam jurnal “Fitoterapia” mengungkap pemanfaatan tangguh itu sebagai obat tradisional antara lain sebagai diuretik, antispasmodik (pengendur otot yang kaku dan nyeri), analgesik, antiinflamasi (antiradang), dan imunomodulator. Gabriella Harriet Schmelzer dan Ameenah Gurib-Fakim dalam “Medicinal Plants 1 Plant Resources of Tropical Africa 11” menyebutkan di Amerika tropis rebusan daun anamu sebagai obat luar untuk mengatasi nyeri otot dan merawat penyakit kulit. Di Kuba daun atau seluruh bagian tanaman untuk mengatasi masalah kulit, arthritis, sakit gigi, dan diabetes mellitus.

Marcos Bosi Ferraz dan rekan seperti dinukil di laman Sielo Brazil menyebutkan tangguh populer sebagai obat antirematik dan kerap digunakan oleh pasien osteoarthritis untuk mengatasi nyeri (sebagai analgesik). Mereka melakukan uji terhadap 14 pasien dengan keluhan osteoarthritis di panggul dan lutut. Hasil riset menunjukkan keandalan tangguh mengatasi nyeri. Tanaman anggota famili Phylotaccaceae itu mengandung sulfur, flavonoid, triterpenes, dan steroid.

Kandungan sulfur membuat tangguh andal sebagai antibakteri dan antifungi seperti hasil riset Seokwon Kim dan Rabi A Musah dari Departemen Kimia, State University of New York, serta Roman Kubec dari Departemen Kimia, Univesitas South Bohemia, Republik Ceko. Sifat antibakteri dan antifungal biasa dikaitkan dengan masalah kesehatan kulit akibat infeksi bakteri seperti jerawat. Belum ada riset yang langsung mengungkap kemampuan tangguh mengatasi chloasma. Hingga kini Sukarto juga belum menguji duduk perkara tangguh mengatasi noktah di wajah. Beberapa herbalis pun belum mengenal tangguh alias singawalang.

Kupu-kupu wajah

Chloasma merupakan gangguan kesehatan di kulit berupa noktah cokelat kehitaman yang melebar menyerupai kupu-kupu. Biasanya chloasma terletak di bagian pipi. Menurut dr Willy Perdana SpKK dari dr Willy Skin Center di Jakarta hingga kini penyebab chloasma atau melasma belum diketahui secara pasti. Menurut Willy Perdana terdapat beberapa faktor pemicu munculnya kupu-kupu di wajah itu. Beberapa di antaranya sinar ultraviolet sinar matahari, hormon seperti estrogen, progesteron, dan MSH (melanin stimulating hormone).

Selain itu pemicu lainnya melasma adalah obat seperti difenil hidantoin, sitostatik, dan minisiklin, genetik, ras, dan penggunaan kosmetik yang mengandung parfum dan zat pewarna. Melasma menjadi ancaman bagi penduduk yang tinggal di daerah tropis, terutama perempuan usia subur yang kerap terpapar sinar matahari.

Menurut Willy kasus melasma paling banyak terjadi pada perempuan usia 30—40. Meski demikian terdapat pula kasus pada pria (10%). Pada wanita semakin muda dan semakin lama ia menggunakan kosmetik berwarna atau mengandung parfum, maka semakin cepat dan besar risiko terjadinya melasma. Apalagi jika yang bersangkutan kerap terpapar sinar matahari langsung tanpa pelindung seperti topi, payung, dan tabir surya.

Si kupu-kupu enggan hinggap jika kita menghindari faktor-faktor risiko itu. Keruan saja mesti dibarengi dengan perawatan kulit agar selalu lembap, memenuhi kebutuhan nutrisi dan vitamin tubuh, minum cukup air minimal 2 liter per hari. Jika melasma telanjur bercokol, maka biasanya dokter memberikan pengobatan topikal seperti hidrokinon, asam retinoat, asam azeleat; pengobatan sistemik dengan vitamin C dan glutation; pengelupasan dengan chemical peeling, dan bedah laser. Tujuannya untuk mengembalikan kulit menjadi sehat.

Dokter spesialis kulit dan kelamin di Rumahsakit Royal Taruma, Jakarta Barat, dr Dwi Ro Santi SpKK mendefinisikan kulit yang sehat ialah kulit yang tidak kusam, tidak banyak jerawat, flek, dan komedo, serta bercahaya sehingga seseorang terlihat cantik. Seorang pengusaha kosmetik berbahan alami menyebutkan kulit sehat salah satu indikator paling mudah dilihat untuk mendefinisikan kecantikan.

Jangan lapar

Menurut dokter ahli naturopati di Jakarta Barat, Riani Susanto ND, kulit yang bersinar ialah kulit yang ternutrisi dengan baik. Itu antara lain didapat dari konsumsi makanan bersifat basa seperti sayuran dan buah buah, dan air minum. “Proporsi konsumsi buah dan sayuran sebaiknya 60% dari total konsumsi,” tutur Riani. Dwi Ro Santi dan Riani sepakat radikal bebas seperti polusi, asap kendaraan bermotor, dan rokok serta konsumsi alkohol pemicu masalah kesehatan kulit seperti kulit kusam, cepat menua, kendur alias tidak elastis.

“Untuk menjaga kulit tetap sehat yang penting tidur cukup—minimal 5 jam sehari—dan tidak terekspos sinar matahari secara langsung,” kata Dwi Ro Santi. Menurut Riani kita tidak boleh tidur dalam kondisi lapar. “Karena ketika tidur tubuh kita melakukan perbaikan sel. Bila tidur dalam kondisi lapar membuat kita bangun dalam kondisi tidak segar dan penampilan kulit menjadi kusam,” tutur pemiliki klinik kesehatan B Klinik itu.

Masalah lain kulit ialah jerawat karena terdapat sebum (zat minyak) tersumbat sehingga  tidak bisa keluar atau disebut komedo. “Komedo yang meradang itu yang dinamakan jerawat,” kata Dwi Ro Santi. Penyebabnya antara lain makanan, kurang tidur, stres, paparan sinar matahari, pemakaian kosmetik, dan hormonal. Menurut Riani penggunaan bedak yang salah, misalnya, bisa menyebabkan komedo.

Bekas jerawat menyebabkan scar (kulit tidak rata) yang mengganggu penampilan. Begitulah pengalaman karyawati di sebuah perusahaan swasta di Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, Suci Puji Suryani. Bertahun-tahun jerawat menjadi musuh di wajah. Gangguan kesehatan kulit itu muncul tiap kali ia kurang tidur, ketika mendekati periode menstruasi, dan kulit wajah kotor. Setiap kali muncul, jumlahnya banyak. Jerawat pun meninggalkan bekas seperti bekas cacar di pipi, dagu, dan dahi.

Perempuan 47 tahun itu mengatasinya dengan facial. Menurut Riani ND facial mengangkat kulit mati dan mencegah komedo. Sayang, karena tidak rutin upaya itu gagal mengatasi masalah. Suci kemudian memakai produk perawatan wajah dari luar. Alih-alih jerawat hilang, kulit justru mengelupas dan memerah seperti udang rebus. Pada 2005 kelahiran Purwokerto 30 Juli 1965 itu berkenalan dengan herbalis asal Yogyakarta, Lina Mardiana.

Lina Mardiana kemudian memberikan satu paket perawatan wajah terdiri atas calir atau lotion flek, pembersih wajah, sabun, krim malam, dan krim siang. Lotion flek antara lain terbuat dari campuran daun sirih merah, ekstrak cacing merah, dan lendir siput pisang. Menurut Lina ekstrak cacing bekerja mengelupas kulit mati dan meregenerasi sel.

Sementara sirih merah mencegah peradangan kulit karena ada proses pengelupasan. Lendir siput bekeja melenturkan dan sebagai pemutih. Calir atau lotion dipakai pada malam hari berbarengan dengan krim malam. Krim mengandung lidah buaya  Aloe vera, rumput laut, menir beras, dan bengkuang. Sebelumnya Suci membersihkan wajah dengan sabun sebelum mandi. Sabun madu dan sirih misalnya bekerja menggerus flek. Menurut Lina flek terjadi karena adanya penumpukan kulit mati.

Sesudah mandi barulah ibu 3 anak itu menggunakan pembersih mengandung lidah buaya, kulit jeruk lemon, dan ekstrak cacing merah yang berkhasiat antikeriput dan mencegah jerawat. Pada pagi Suci menggunakan krim siang tipis-tipis di wajah. Tiga bulan berlalu jerawat membandel mulai mengempis dan menghilang, flek pun terlihat menipis. “Bopeng-bopeng di wajah benar-benar hilang setelah 3 tahun rutin perawatan,” kata Suci yang kini wajahnya terlihat sehat berseri, bersih, halus, dan bebas jerawat.

Minyak perawan

Pengalaman empiris membuktikan banyak bahan alami berkhasiat mempertahankan kesehatan dan kecantikan kulit. Tari Surardjo memilih menggunakan resep warisan nenek moyang berbahan minyak kelapa murni. “Minyak kelapa sudah terbukti baik untuk merawat kecantikan. Misal minyak cemceman yang terbukti melebatkan rambut,” tutur kelahiran Yogyakarta itu.

Setiap kali hendak bepergiaan Tari mengoleskan krim atau calir (lotion) minyak perawan (virgin coconut oil, VCO) ke seluruh anggota tubuh. Ia juga memulaskan krim wajah sekaligus tabir surya berbahan VCO. Setidaknya dua kali dalam sepekan perempuan berkulit putih itu melakukan scrubbing untuk mengangkat sel kulit mati dengan krim scrub berbahan VCO. Sepulang dari bepergian perempuan yang belajar cara memproduksi produk kecantikan ke Australia itu membersihkan make up dan kotoran dengan kapas yang dibasahi dengan VCO.

Ia melakukannya sembari memijat wajah. Tengoklah hasilnya. Ibu dua putra yang sudah dewasa itu terlihat awet muda dengan kulit yang kencang, sehat, dan cerah. Wajahnya pun mulus. “Padahal saya dulu banyak jerawat,” katanya.

Menurut Tari khasiat VCO tidak kalah dengan minyak zaitun yang populer di dunia barat untuk merawat kesehatan tubuh. Rininta Sari dan Budi Permadi Iskandar dari Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung meriset kemampuan body balm berbahan VCO dibandingkan body butter merek tertentu. Mereka menggunakan metoda blind-test dengan 98 responden. Parameter yang diukur adalah sensasi setelah berkeringat, kelembapan di area kulit kering, kemampuan serap, dan bau setelah penggunaan.

Riset yang dilakukan sepanjang Juni—Agustus 2012 di Jakarta dan sekitarnya itu menunjukkan produk berbahan VCO bekerja lebih baik, tidak terlalu lengket dan licin di kulit, serta menyerap ke dalam kulit dengan sempurna. Penyerapan lebih cepat sehingga efek melembapkan kulit kering lebih terasa.

Bahan alami lain yang terbukti baik untuk kesehatan dan kecantikan kulit ialah kulit manggis. Mulika Traidej Chomnawang dan rekan dari Fakultas Farmasi, Universitas Mahidol, Thailand meriset kulit manggis mampu menghambat pertumbuhan bakteri, penyebab jerawat. Bukti empiris dan riset ilmiah bahu-membahu membuktikan khasiat bahan alami untuk merawat kecantikan.  (Evy Syariefa/Peliput: Andari Titisari & Pressi Hapsari)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img